Home / ARTIKEL / NADA YANG MENYENDIRI

NADA YANG MENYENDIRI

Oleh Doddi Ahmad Fauji

 

Membaca biodata Dedi Tarhedi, imajinasiku berke-lana ke suatu dayeuh yang jauh, di mana penyair Ibrahim Sattah bersua Sutardji Calzoum Bachri yang sedang pulang kampung ke Tanjungpinang. Apa yang mereka bincangkan pada perjumpaan di tahun 1970 itu?

Kuduga, perbincangan menukik pada puisi. Paska pertemuan itu, puisi-puisi Ibrahim Sattah yang berjudul Tien Marni, Tempias, dan Tarempa disiarkan Horison– majalah sastra paling berwibawa di negeri kita hingga era reformasi bergulir. Setelah itu,  Horison kehilangan tuah dan tak lagi menjadi “kawah candradimuka”.

Ketika suatu malam di Taman Ismail Marzuki (TIM) Sutardji mengatakan kepadaku, ia memberikan catatan-catatan pada puisi IS dalam pertemuan itu, aku mempercayainya. SCB memang lebih senior dari IS. SCB lahir pada 1941 dan IS tahun 1945. Pada tahun 1970 itu, jelang pertemuan itu, SCB telah menjadi Redaktur Horison pula. SCB memang bukan sekedar penyair, tapi juga guru teladan bagi mereka yang mau berguru. Esai-esai SCB di berbagai media massa, tampak eduktif dan pedagogis. Aku juga pernah menerima petuah-petuahnya menganai puisi. Thanks suhu!

Hatta, Ibrahim Sattah yang polisi– di mana amat jarang aparat mengapresiasi karya sastra apalagi menjadi penyair serius, kemudian dikenal publik sastra sebagai penyair avant-garde. Sewaktu membaca puisi-puisi Ibrahim untuk kali pertama, sekira tahun 1992, aku belum tahu Ibrahim itu aparat polisi. Sekarang aku ingin mengatakan, Ibrahim Sattah adalah satu-satunya polisi di muka bumi yang menulis puisi dengan gemilang. Tak tertandingi.

Aku senang bila para aparat dan pejabat publik menulis puisi dengan sungguh-sungguh, bukan sekedar live service. Aku bangga memiliki pejabat yang berkesenian dari hati, dan bukan untuk pemilu. Aku kagum dramawan Vaclav Havel menjadi Presiden Cekoslowakia. Betapa menderas rasa hormat kepada Putra Sang Fajar, karena ia menulis naskah drama dan menjadi sutradara sebelum menjabat Presiden RI. Setelah menjabat Presiden, Bung Karno mulai belajar melukis secara privat kepada Dullah, salah satu pelukis Istana. BK begitu dekat dengan para pelukis seperti dituturkan kepadaku oleh pelukis Barli Sasmitawintata dan Sudarso (keduanya almarhum). BK kemudian mengangkat pelukis Hendrik Hermanus Joel Ngantung atau yang lebih dikenal dengan nama Henk Ngantung sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 1964-1965.

Aku juga menaruh tabik kepada penyair Juniarso Ridwan yang di waktu awal hanya kukenal sebagai penyair dan Ketua Forum Sastra Bandung (FSB). Ternyata ia menjabat Kepala Dinas Tatakota Bandung. Sungguh elok penyair Suryatati A. Manan bisa menjabat Walikota Tanjungpinang.

Ketika para pejabat berkesenian dari dalam hati, atau ketika seniman menjadi pejabat publik, intuisiku mengatakan, ada harapan di sana, menuju pencerahan. Memang tidak semua seniman bisa jadi pejabat yang baik ketika ia menjabat, tapi semoga jadi mayoritas.

Dan kini kita memasuki era konvergensi teknologi yang amat mutahir, juga ditemukan aneka situs jejaring sosial macam facebook. Aku berterima-kasih kepada Mark Zuckerberg, karena telah memper-temukanku dengan sekian pencipta di dunia maya, macam penulis puisi dengan akun “Om Dedi Tarhedi”. Kucoba menyapanya. Dapat balasan, lalu kami berinteraksi secara intens, hingga membincangkan keinginan Om Dedi untuk membukukan puisi-puisinya yang berserak di FB. Ia menilai Gusjur Mahesa berani membukan puisi-puisinya dalam antologi “Mending Gelo daripada Korupsi”. Sepertinya Om terprovokasi oleh Gusjur.

Lalu ia mengirimkan puisi-puisinya via email, dan kupelajari. “Puisi-puisi Om layak untuk dibukukan,” kataku.

Aku pun melakukan koreksi untuk typo yang kutemukan. Aku meminta foto-fotonya, juga biografi singkatnya. Di bagian akhir biodata itu, kutemukan hal menarik, ternyata ia mantan Lurah Nagarawangi di Kota Tasikmalaya, dan saat buku ini dirancang, tengah menjabat Sekretaris Camat Tamansari, Kota Tasikmalaya. Dilihat dari keterlibatannya pada dunia puisi, Om Dedi menulis puisi bukan karena ia menjadi pejabat di pemerintahan. Ia berpuisi jauh sebelum duduk di barisan clerk, jadi ia berkesenian tidak dengan maksud mengumpulkan modal untuk pencitraan.

