Home / ARTIKEL / BENDA-BENDA, BAHASA, DAN KALA: Mencari Simetri Tersembunyi dalam Teman-Temanku dari Atap Bahasa Karya Afrizal Malna

BENDA-BENDA, BAHASA, DAN KALA: Mencari Simetri Tersembunyi dalam Teman-Temanku dari Atap Bahasa Karya Afrizal Malna

 

Oleh Tia Setiadi

 

At the basis of all writing lies the picture.Just as speech develoved out

of imitation of sound, so writng develoved out of imitation

of the forms of real objects or beings

 

( I. J.Gelb, A Study of Writing, Routledge&Kegan Paul, 1952)

 

The nature of poem is analogous to that Fiesta which, besides being a date in the calender is also a break in the sequence of time and the irruption of a present which periodically returns

without yesterday or tomorrow. Every poem is a Fiesta, a precipitate of pure time

 

(Octavio Paz , Poetry and History, Penguin Books, 1979)

 

 

/1/

Tampaknya tak ada seorang pun di antara penyair modern, yang menyamai Walt Whitman dalam antusiasme dan optimismenya menyambut alaf industrial serta pelbagai penemuan teknologi baru. Dengan bergelora Whitman menggubah sajak-sajak yang memuja kereta api, merekam keriuhan suara roda-roda di jalan raya, bernyanyi bersama mesin-mesin pabrik yang mengaum, atau mengelukan kapal-kapal akbar yang datang dan pergi di pantai-pantai Amerika. Whitman juga bermadah tentang kerinduannya akan demokrasi, kebebasan, dan menyingsingnya zaman keemasan buat orang-orang Amerika. “I hear America singing, the varied carols I hear”, kata Walt Whitman dalam salah satu himne sajaknya yang sangat terkenal.

Whitman memang hidup di suatu masa ketika kemajuan di bidang industri dan teknologi berlangsung dengan sangat intensif dan mencengangkan, yakni pada sekitar medio hingga penghjung abad sembilan belas. Suatu masa yang ionosfernya sarat oleh orakel dan harapan dan janji-janji menggembirakan yang dibawa modernitas. Manusia kian percaya akan kedaulatan dan superioritasnya di hadapan alam, ia juga kian percaya bahwa akal budi akan mampu memandunya dalam mengemudikan laju kereta peradaban. Antroposentrisme dan egotisme pun menggelembung dan menjadi gejala yang meruyak dikalangan orang-orang Barat, terutama orang-orang Amerika.

Antroposentrisme dan egotisme yang menggelembung. Inilah pula yang menguar dari sebahagian besar sajak-sajak Walt Whitman. Bacalah misalnya sajak masterpiecenya yang bertajuk Song of My Self: sebuah ode sepanjang lima puluh dua bait yang tak henti-henti merayakan dan menyanyikan dirinya sendiri, mengembangkan egonya hingga mencakup aneka manusia, pepohonan, cakrawala, pantai-pantai, kota-kota, bahkan sejarah dan benua Amerika. Whitman ingin menjadikan egonya mekar sebesar “ego universal”, yang merangkum dan menampung segalanya. Dengan begitu, tak berlebihan kiranya bila dikatakan bahwa dalam sajak-sajaknya kita bisa menemukan biografi Amerika menyisip dalam biografi Walt Whitman.

Kini, sudah seabad lebih sejak Whitman mendendangkan sajak-sajaknya. Semenjak itu, dunia telah beralih wajah dengan begitu lekas: kemajuan industri dan  teknologi memang menciptakan kemudahan dan kelimpahan materil yang luar biasa, namun bersamaan dengan itu mencuat pula ekses-ekses buruknya yang menerbitkan aneka mala dan miasma: polusi, terkurasnya kekayaan alam, keserakahan dan kompetisi yang mengerikan, kriminalitas, kolonialisme, perang, berdirinya kamp-kamp konsentrasi. Inilah abad yang berlari, inilah dunia yang lepas kendali. Inilah “kedatangan kedua”, sebagaimana dinujum dengan tepat oleh penyair raksasa dari Irlandia, William Butler Yeats: sang elang (peradaban modern?) yang menggasing dan berpusing tak tentu tuju dalam spiral yang terus membesar, sudah tak mampu lagi mendengar pawangnya (akal budi?), sehingga:

 

Segala sesuatu tercerai berai;

pusatnya tak mampu menahan;

Hanya anarki yang lepas ke dunia

 

(W.B. Yeats “The Second Coming”)

 

 

Optimisme yang menyala dalam sajak-sajak Whitman kini redup sudah, egotisme yang menggelembung dalam bait-baitnya kini kempis sudah. Para pendendang dalam sajak-sajak Whitman segara diganti oleh suara-suara takziah dari para penyair kontemporer. Peradaban modern telah gagal memenuhi janji-janji dan nubuatnya sendiri. Pusat sudah tak mampu lagi menahan. Manusia ternyata bukan subjek yang kukuh dan berdaulat, nalar dan akal budi tak bisa lagi menjadi satu-satunya kompas. Kini kita menyadari, dengan maysgul—dan sudah terlampau kasip, sebenarnya—bahwa manusia hanyalah seserpih kata benda dalam sistem tata surya bahasa dan galaksi benda-benda, seperti dengan baik dilukiskan dalam sajak Warisan Kita” yang ditulis seorang penyair Indonesia mutakhir, Afrizal Malna, di sekitar tahun 1989:

 

Bicara lagi kambingku, pisauku ladangku komporku,

rumahku, payungku, gergajiku, empang ikanku, genting

kacaku, emberku, geretan gasku.Bicara lagi cerinku,

kampakku, meja makanku, alat-alat tulisku, gelas

minumku, album foto keluargaku, ayam-ayamku,

lumbung berasku, ani-aniku

 

Bicara lagi suara nenek-moyangku, linggisku,

kambingku, kitab-kitabku, piring makanku, pompa airku,

paluku, paculku, gudangku, sangkar burungku,

sepedaku, bunga-bungaku, talang airku, ranjang airku.

bicara lagi kerbauku, lampu senterku, para kerabat-

tetanggaku, guntingku, pahatku, lemariku, gerobakku,

sandal jepitku, penyerut kayuku, ani-aniku.

