Home / PROSA / Firstiana Annisa (bagian lima)

Firstiana Annisa (bagian lima)

Bagian Lima

Beruntung orang tuaku tinggal di Jambi Kota, segala kemudahan dan fasilitas yang cukup. Rumah orang tuaku cukup besar dengan pekarangan yang luas. Ada taman dengan kolam ikan kecil di sudut pekarangan. Mama dan Papa masing-masing memakai mobil yang cukup berkelas. Tak henti-hentinya aku mengucap syukur dengan kehidupanku. Aku tidak bisa membayangkan jika aku seperti Aisyah, teman sebangkuku di SMA. Aisyah yang bukan asli Jambi harus berjuang di tengah-tengah orang Melayu yang jauh berbeda dengannya.

“Annisa, ini buatmu.”

Perempuan tinggi kurus berseragam dan berkerudung yang sama denganku tersenyum sambil menyodorkan toples plastik berisi mustofa kesukaanku. Entah bagaimana asal-usul balado keripik kentang ini dinamai mustofa. Setahuku mustofa adalah nama orang dengan menggunakan bahasa Arab yang berarti Maha Agung. Mustofa buatan Bu Sri, ibunya Aisyah, dilengkapi dengan kacang tanah dan teri goreng. Rasa manis, asam, pedas, dan gurih menyatu dalam karyanya yang penuh cinta untuk anaknya.

“Alhamdulillah, akhirnya penantiaku berahir hari ini, hahaha…” Ucapku sambil memegang erat mustofa.

“Hei pujangga kesiangan! Kali ini gratis tis tis…” Aisyah mencolek hidungku dengan ujung telunjuknya.

“Enggak mau ah! Itu kan dagangan Ibumu.” Aku berusaha mengembalikan mustofa kepada Aisyah, tapi Aisyah menolaknya.

“Eh jangan nolak rejeki gitu deh! Ibu sengaja bikin edisi gratis buat kamu. Selanjutnya baru bayar lagi. Gimana?”

“Oke oke aku terima, makasih ya. Sampein ke Ibu, makasiiih buanget.”

“Nah gitu dong. Aku masih inget waktu Bu Henidar menceritakan pengalamannya waktu ibadah haji. Sekali waktu dia ditawari kue sama orang Nigeria dan ditolaknya dengan alasan dia kenyang karena baru sarapan. Waktu itu dia memang sedang di mengaji selepas duha di Masjid Al Aqsa. Eh yang biasanya dia tidak kekurangan makanan, setelah menolak kue itu tak ada seorang pun yang menawarinya lagi bahkan ketika haus sekalipun selama seharian penuh.”

“Masyaallah sampai seperti itu ya.” Ucapku sambil melongo. Kumasukkan toples mustofa ke dalam tasku. Kami segera memasuki kelas sepuluh A yang berada di sudut depan lapangan basket. Aku tahu uang hasil penjualan mustofa sangat berarti buat Aisyah, tapi aku tidak mau menyinggung perasaan mereka. Aku pasti menemukan cara untuk mengganti mustofa gratis ini.

Aisyah tinggal di rumah majikan orang tuanya di Jambi yaitu Pak Hasan dan Bu Henidar yang menjadi guru matematika di sekolah kami. Orang tuanya tinggal di Riau di sekitar perkebunan sawit sang majikan yang dikelolanya. Rumahnya benar-benar di kebun sawit! Mereka tinggal di rumah kayu di jalur tiga. Tanpa ada penerangan PLN menyentuh mereka. Mesin generator akan menina bobokan mereka di malam hari dengan bahan bakar yang jauh lebih mahal dibanding dengan membayar biaya listrik atau token bulanan. Mereka matikan generator itu di siang hari untuk menghemat biaya. Hanya dinyalakan sesekali jika diperlukan. Kakaknya Aisyah, Wahyu, tinggal di Merlung yang berjarak sekitar enam puluh kilo meter dari rumahnya. Dia tinggal di mess perusahaan sawit milik orang Jakarta tempatnya bekerja. Wahyu hanya tamatan SMP, tapi dia sangat supel dan disukai banyak orang. Tak heran jika dia gampang menemukan pekerjaan meskipun harus kerja berat.

Pak Hasan dan Bu Henidar mempunyai kebun sawit seluas sepuluh hektar. Upah yang diberikan mereka kepada orang tua Aisyah dengan bagi hasil. Meskipun terkadang kurang adil tapi mereka lalui dengan ikhlas. Panen adalah hal yang paling mereka tunggu dengan hati senang sekaligus cemas. Senang akan mendapat rejeki atas kerja kerasnya dan cemas jika hasilnya jelek atau harganya turun. Mereka tetap bersyukur dengan apa yang mereka dapat. Dengan tinggalnya Aisyah di rumah majikannya itu sudah lebih dari cukup. Mereka senang anaknya bisa bersekolah di tempat yang bagus tanpa harus memikirkan biaya, tempat tinggal, dan makan.

Gilang adalah anak pasangan Pak Hasan dan Bu Henidar. Dia setahun lebih tua dari Aisyah yang juga menjadi kakak kelas di sekolah kami. Gilang terbilang bersahabat baik dengan Aisyah, pun dengan orang lain. Berbeda dengan ibunya yang lumayan sombong dengan dandanan sosialita menggunakan tas dan sepatu branded. Sikapnya yang otoriter membuat hampir semua siswa tidak menyukainya. Menurut cerita, Gilang hanya anak angkat dari saudara dekat Pak Hasan. Meskipun mereka tinggal di rumah yang sama tapi tak pernah Aisyah pergi pulang bersama dengan mereka. Jika Bu Henidar selalu menggunakan sedannya, Aisyah memilih dibonceng Gilang dengan motor maticnya.
Senyum Aisyah selalu menghiasi wajah bulat dan mata belonya. Dia selalu menyimpan rapi segala gundahnya. Bahkan ketika aku gelisah menunggunya digerbang sekolah karena dia datang terlambat. Gilang datang sendirian. Ketika kutanya, Gilang hanya mengatakan kalau Aisyah sedang di tempat foto kopi. Nafasnya terengah-engah begitu sampai. Keringatnya memenuhi keningnya.

