Home / PROSA / BANGKU KOSONG karya Wiwin Damayanti

BANGKU KOSONG karya Wiwin Damayanti

Setelah sampai rumah untuk shalat, makan siang dan rehat sejenak. Pak Hari harus bergegas kembali ke sekolah untuk mengajar tambahan, eskul English Club anak-anak kelas 8.

***

Sesuai jadwal, tepat pukul 14 siang Pak Hari sudah berada di sekolah, ia segera masuk ke ruangan kelas. Pak Hari nampak senang, rupanya anak-anak tidak terlambat seperti biasanya, mereka sudah duduk di bangku masing-masing.

“Good afternoon my dear students, thanks for being punctual today, good job.”
Pak Hari menyapa mereka dengan senyum dan acungan jempol.

“I’m going to call the roll first.”
Pak Hari melanjutkan sembari membuka tempat buku dan mengeluarkan daftar hadir.

24 siswa menjawab “present”, tersisa satu nama dengan abjad terakhir.

“Wini.”
Pak Hari kembali mengabsen. Matanya melirik ke bangku Wini, siswa kelas 8 C yang duduk sendiri di baris paling belakang. Terlihat anak itu hanya menganggukan kepala. Pak Hari tak ambil pusing, segera menulis tanda ceklis pertanda hadir.

“She is absent Sir.”
Kata Riky siswa kelas 8 A yang duduk sebangku dengan Rama teman sekelasnya.

“Yea, she is not here. There’s no letter Sir.”
Rama menambahkan.

Anak-anak lainnya merasa sebal mendengar jawaban Riky dan Rama. Riky dan Rama terkenal iseng, kepo, jahil pada teman-temannya.

“Kalian tuh ya iseeeeeng mulu, yang hadir kok dibilang alfa. Kan Pak Guru lagi ngabsen serius.”
Celetuk Ratna kelas 8 D

“Don’t be noisy!”
Pak Hari menenangkan.

Riky dan Rama saling pandang, seketika kelas menjadi hening.

“Memang anak dua ini selalu saja iseng, jelas-jelas bangku Wini tidak kosong.”
Batin Pak Hari.

***

Pukul 15:30 kegiatan pembelajaran diakhiri. Setelah menyalami Pak Hari, anak-anak berhamburan keluar kelas. Pak Hari sendiri tidak langsung meninggalkan kelas, ia masih harus menyelesaikan rekapitulasi nilai anak-anak tadi.

Tetapi ada pemandangan yang tak biasa. Wini yang selalu pulang bersama-sama dengan temannya. Kini dilihatnya anak itu masih duduk di bangku. Tatapannya kosong, tangannya mengepal sesuatu.

“Wini, kenapa belum pulang nak?”
Tanya Pak Hari penasaran.

Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Wini. Namun tiba-tiba dia menangis, kemudian melemparkan sesuatu ke belakang pintu. Sesuatu dari tangannya yang sedari tadi dikepal.

Pak Hari kaget, sontak menghentikan pekerjaannya dan berniat menghampiri anak itu. Namun baru saja hendak mendekat. Dengan hitungan detik tubuh Wini lenyap dari pandangan Pak Hari.

Pak Hari semakin kaget, jantungnya hampir copot. Kalau saja dia bukan laki-laki mungkin dia sudah terkulai tak sadarkan diri, atau mengambil langkah seribu.

Pak Hari mencoba tenang, mengucek-ngucek kedua matanya, apakah yang dilihatnya nyata.

“Kemana Wini? kenapa dia menghilang seperti han…”
Ucapan Pak Hari belum selesai, sudah terdengar ada yang masuk.

***

“Pak … anu Pak… anu… anu…”
Riky dengan nafas tersengal-sengal mencoba menyampaikan sesuatu.

“Ada apa Ricky, Rama? Mengapa kalian belum pulang, malah balik lagi ke kelas?”

“Maaf Pak, kami tadi sudah berniat pulang. Namun di jalan kami melihat kerumunan orang, kami penasaran dan melihatnya. Ternyata… ternyata ada kecelakaan tabrak lari Pak, seorang anak berseragam SMP sudah tak bernyawa, bersimbah darah tertabrak mobil. Dan, anak itu… anak itu…anak itu… adalah… Wi… Wi… Wini Pak.”
Rama menjelaskan terbata-bata, dia menangis histeris begitupun dengan Ricky.

Betapa terkejutnya Pak Hari.
“Wini…
Inna lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun wa innaa ilaa rabbinaa lamunqalibuun allaahummaktubhu ‘indaka fil muhsinien waj’al kitaabahu fii’illiyyiin wakhluf fii ahlihii fil ghaabiriin.”

Suara Pak Hari sayup-sayup terdengar oleh Riky dan Rama yang masih menangis.

Kemudian Pak Hari teringat, tadi Wini melemparkan sesuatu. Segera Pak Hari berlari ke belakang pintu. Pak Hari menemukan gulungan kertas, dengan tangan gemetar Pak Hari membukanya, tulisan Wini begitu jelas bertinta darah
“D. 1657.UH.”

Pak Hari terduduk lemas, tak dapat berkata-kata, jantungnya serasa berhenti berdetak, aliran darahnya serasa tak mengalir. Itu adalah plat nomor mobil miliknya yang sedang dipinjam saudaranya.

Cililin, 31032018 (14:52)

Check Also

Firstiana Annisa (bagian dua belas) oleh: Tinov

Bagian dua belas 12.45 pesawat yang membawaku sampai di Dubai International Airport pada terminal yang …

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of

Tanya Situ Seni

)
    is typing...

    Fill in the form below to send us a message.

    Send Message Cancel