 

Bicara lagi kursi tamuku, penggorenganku, tembakauku,

penumbuk padiku, selimutku, baju dinginku, panci

masakku, topiku. Bicara lagi kucing-kucingku.pisau

 

 

Lihatlah:sang aku dalam sajak ini bukan lagi subjek perkasa (Res Cogitans) yang punya otoritas mendefinisikan dan menjadi episentrum bagi segala ikhwal, melainkan sekedar seperti bayang-bayang yang terselip sayup-sayup di antara kontelasi benda-benda atau suara tetumbuhan dan hewan-hewan yang ingar bingar. Antropomorfisme mengalami defisit yang luar biasa di sini, berkeping-keping bagaikan jambangan yang pecah. Si aku mesti mengumpulkan kepingan-kepingan itu untuk menyusun biografinya sendiri, mungkin dengan rasa sakit dan tanpa janji akan keutuhan. Namun, sebagaimana pernah diungkapkan Derek Walcott dalam kuliah nobelnya yang bertajuk “The Antilles: Fragments of Epic Memory” (1992): “Cinta yang menyatukan keping-kepingnya adalah lebih kuat ketimbang cinta yang menerima begitu saja keadaannya sewaktu jambangan itu masih merupakan keseluruhannya”.

Begitulah, puisi Afrizal ini ditulis dari posisi subjek yang telah tersobek semacam itu: dari ingatan yang terpotong-potong, benda-benda mundan yang berserakan, pecahan-pecahan suku kata yang terlepas dari konteksnya ibarat pulau yang memisahkan diri dari benuanya. Maka, jika dalam sajak “Song of My Self” kita menemukan biografi alam dan sejarah Amerika tersisip dalam biografi Walt Whitman, dalam sajak “Warisan Kita” kita justru menemukan biografi Afrizal Malna tersisip di antara biografi benda-benda yang bertebar dan berbicara riuh rendah di sekelilingnya.

 

 

/2/

Sungguhpun terdapat banyak perbedaan antara Walt Whitman dan Afrizal Malna, namun terdapat pula kesejajaran di antara mereka: yakni baik Whitman maupun Afrizal sama-sama bertungkus lumus menyerap zetgeist zamannya, merekam perubahan-perubahan yang bergerak di sekitarnya dan kemudian memproyeksikan dalam sajak-sajaknya. Mereka bukan penyair yang anti sejarah atau menampik sejarah atau berada di luar sejarah, namun penyair yang berada di dalam sejarah, hanya saja mereka seringkali membawakan Suara Lain (The Other Voice); sebab mereka bukan hanya merekam suara-suara yang terdengar tapi juga mencatat suara-suara yang tak terdengar, suara-suara yang bisu atau dibisukan. Maka, sajak pun kemudian menjadi semacam metamir (metafisical mirror) yang menangkap apa yang tidak diucapkan seseorang ketika berbicara, kemarahan di mata yang berlawanan dengan senyumannya, serpihan gema-gema yang terpantul dalam kebisuan, sepatah pesan tersembunyi di sebalik gerakan dan aneka penampakan dan bayangan.

Itulah setidaknya impresi yang terpendar kuat seusai saya menelusuri sajak-sajak Afrizal Malna yang terhimpun dalam kumpulan terbarunya dengan tajuk Teman-Temanku Dari Atap Bahasa (Yogyakarta Lafald Pustaka, 2008). Di sana, di dalam sajak-sajak Afrizal itu, kita akan menemukan cermin metafisik yang memantulkan zetgeist lingkungan dan kurun di mana Afrizal hidup, yakni suasana, ritme, struktur, nada, juga keriuhan dan kesunyian yang memancar dari lanskap dan budaya urban di Indonesia—ingat, Afrizal sejak  kecil tumbuh dan besar di Jakarta, kota terbesar di Indonesia—pada kurun akhir abad 20 dan fajar abad 21, yang kerap disebut sebagai kurun  kapitalisme lanjut (Late Capitalism). Adapun masyarakat yang menyangga sistem kapitalisme lanjut ini adalah masyarakat konsumen; sebuah masyarakat yang menjadikan konsumerisme sebagai jantung budayanya yang utama, di mana dusta, mimpi, ilusi, halusinansi dan hasrat-hasrat artifisial dikemas dengan asyik dalam bentuk komoditas, lantas dipasarkan lewat strategi imagologi dan advertisemen yang kilau-kemilau.

Di alaf ini, manusia terperangkap dan terkepung oleh cakrawala kode-kode objek konsumsi yang dikodifikasi secara manis dan sistematis oleh sistem kapitalisme. Objek-objek itu diceraikan dari nilai gunanya, dan menjadi objek yang semata nilai tanda. Objek-objek itu bergerak aktif mendefinisikan manusia, meninggikan atau merendahkan derajatnya, kadang bahkan menentukan takdirnya seperti dalam sajak “kaca mata hitam” Afrizal berikut ini:

 

hari    selasa   terbuat   dari    tepung.

pagi    hari  jembatan   penyebrangan

telah ramai. seorang   presiden  yang

terbuat   dari  suara   massa    sedang

memasukkan  usus   ayam  ke  dalam

mulutnya,   berdiri di   tengah-tengah

lalu-lintas yang lalu lalang di sekitarnya

 

Kepalanya    dihiasi   lampu natal dan

daun zaitun.orang menyaksikannya di

atas    jembatan    penyebrangan . hari

selasa   terbuat   dari   tepung    terigu.

hukum terbuat dari sabun cuci

Manusia, bahkan bila ia seorang presiden, sudah tak bisa lagi mengemudikan arah laju peristiwa dan gerak pendulum waktu. Orang-orang hanya bisa berkerumun di jembatan penyebrangan sembari menyaksikan lalu lintas dan kekonyolan presidennya sendiri yang tengah sibuk makan usus ayam. Sementara itu pelbagai peristiwa dan aturan-aturan hukum tidak ditentukan oleh inisiatif nalar dan akal budi manusia, melainkan oleh tepung terigu dan sabun cuci (indek bagi kapitalisme mondial?). Sajak lain bertajuk “sumbu kompornya basah oleh minyak” terasa lebih menyentil lubuk batin karena dengan sangat plastis melukiskan ikatan identitas antara si aku dengan masyarakatnya yang ternyata bukanlah dilantarankan oleh adanya kesamaan visi, ideologi, atau agama misalnya, melainkan disatukan oleh sumbu kompor!. Ternyata benda-benda sepele itu tak melulu membuat manusia pasif dan dungu, melainkan dapat pula menjadi simbol pembungkus identitas kolektif, yang melentikkan empati, memekarkan solidaritas, juga rasa senasib-sepenanggungan:

…..