“Kenapa telat? Kata Gilang, kamu ke foto kopian dulu, ngapain?”

“Oh…emmm ya…ya…aku ke sana dulu. Bentar-bentar, aku narik nafas dulu.” Ucapnya sambil menarik nafas dan menghembuskannya kuat-kuat.

“Aku bangun kesiangan hari ini he..he…jadi aku telat, padahal aku harus ngambil kopian Ibu, nih.” Jelasnya sambil memperlihatkan kertas-kertas dalam map plastik biru.

Ada ketidakjujuran dalam ucapannya kali ini. Aisyah menarik lenganku setengah menyeret. Bel berbunyi pas ketika kami tiba di depan kelas. Suasana pas bel masuk berbunyi sanggat berantakan. Ada yang melenggang dengan tenangnya, ada yang buru-buru seperti kami, ada pula yang pasrah tidak diizinkan Pak Tigor satpam sekolah kami. Mereka akan masuk setelah bel jam pelajaran kedua berbunyi.

Tubuh tinggi, tegap, dengan kumis tebal mirip Adam Suseno suami sang ‘ratu ngebor’ Inul Daratista itu mampu merontokkan keberanian mereka. Jangankan menatap matanya, menjawab pertanyaannya pun terkadang gelagapan. Logat Bataknya kental meskipun sudah hampir lima tahun dia bekerja di sini. Meski begitu Pak Tigor tetap saja disukai anak-anak karena sifat penolong dan dermawannya. Tak jarang dia menunggui siswa yang telat dijemput atau bahkan memberinya uang receh sekedar untuk ongkos siswa yang kehabisan uang saku.

“Hei! Kenapa kau belum juga pulang? Sudah jam lima ini.”

“Aku nunggu dijemput, Pak. Hari ini Mamaku sengaja mau jemput tapi macet katanya.”

“O…begitu. Bapak temani saja kau di sini anak cantik.”

“Makasih, Pak.”

“Kamu Annisa kelas sepuluh kan?” Tanyanya dengan suara yang bersahabat, berbeda dengan suara menakutkan di pagi hari.

“Iya, Pak.”

“Eh…kau anak pak Abdullah sang pengusaha terkenal itu kan?”

“Ah Bapak, biasa aja ko, Pak. Papa saya orang biasa aja.”

“Aku sering dengar kalau bapakmu itu pengusaha sawit yang sangat baik dan dermawan. Makanya meskipun Bapak ini bukan seorang pengusaha seperti bapakmu, Bapak mau membantu apapun yang bisa Bapak lakukan dan siapapun yang perlu bantuan. Materi dan tenaga bagi Bapak sama saja selama dilakukan dengan ikhlas.”

“Wah bener itu, Pak. Saya juga ingin seperti Papa dan pastinya aku bangga dengannya.”

Setengah jam berlalu tanpa terasa sampai Mama membunyikan klaksonnya kepadaku. Aku berpamitan kepada Pak Tigor. Banyak makna hidup yang bisa kuambil darinya . Berbuat baik kepada siapa saja tanpa pamrih adalah prinsipnya. Meski hidupnya kurang beruntung, tapi mengeluh sepertinya hal yang paling dihindarinya. Bersyukur. Hidup berdua dengan istrinya di rumah kecil di dekat sekolah tanpa anak. Baginya semua siswa di sekolah adalah anak-anaknya. Allah menakdirkan mereka berdua tidak mempunyai anak kandung tapi mereka dikelilingi begitu banyak anak. Bu Sofiyah berjualan di kantin sekolah. Dengan bekal ilmu tata boganya, Bu Sofiyah menjual makanan yang enak dan higienis. Pesanan snack dan nasi kotak pun sering dia terima untuk berbagai acara.

Bu Sofiyah sebenarnyaa asli Tegal, dia ikut datang ke Jambi atas ajakan teman orang tuanya yang bertransmigrasi di tahun 90-an. Di era itu memang masih banyak orang yang mengadu nasib dengan bertransmigrasi. Dimodali dengan sebidang tanah dan tempat tinggal dari pemerintah, transmigran ini diharapkan bisa mengelola lahan dan tetap menetap tanpa harus kembali lagi ke kampung halaman jika sudah berhasil. Ada yang berhasil, banyak juga yang menyerah degan kesepian, ketidaknyamanan, dan keterbatasan fasilitas. Jangan bandingkan keadaan Jawa dengan Jambi, itu adalah dua tempat yang sangat berbeda.

Aisyah dan Bu Sofiyah adalah contoh transmigran yang bertahan, bukan berhasil. Bertahan dengan segala tantangannya. Ada gula ada semut, di mana pun bumi kita pijak, rejeki kita pasti ada dengan serangkaian doa dan usaha yang tiada henti. Allah senantiasa menyediakan rejeki yang menanti dan siap digali di mana saja karena Allahlah yang mengusai langit dan bumi.

Check Also

Firstiana Annisa (bagian dua belas) oleh: Tinov

Bagian dua belas 12.45 pesawat yang membawaku sampai di Dubai International Airport pada terminal yang …

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of

Tanya Situ Seni

)
    is typing...

    Fill in the form below to send us a message.

    Send Message Cancel