Ia berpuisi sedari SD hingga kini, walau sempat stagnasi ketika melaksanakan dinas di Timor-Timur (Timor Leste). Mudah-mudahan ia terus berpuisi seperti yang dijanjikannya dalam puisi berjudul “Puisi Adalah Kerja Itu Sendiri”: Aku selalu berharap banyak dari/ puisi yang kutulis/ entah untuk kini atau nanti/ Entah akan basi atau punya isi/ tapi aku terus menulis sepanjang/ hari– seperti petani menanam padi//.

Tahun 2016 ini Om Dedi berusia 50 tahun. Pensiun PNS rata-rata pada usia 60 tahun. Terbentang peluang untuknya menjabat Camat atau Kepala Dinas, atau lebih dari itu. Dunia perpuisian khususnya di Tasikmalaya, berharap kepada Dedi akan diperhatikan dengan bukan sekedar.

Catatan ini tidak untuk menelisik puisi-puisi Dedi Tarhedi secara menukik hingga ke undak-usuk dan seluk-beluknya. Tapi ingin kukatakan, di Tasik terdapat penyair Acep Zamzam Noor yang dalam biografi di bagian akhir buku ini juga disebutkan, kembalinya Dedi menulis puisi karena bersentuhan dengan Acep. Tapi Dedi Tarhedi bukan Acepian. Padahal di Tatar Periangan, banyak penyair yang pada titik keberangkatnya kerap menerima pengaruh dari perpuisian Acep. Dalam buku ini, tak nampak jejak Acep.

Dedi tampaknya lebih sebagai pengagum WS Rendra. Dua judul puisinya dalam antologi ini jelas-jelas memuja seorang Rendra. Meski demikian, dari bentuk puisinya, Dedi bukanlah Rendrais. Ia telah sampai pada nada dan prosedur ucap tersendiri dalam berpuisi. Namun sebagai warga Priangan, di mana pada umumnya penyair yang bermukim lama di Priangan, cenderung mengimani puisi-puisi liris untuk mengutarakan kepedihan. Lirisisme itu memang terasa juga pada bait-bait sajak Dedi Tarhedi.

Kepedihan bukan milik penyair belaka. Kepedihan adalah milik siapapun yang hidup dalam ketertindasan, baik tertindas oleh cinta maupun tertindas oleh kekuasaan, dan lain-lain. Penyair kemudian menyuarakan kepedihan tersebut dalam larik-larik sajaknya. Penyair adalah seniman, dan diyakini sepanjang masa, seniman adalah saksi jaman. Bila banyak penyair di Priangan menyuarakan hati yang lara, itu jadi petanda bahwa ada penindasan atau kebohongan yang amat-sangat di Jawa Barat.

Tentu saja bukan hanya penyair Jawa Barat yang gemar memilih diksi-diksi kemurangan. Para penyair Indonesia, terutama di era Orde Baru, galibnya menyuarakan kemurungan atau kema-rahan. Hal itu tertangkap oleh para profesor dan mahasiswa yang mempe-lajari kebudayaan Indonesia di Rusia. Pada seminar tahun 2014 tentang budaya Indonesia di Sanggar Nusantara, Moscow Goverment University, salah seorang profesor bertanya kepadaku selaku narasumber, mengapa para penyair Indonesia cenderung memilih diksi-diksi yang bernada kemurungan?

Kujawab, para penyair Indonesia sedang menyuarakan kemu-rungan yang dialami oleh mayoritas kolektif. Ini jadi petanda, bahwa bangsa Indonesia masih terjajah, yang membuatnya seakan kekal hidup dalam derita. Dalam antologi ini, Dedi juga menyua-rakan kemurungan dan keterjajahan yang dialami masyarakat.

Dedi Tarhedi juga menyuarakan ketidak-selarasan antara das solen dan das sein dalam soal amour. Tetapi puisi adalah simbolik, sehingga amour dalam puisi-puisi Dedi ini bersifat prismatis yang memancarkan sekian gema. Cinta bukan hanya dialamatkan kepada lawan jenis, tapi juga secara verfikal kepada sang Kausa Prima. Maka dalam antologi ini terbaca juga gelegak spiritual yang didedahkan sang penyair selaku mahluk yang tak luput dari hilaf.

Tenaga spiritual tentunya juga membimbing manusia untuk membela keadilan dan memperjuangkan kebenaran. Aspirasi yang muncul dari mereka yang selalu dibimbing muruah spiritual, tentulah berupa kiritik atas segala ketimpangan. Dalam antologi ini, beberapa puisi Dedi Tarhedi membentangkan garis demarkasi antara hal-hal yang semestinya dengan hal-hal yang timpang. Dan ia, tentu berada di quadran hal-hal yang semestinya, sewajarnya. ***

 

Bandung, 2016

Check Also

Khasiat Tembakau Nusantara

Anda boleh saja anti rokok dan membenci para perokok, tetapi harus berpikir lain tentang tembakau, …

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of

Tanya Situ Seni

)
    is typing...

    Fill in the form below to send us a message.

    Send Message Cancel