…………………..aku harus menjawab

sendiri    kenapa    aku  berada bersama

mereka. sekarang     mereka sudah bisa

diikat,  tidak   dijahit,     diikat   dengan

sumbu kompor.ah, sumbu   kompornya

basah oleh minyak.mereka   hanya bisa

bersama dalam  ikatan sumbu   kompor

kenapa     mereka   tidak  bisa     dijahit

 

aku menjawab,   kenapa  sumbu  kompor

itu     datang    dari      mulutku     sendiri

kenapa  sumbu kompor  yang basah oleh

minyak  itu datang  dari  mulutku sendiri

kenapa  mulutku   sendirian berdiri di rel

kereta yang sepi  itu. dan   suara    mesin

jahit    seperti   suara  batu kerikil   yang

diseret  dari   pintu  rumahmu hingga ke

pangkuan    seorang    perempuan  yang

menangis  di samping rumahnya.

 

( “sumbu kompornya basah oleh minyak”)

 

Tepung terigu, lemari bensin, minyak tanah, sumbu kompor: benda-benda mundan semacam itulah yang bertimbulan dalam sajak-sajak Afrizal. Ia tidak tertarik menampilkan pasang naik dan pasang surutnya sejarah-sejarah besar seperti dilakukan oleh Rendra dan Goenawan Mohammad, atau menyalin dan menasrif ulang mitologi-mitologi kuno dari pelbagai khazanah tradisi seperti Subagio Sastrowardoyo dan Sitor Situmorang, atau mendaraskan lagu surah penghujan dan hempasan gelombang bersama para penyair romantik semacam Sapardi Djoko Damono dan Acep Zamzam Noor. Tidak, Afrizal justru menumpukan fokusnya pada benda-benda sehari-hari, yang sepele dan biasa, yang efemeral dan semenjana, namun akrab. Afrizal seperti tak bisa—dan tak ingin—berpaling atau melarikan diri dari perubahan-perubahan dan karut marut benda-benda mundan dan  beragam peristiwa sehari-hari yang berpusaran di sekitarnya. Ia seperti mengamini pendapat sejarawan seni Heinrich Wolfflin (1864-1945) sekitar seabad yang lampau, yang mengungkapkan bahwa sebuah desain sepatu bisa menjadi indek dari nilai-nilai budaya abad tengah Eropa yang sama pentingnya dengan katedral-katedral Gothik di Chartes atau Strasbourg. Wolffin menekankan pentingnya objek-objek sehari-hari, terutama lantaran  item-item yang  diterima secara taken for granted itu dapat menyingkapkan begitu banyak asumsi-asumsi tersembunyi yang terfermentasi dalam sebuah kebudayaan.

Yang unik, bertaburannya benda-benda mundan dalam sajak-sajak Afrizal itu, tidak membuat sajak-sajaknya terjerumus menjadi seni kitsch yang dangkal. Benda-benda mundan itu didefamiliarisasi dan didistansiasi, kemudian beroleh konsentrasi baru, rumah tangga tekstual baru,  dalam arsitektur sajak-sajaknya: kadang sebuah benda dipasangkan begitu saja dengan benda lain yang berasal dari latar lain, kadang benda-benda itu beroleh predikasi baru yang fantastis seperti minyak tanah yang bisa berjalan-jalan pada hari libur atau dua buah lampu neon yang mencari-cari manusia. Kadang benda-benda itu bertubrukan, berlabrakan, berjatuhan, berakrobat, saling bersaing, saling berhadap-hadapan atau saling memunggungi, saling mengkhianati identitas dan fungsinya sendiri. Efek dari semua itu adalah memancarnya aura keasingan dari sajak-sajak Afrizal: benda-benda mundan yang akrab seperti kalung atau palu, peristiwa-peristiwa biasa seperti mengepel lantai atau sikat gigi, tiba-tiba saja membuat kita bertanya-tanya dan merenung-renung. Hal-hal yang secara kultural dekat tiba-tiba saja jadi terasa jauh dan ganjil, peristiwa-peristiwa yang asalnya lumrah dan biasa tiba-tiba saja jadi terasa aneh dan mengherankan.

Mendefamiliarisasi yang akrab, mendistansiasi yang dekat: strategi tekstual inilah yang, jika tidak dipahami, akan membuat kita kesukaran membaca sajak-sajak Afrizal (seperti yang sudah kerap terjadi).

Di sini, saya jadi teringat pada Andi Warhol. Seperti Afrizal, Warhol pun acap menggunakan benda-benda mundan yang berasal dari kultur industri, tentu bukan dalam sajak karena memang Warhol bukan penyair, melainkan dalam karya-karya “seni rupa”nya yang eksentrik: box-box Brillo, botol-botol coca cola, desain sebuah sepatu atau tas belanja, susunan kaleng-kaleng sup campbell. Sejenak kita pun meragu: bisakah benda-benda mundan macam begitu jadi objek dalam sebuah karya seni rupa adiluhung? Kemudian apa bedanya antara botol coca cola yang ada di supermarket dengan botol coca cola dalam karya Warhol?. Tetapi, segera setelah kita menyimak dengan seksama karya-karya Warhol, kita pun akan menyadari kualitas seni yang menyemburat dari sana: serial benda-benda mundan seperti botol-botol coca cola atau kaleng-kaleng sup Campbell atau box-box Brillo itu diaransmen oleh Warhol dengan persfektif yang segar dan subtil, begitu rupa sehingga berkesan seperti memberi penampakan yang tak terbatas, tak pernah selesai dan tanpa keutuhan. Warhol pun mengecoh kita dengan ilusi penglihatan: apa yang terlihat seperti silinder, dalam beberapa kasus, bukanlah silinder samasekali, melainkan versi silinder yang telah terdistorsi. Seperti dalam sajak-sajak Afrizal: apa yang tampak familier dalam karya-karya Warhol, ternyata justru memurubkan aura keasingan, apa yang dekat dan lumrah segera  jadi terasa jauh dan ganjil.

Hemat saya, analogus sajak-sajak Afrizal dengan karya-karya seni rupa eksperimentatif Andi Warhol bukanlah perbandingan yang mengada-ada. Bukankah Afrizal sendiri suatu kali pernah berkata bahwa tatkala membuat puisi-puisinya, ia berpikir dengan gambar, dan dengan demikian, puisi-puisinya bisa dibaca dengan cara menontonnya?.

Anda tak percaya? Coba “tonton” adegan-adegan dari beberapa fragmen sajak-sajak Afrizal di bawah ini:

 

pagi -pagi   sekali   hutan telah bangun

dan       berjalan   ke   kamar   hotelmu.

hutan      yang   berjalan, bayangannya

seperti jubah matahari.disel telah mati

tv telah mati. ada  musang  mengambil

kepala ayam. anak-anak  babi  berebut

tetek ibunya.  Aku   menari,    tubuhku

terbuat dari oli dan tempa tidur….

 

( bau air mata di bantal tidurmu )

 

orang-orang   sedang   sembahyang di

pinggi  laut.  sebuah   perahu   sedang

tenggelam    di   atas   pahaku.   lelaki

mengenakan  ikat   kepala putih,  dan

rintihan suara babi dari s ebuah restor

an.perempuan   mengenakan   kebaya

putih, tali bhnya membuat lorong dari

punggungmu    hingga  kenalpot ken-

daraan umum di jalan…

……

 

( “kupu-kupu dari pakaian pengantin”)

 

 

kotak-  kotak   kardus    sibuk  berbenah,

dari  malam   hingga   pagi tiba.    kamar

mandi    sibuk.sudah  lengkap.kami mau

pindah.   kasur   sudah   digulung,  tidak

ada orang yang tidur dalam kasur   yang

digulung itu.  ember  sepatu  sikat    gigi

4     kantong    sampah. aku       percaya,

gunting kuku  tidak   tertinggal     dalam

kantong    sampah    itu.   mobil    meng-

angkut  barang ditangkap polisi 50  ribu

perak. mogok  di jalan. dorong.     polisi

ikut dorong.  baskom jatuh.kita   makan

dulu. anjing  kami    kehausan    minum

coca cola

 

( ‘’pindah ke kota lain’’ )

 

 

…….

ibuku terbaring,    semut-semut   merah

mulai membuat lubang  pada tubuhnya.

lubang yang  mulai   membuat   lorong

gelap,   memanjang   dari  betis hingga

punggungnya. ada dering telfon  dalam

lorong   itu.  ada   ayah    yang  sedang

memasak.   kakak    dan    adik-adikku

mengelilingi  meja makan.

 

aku memasuki lorong itu seperti dasar

sungai yang menyimpan masa   kanak-

kanakku.dan    sekolah yang   terbakar

aku mendengar langkah-langkah  gula

yang mengambil satu   persatu semua

barang dari dalam tubuh ibuku

 

………

 

( ‘’naik perahu bersama ibu “)

 

 

Adegan-adegan dalam fragmen sajak-sajak di atas bergeser-geser dengan cepat laksana lintasan-lintasan kejadian dalam sebuah mimpi buruk, beralih-alih dari scene yang satu ke scene yang lain dengan cara yang sangat fantastis dan seakan-akan tak memiliki rantai signifikansi satu sama lain. Membaca sajak-sajak di atas bagaikan melihat gambar-gambar sureal atau sketsa-sketsa lukisan kaum futuris yang membuat nalar kita dibikin lumpuh tak berdaya, arus rasionalitas pikiran kita tersumbat dan menemu jalan buntu, namun di sisi lain indra-indra kita—ya, terutama indera penglihatan kita (ah, tidakah kau ingat  Hitam, salah seorang empu miniaturis Ottoman abad enam belas yang menjadi tokoh utama novel My Name Is Red karya Orhan Pamuk, yang pernah berujar bahwa lukisan adalah kesunyian pikiran dan musik penglihatan?)—justeru terasa lebih awas dan hidup dan tertantang untuk terus menyimak setiap gerakan dan bayangan, setiap peralihan nuansa dan suasana, getaran-getaran emosi, sensasi-sensasi indrawi, aneka rona perasaan yang tampak atau terselubung, juga bisikan-bisikan rahasia yang hilang-hilang timbul di antara jejeran potongan-potongan gambar itu.

 

 

Tapi, benarkah puisi bisa disamakan dengan gambar dan  lukisan?

 

Tentu saja tidak sepenuhnya, karena dua hal itu berbeda mediumnya—puisi lewat bahasa, lukisan lewat garis dan warna. Namun pada inti pengalaman inderawi kita, keduanya—lukisan dan bahasa—merupakan analog yang sempurna. Bahasa terdiri dari  kombinasi rangkaian suara-suara yang terbatas; sementara lukisan terdiri dari kombinasi rangkaian garis dan warna. Lukisan mematuhi atauran-aturan oposisi dan afinitas yang sama dengan yang menentukan bahasa; dalam kasus lukisan kombinasi itu menghasilkan bentuk-bentuk visual dan dalam kasus bahasa menghasilkan bentuk-bentuk verbal. Seperti kata, yang merupakan gudang dari perjumpaan-perjumpaan virtual, dan lantas  teraktualisasi ke dalam frase berdasarkan posisinya dalam sebuah konteks; warna pun tak mempunyai nilai dalam dirinya sendiri: melainkan hanya dalam hubungannya dengan warna yang lain “L’accord de deux tons”. Dari lensa pandang seperti ini, tidaklah janggal bila sastrawan peraih nobel tahun 1990 dari Meksiko, Octavio Paz, mengatakan dalam sebuah esainya yang memukau Presence and the Present: “memandang sebuah gambar adalah mendengarkannya: memahami apa yang dikatakannya. Lukisan, yang adalah musik, juga, di atas segalanya, adalah bahasa…pelukis adalah seseorang yang menerjemahkan kata-kata ke dalam citraan-citraan plastis”.

Entahlah, selepas bertungkus lumus membaca sajak-sajak Afrizal Malna, terus terang saya jadi tergoda untuk membalik kalimat-kalimat provokativ dari Paz di atas, menjadi begini: “membaca sebuah puisi adalah memandang dan menontonnya: memahami apa yang digambarnya. Puisi, yang adalah musik, juga, di atas segalanya, adalah gambar…penyair adalah seseorang yang menerjemahkan citraan-citraan plastis ke dalam kata-kata”.

 

 

 

 

 

/3/

 

            Kadang-kadang terasa, dunia orang dewasa sudah demikian sumpek dan membosankan. Apabila begitu, seorang penyair acapkali memalingkan pandangnya kepada pesona dan kesyikan dunia anak-anak. Maka, lahirlah sajak-sajak yang menggebyarkan kerinduan akan dunia anak-anak, keriangannya, spontanitasnya, kefitrian dan keugahariannya. Sebagai contoh baiklah kita petik sebuah sajak indah dari Sitor Situmorang berikut ini:

 

………

Hei, Hati yang terlalu akrab

pada segala yang gelisah

dan terlalu kepingin

dengarkan si anak kecil

yang bermain di taman, berseru:

 

Selamat sore, Tuan! Maukah Tuan

menolong saya

mengejar kapal-kapalku yang lepas

terbawa arus ke seberang sana?

 

Aku segera berlari

mengambil kapal kecilnya

lalu kuserahkan kembali

Si anak:Terima kasih! Terima kasih banyak!

Nah…sekarang maukah Tuan main dengan saya,

biar kapalku tak lari lagi?

 

Aku pun main kapal-kapalan

dengan si anak sepanjang sore

………..

 

(“Lagu Jembatan Putih”)

 

 

Ada damba akan masa kanak-kanak yang lugu dan lucu, ada hasrat untuk kembali terlibat dalam semesta permainan yang asyik dan tanpa beban. Namun dalam hemat saya, masih terasa ada jarak yang merentang antara si penyair dengan dunia anak-anak pada sajak Sitor di atas. Dunia anak di sana masih berdiri sebagai objek, dunia luar yang ingin dimasuki si penyair, sementara puisi itu sendiri terlahir dari daerah kesadaran si penyairnya sebagai orang dewasa. Coba bandingkan dengan sajak Afrizal di bawah ini:

 

………

hallo, siapkan    katalognya   dong,

katalog di musim panas, manisku.aku

beli daging rusa kebun anggrek, dan

vagina dengan rasa republik. you

know?

………

 

hei jangan tinggal ideologimu di depan

pintu.nanti anak-anakku mati, dong.

welcome in my country. no

danger.no terror.no boom.no corrup

tion oh oh oh…seni rupa adalah hari

libur untuk kebebasan.dan bau uang

di ujung sana, mr.

 

Welcome dong.

 

(‘pesta para mr.art”)

 

Tak ada kata “anak” yang disebut-sebut dalam sajak di atas, tak ada pula damba tersurat akan masa kanak-kanak yang mengasyikan, namun kita merasakan lapisan kehidupan anak dalam niveu ketidaksadaran sang penyair berkontraksi mengungkapkan dirinya secara lebih langsung, dan karenanya terasa lebih spontan dan lebih murni. Yang berdenyaran dari sana adalah “naluri anak dalam diri sang penyair”, yang mengintai-intai dari cakrawala ambang bawah sadarnya, bukan dunia anak-anak sebagai kenangan masa lalunya atau dunia anak-anak sebagai pokok dan tokoh dalam sajak, yang berdiri sebagai objek di luar diri si penyair. Tapi justru dengan cara  pengucapan semacam itu, tema yang serius seperti ironi terjeratnya seni rupa dalam jaring-jaring pasar dan kapital, bisa tergambarkan secara lebih tajam dan meyakinkan.

Kalau kita cermati, banyak sekali sajak-sajak Afrizal, baik yang terhimpun dalam kumpulan Teman-temanku dari Atap Bahasa ini maupun sajak-sajaknya dari periode sebelumnya yang menyingkapkan “naluri anak-anak dalam diri penyairnya” (atau “naluri dada”; istilah yang berkait erat dengan dadaisme, sebuah aliran dalam sastra yang memumpunkan prosesi pembuatan puisi pada getaran impuls-impuls, debaran sensasi, juga spontantas, yang terwedar dari niveu ketaksadaran si penyair).

Bertalian dengan “naluri dada” dalam sajak Afrizal, ada satu hal lagi yang acap kita jumpai, yang bisa dibilang menjadi salahsatu ciri khasnya, yakni banyaknya pengulangan kata (ingat, anak-anak pun sering mengulang-ulang satu kata, misalkan kalau turun hujan, mereka biasanya berteriak-teriak: hujan…hujan…hujan). Salahsatu di antaranya, yang menurut saya sangat berhasil, adalah sajak bertajuk “kepalaku tidak terbuat dari kecelakaan”:

…….

kenapa aku  tidak bisa  mengerti kamu.

helm.  manusia  adalah  kecelakaan  di

dalam   helm. kenapa  kamu tidak bisa

mengerti   aku. helm. aku  naik   motor

ke   rumah  hedi,  pinjam   uang.  helm

kami hanya bicara tentang angin. helm.

angin yang   membuat  peta perjalanan.

Angin   yang   membuat    sayap-sayap

hujan.  helm.  Manusia   t erbuat   dari

kecelakaan he he he… dan  helm  terus

bercerita bersama sayap-sayap   hujan.

………

 

Selain mendenyarkan “naluri dada”, sajak dengan repetisi kata yang intens seperti di atas, mendaratkan ingatan kita pada teknik persajakan dalam puisi mantra. Perulangan kata, dalam puisi mantra, digunakan sebagai dasar untuk pembentukan rentak dan irama, juga sebagai alat menajamkan konsentrasi pikiran, menapas-hidupkan bunyi (dan sunyi), menebarkan bias-bias sugesti magis yang bisa saja menghantar orang pada suasana trance.

Tentu saja, penyair indonesia yang paling suntuk bergulat-gumul dengan pertukangan sajak mantra, adalah Sutardji Caljoum Bachri. Biarlah saya kutip sebuah sajaknya yang dengan terang dan kuat menggunakan teknik puisi mantra itu:

 

batu mawar

batu langit

batu duka

batu rindu

batu jarum

batu bisau

kaukah itu

teka

teki

yang

tak menepati janji?

…….

( “BATU” )

 

Akan tetapi, meskipun keduanya memakai teknik puisi mantra, namun segera terasa perbedaan antara sajak Afrizal dan Sutardji di atas: bila sajak Tardji mengambil batu—“benda mistis” yang juga kerap dipakai oleh para mistikus, dukun, pawang, saman dll sebagai wahana dalam mantra-mantra mereka—sebagai benda yang diulang-ulang dilafadzkan sehingga membuat puisi itu bagaikan pahatan patung batu magis yang ekspresif dan menyihir, maka penyair urban seperti Afrizal lebih suka mengambil benda mundan yang efemeral dan sehari-hari sebagai wahana untuk mendedahkan mantranya: helm.Dan, apabila sikap Tarji tampak khusuk, takzim dan serius—bahkan terasa mengejang-ngejang tegang mencari jawab—dalam sajak mantranya, seakan-akan ingin bersaing dengan puisi mantra yang biasa dirapalkan para leluhur dalam sebuah ritus, seakan-akan ingin menautkan kembali sajak mantranya dengan tuah, dengan keajaiban dan kemisteriusan alam, maka langgam sajak mantra Afrizal terasa lebih ringan, berceloteh dengan ironi yang separuh canda separuh getir, seakan-akan menyadari bahwa di kancah dunia urban yang bergegas dan repetitif—sebuah dunia yang hilang jiwa, seperti kata sepenggal sajak Chairil Anwar—puisi mantra tak mungkin lagi bertaut dengan tuah dan kemisteriusan alam (yang sudah rusak parah), melainkan dengan aspal dan kemiskinan, dengan motor dan resiko kecelakaan. Dengan begitu, mantra “helm” dalam sajak Afrizal itu menelanjangi dengan tuntas kerapuhan psike manusia modern yang terkepung waham serta ilusi-ilusinya sendiri: ilusi akan ketertiban, ilusi akan keamanan.

Hal ini, membuat saya berpikir bahwa jangan-jangan “sajak mantra” Afrizal itu lebih mustahak jika diparalrelkan bukan dengan sajak mantra Tarji, tetapi dengan gambar bertajuk “100 Cans” karya Andi Warhol di bawah ini:

 

Sekilas pandang, rangkaian gambar kaleng-kaleng sup tersebut terlihat sama persis dengan kaleng-kaleng sup di supermarket. Akan tetapi, jikalau kita jeli, maka akan segera tampak bahwa penglihatan kita keliru: dengan sangat cerdik Warhol tidak memperlihatkan tutup-tutup kalengnya, sehingga gambar-gambar kaleng tersebut mengecoh kita dengan ilusi tiga dimensional. Selain itu, penataan gambar-gambar kaleng secara repetitif—yang mirip dengan teknik pengulangan kata dalam puisi mantra—memberi kesan ketakterbatasan, dan kesan tak terjumlahkan (kita tidak tahu: berapa jumlah kaleng-kaleng sup di belakang rangkaian kaleng-kaleng yang tertangkap mata kita?). Maka, jika helm dalam  “sajak mantra” Afrizal menelanjangi ilusi manusia modern akan ketertiban dan keamanan, rangkaian gambar kaleng-kaleng sup karya Warhol ini menjadi alegori yang dengan cerdik menyingkapkan ilusi-ilusi manusia modern lainnya: ilusi penglihatan, ilusi kelimpahan, ilusi ketakterbatasan.

Ternyata benda-benda mundan yang sepele dan kerap memergoki kita setiap hari—seperti helm dan kaleng-kaleng sup—ditangan penyair seperti Afrizal dan perupa seperti Warhol, bisa mendaratkan kita pada pencerahan yang tak terduga. Meskipun Afrizal dan Warhol berasal dari tempat  yang berbeda dan bekerja dengan medium yang berlainan, namun baik “sajak mantra” Afrizal maupun serial gambar Warhol sama-sama meninggalkan kita dengan semacam suspensi—bukan klarifikasi—makna. Keduanya membuat kita—kau dan aku—peka akan metafisika dari benda-benda mundan, juga membuat kita mampu memandang-nembus serat-serat kedalaman dari hal-hal yang efemeral dan permukaan (depth of the surface).

 

 

/4/

Pernah dalam cover bagian belakang sebuah buku kumpulan sajaknya yang bertajuk “Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing” (Yogyakarta, Bentang: 2002), Afrizal Malna menulis baris-baris seram berikut ini perihal kata dan sajak: “Kata adalah lembaga komunikasi yang paling susah dipegang, bobrok  dan busyet. Bahasa mungkin merupakan ciptaan manusia yang paling punya banyak masalah. Dunia referen—yang tinggal dalam memori kita atau pelebelan sosial (stereotipe), seperti seekor ular yang terus mengintai dan siap menerkam setiap teks….Puisi adalah binatang yang tercekik dalam mulut botol. Orang membaca dan menulis puisi untuk memecahkan botol itu. Kadang binatangnya ikut mati”.

Rupa-rupanya pernyataan Afrizal di atas bukan hanya sekadar menunjukkan sikap intelektual Afrizal terhadap kata dan sajak, namun juga menjadi pokok yang terus menerus membayang dalam sajak-sajaknya, termasuk dalam sajak-sajak yang terhimpun dalam “Teman-Temanku dari Atap bahasa”. Seperti sajak di bawah ini, yang menunjukkan bagaimana sakaratul maut dan kekacauan dalam bahasa itu berlangsung dengan akut:

 

nabi .kalau   n   diganti  dengan b, dia

menjadi    babi. tidak nabi.   kalau   b

diganti dengan  n, dia   menjadi  nani.

tidak babi.black box. Kala b   diganti

dengan p, dia menjadi napi.tidak nani.

kalau n diganti dengan r dia  menjadi

rabi. black   box.  tidak napi.  kalau b

diganti   dengan s,  dia   menjadi nasi

kalau s diganti dengan r dia  menjadi

nari.black box. tidak rabi   atau  nasi.

………

 

( “black box”)

 

Dengan mempermainkan pergantian huruf (dan bunyi) dalam sebuah kata, puisi ini menunjukkan betapa getas sebenarnya kait-kelindan antara kata-kata dengan kenyataan objektif. Tak ada hukum alam dan alasan pasti kenapa nabi harus disebut nabi, dan babi harus disebut babi. Tautan itu bersifat sewenang-wenang: makna tidak ditabalkan oleh hakikat yang diacunya, melainkan dibentuk oleh diferensi, oposisi dan afinitas yang mengatur relasi-relasi sistem tata bahasa itu sendiri. Oleh karena itu makna sebuah kata senantiasa berada dalam posisi goyah, senantiasa berayun-ayun dalam keretakan dan ketegangan. Bahasa bagaikan kotak hitam, di mana makna, bunyi, juga dunia referens yang diacunya tersedot ke dalam mata pusarannya, saling berteriak, saling menabrak dan berjatuhan; terperangkap di dalam kotak gelapnya sendiri yang tertutup rapat tanpa jalan keluar, mirip dengan nasib manusia yang tergambar dalam adegan-adegan mencekam dari sajak berikut ini:

 

orang  nabrak   orang.  orang itu.   dia

memanggil sebuah  nama.nama   yang

sering disebut di koran.  adakah orang

berani memiliki nama untuk dirinya di-

panggil    dan   disebut.  dan     dirinya

datang.dan dia sedih   melihat   dirinya

tidak   memiliki   topi.orang nabrak itu.

sesuatu   ha-ri.   laut   jatuh    di   pung-

gungnya,orang  nabrak  laut.   atapnya

miring. atapnya itu.nabrak……………

 

aku    berani   melihat    punggungnya

seperti   melihat   pintu    yang  sedikit

tertutup.tapi tak    berani    memanggil

namanya mena-ngis. seperti aku  tidak

berani melihat ke   dalam pintu. orang

nabrak    pintu.     ada   orang      pintu

orang itu. mobil    dan motor  berhenti.

Sepeda   terus   jalan.aku tidak   berani

melihat siapa yang duduk di atas sadel

sepeda itu. Aku mendengar  tangisnya

tangisan    yang     tak   tahu     kenapa

manusia bisa  menangis.  ada manusia

berjalan  seperti   pintu.   pintu itu ber-

jalan  dan saling menabrak. engselnya

macet.  kuncinya tak tahu  bagaimana

membuka pintu.

…………

 

( “gempa orang” )

 

 

Atmosfer kekalutan dan sambur-limburnya suasana dalam sajak ini, melemparkan ingatan kita pada suasana khaotik akibat gempa yang belakangan ini menghantam beberapa kota di Indonesia. Laut menabrak manusia, benda menabrak benda, manusia menabrak manusia, dan seterusnya, dan seterusnya. Namun lebih dari itu, gempa dalam sajak ini bukan hanya menjadi pokok yang dibicarakan, melainkan telah menjadi peristiwa kebahasaan itu sendiri: kalimat-kalimat berkaki pendek yang nungging dan saling menubruk, predikasi yang panik dan salah kaprah, komposisi yang sungsang dan disharmoni. Dengan kata lain, bahasa dalam sajak ini, telah menjadi medium sekaligus message itu sendiri.

Mungkin timbul pertanyaan: apabila sebuah tulisan atau sepenggal sajak tidak mungkin lahir dari ruang kosong, apabila seorang penulis senantiasa menulis di atas tulisan (realitas), maka kanvas besar seperti apakah yang menjadi latar bagi sajak-sajak Afrizal yang banyak mencuatkan fenomen khaotiknya bahasa itu? Sajak bertajuk “pohon-pohon kata” ini tampaknya bisa jadi pintu masuk untuk memeriksa hal itu. Kita simak:

 

sudah seminggu    aku    tak   mencuci.

kenangan  pada jemuran,    tetesan  air

pada jemuran…….kenapa kau  masuk

kan   gunting    kuku   itu   ke     dalam

hatiku? Jemuran itu, seperti  sederetan

kota yang ditelanjangi,  disalib, ditem-

baki:  ” hanya tuhan   yang boleh  jadi

komunis,”     katanya,    jemuran    itu.

tetesan air   seperti   tulisan di    tanah,

merembes ke  dalam tanah.dan  mulut-

ku seperti    sebuah   halaman  dengan

tanah yang membaca,     pohon- pohon

kata, kebun bahasa.manusia yang letih

dan tidur di    atasnya,   dinaungi daun-

daun kata jemuran itu.sudah seminggu

aku tak mencuci.pakaian kotor,   tubuh

yang sendiri   menghadapi    jurang  ke

nangan.”hanya  tuhan yang boleh   jadi

komunis” katanya   jemuran   itu.   aku

melihatnya, pakaian kotor  itu,    sudah

di dasar jurang.mesin cuci    tak     bisa

mengambilnya.  tubuhku seperti   gum-

palan-gumpalan tanah, bergelinding ke

dasar jurang. agar aku bisa   melihatmu

dari bawah.agar aku bisa   melihat  dari

dalam bahasa.

 

 

Kalimat kunci dalam sajak ini, hemat saya, adalah  “hanya tuhan yang bisa jadi komunis” yang diulang dua kali. Segera saja kita terkenang pada pembantaian dan pembersihan habis-habisan yang dilakukan rezim besi Orde Baru terhadap orang-orang komunis yang terjadi sekitar setengah abad yang lampau, ketika sederetan kota  ditelanjangi, disalib, ditembaki.Tak berhenti sampai di situ, selama tiga puluh dua tahun berkuasa, Orde Baru juga telah melakukan apa yang disebut “bersih lingkungan”: seorang warga harus bebas dari anasir-anasir kiri atau komunis, dan bila tidak, mereka akan dikucilkan, didiskriminasi, dibatasi. Terjadi simbolic violence yang sangat masif dan bengis, dan  bahasa dijadikan instrumen untuk mengontrol, mengawasi, membatasi bukan hanya tindakan dan perilaku warga, melainkan juga gerak pikiran dan kesadarannya. Lewat penataran, lewat normalisasi, Orde Baru berusaha membersihkan dan membumihanguskan segala macam “sampah bahasa” yang dianggapnya bisa mendestabilisasi keamanan dan ketertiban.

Tetapi rezim fasis itu ternyata dirundung oleh kontradisi dalam tubuhnya sendiri. Politik kebahasaan yang dijalankannya menciptakan dua arus yang saling bersaing dan saling memunggungi:arus yang satu adalah imbauan ke arah ketertiban dengan tebaran istilah-istilah membosankan seperti: “asas tunggal”, “wawasan nusantara”, “SDM”, “tinggal landas”, “disiplin nasional”; sementara arus lainnya justru menarik picu ke arah permusuhan dan perlawanan dengan membandangnya istilah-istilah seram semacam: ”subversi”, “ekstrim kiri”, “ekstrim kanan”, pri-non pri”, GPK, dan sebagainya, dan seterusnya. Walhasil, bahasa pun tak lagi mampu untuk memperbarui dirinya, atapnya runtuh dan lantas terbongkarlah pelbagai skandal yang bergeliang-geliut dibaliknya. Skandal yang telah melukai dan membantai gagasan tentang manusia, skandal yang menyalakan amarah, melatukan amuk seperti yang kita saksikan pada mei 1998, ketika massa berhamburan dari puing-puing bangunan bahasa yang runtuh:

 

massa itu keluar dari atap bahasa yang

runtuh. senja   yang   tak punya  merah.

kaki-kaki      kata di   gang-gang   kecil.

kulit telur  asin dan    puntung rokok di

atas piring. mereka membawa apa  saja

dari   yang  mereka   punya. aku   tidak

melupakannya. ada   bau  waktu   yang

membungkus  kuning   mereka, seperti

sarung   yang  lembab. bayangan   me-

reka, sapi-sapi hitam yang  memamahi

kalimat-kalimat pendek.mereka   yang

membuat  lubang   pada  batu   dengan

keringatnya yang bersayap.

 

………..

 

mereka   mulai   menarik    kapal yang

kandas itu. tetapi    baling-baling kapal

tertancap   di  perut   kota.   bau    uang

mengalir seperti minyak dan api dalam

perut    kota. sayap-sayap  keringat me-

layang-layang  dari  atap   bahasa yang

runtuh   itu.  massa   itu adalah  guruku

yang    pernah    membunuh   pamanku,

tidak,    di    halaman   belakang   pesta

kemerdekaan.    tidak.     lukanya     tak

pernah    hilang   seperti    akar rumput,

tidak,   di   setiap   pintu   masuk   kota

tidak,   massa itu. tidak.    adalah   kaki-

kaki kata yang  melihat    waktu   telah

tersalib    di   tembok   kota. piring dan

gelas    telah    berjalan   meninggalkan

kapal   yang   kandas itu,  mencari kota

baru:   rumah   untuk   semua mahkluk

memasang   kembali atap bahasa yang

runtuh itu,  seperti memasang  kalimat

yang menyapamu di depan pintu.

 

(“atap bahas yang runtuh”)

 

 

Dalam keadaan semacam itu, tak heran jikalau puisi tersepak ke sudut-sudut jauh, mengumandang sebagai Suara Lain, mungkin suara empati, atau bahkan subversi. Puisi menjadi pesta bawah tanah, yang menampung suara-suara yang dibungkam, kebutuhan-kebutuhan yang diam, sejarah-sejarah yang tak tercatat. Puisi seperti caveat, tempat yang masih menyisakan ruang bagi tumbuh suburnya benih-benih kemanusiaan, meretasnya rasa solidaritas, kebebasan pikiran dan imajinasi. Puisi laiknya  kota baru, yang membuka diri untuk menjadi rumah bagi semua mahkluk. Menulis puisi kemudian seperti memasang kembali atap bahasa yang runtuh itu. Yang menarik (dan khas) dalam kasus Afrizal adalah bahwa, sebagaimana sudah saya nyatakan di muka; khaotiknya bahasa itu, destruksi sejarah dan dislokasi realitas itu, bukan hanya membias sebagai tema ataupun pokok dalam sajak-sajaknya, melainkan pula telah melahirkan bahasa baru, lambang-lambang baru, cara ucap baru, narasi baru.

 

 

/5/

Andaikan waktu adalah soal kualitas dan bukan kuantitas, maka waktu hadir, namun tak bisa diukur. Seperti orang-orang zaman dulu yang menentukan dan mencatat puspa ragam peristiwa berdasarkan perubahan rona langit, bentuk-bentuk awan yang bersulih dari putih menuju biru, serpihan-serpihan cahaya surya yang terpantul di paras air, suara kokok ayam dan anjing yang menyalak, pasang dan surutnya ombak-ombak di lautan, atau bulan yang menanjak dan meninggalkan tilas-tilas warna cerah keemasan pada pepucuk daun. Di dunia seperti itu, waktu dan alam, dan aneka kejadian masih manunggal dengan indera-indera manusia. Maka, waktu pun mengalir bagaikan sebatang anak sungai atau secercah rasa: satu episode bisa lamban atau gegas, maju atau mundur, lembut atau keras, terang atau temaram, bergantung pada kepekaan indera-indera masing-masing orang.

Tetapi sains dan ilmu pengetahuan, yang dipandu kecerdasan nalar dan intelegensi manusia, telah mengubah dan menerjemahkan waktu menjadi satuan-satuan yang bisa dikuantifikasi, dengan unit-unit seperti detik, jam, hari, minggu, bulan, tahun. Waktu menjadi tercerabut dari korespondensinya dengan alam dan tubuh manusia. Waktu menjadi terapung, objektif dan mekanis, dengan awal dan akhir yang jelas dan terukur. Waktu berjalan berurutan, linier, lurus dan kaku, menuju masa depan. Gagasan waktu yang obyektif dan linear inilah yang menyungkup kultur industri saat ini. Orang-orang modern berjalan dengan gegas, meluncur dari satu persitiwa ke peristiwa lainnya dengan supervisi dari jam yang melingkar di tangannya, merasa jeri dan cemas ketinggalan oleh kereta waktu yang terus melaju tak terkendali ke arah masa depan, ke arah kemajuan dan firdaus yang dijanjikan. Di dunia semacam ini, waktu ibarat kuda kaleng yang berlari, seraya heran dengan wajahnya sendiri yang terbuat dari kaleng berkarat, bermuram durja karena telah kehilangan padang rumput dan air sungai yang jernih, sebagaimana tercandra dari puisi Afrizal berikut ini:

 

buat ama dan ami

ama dan ami, om  baru  saja bertemu ibu

dan si bungsumu yang kalian kagumi itu

waktu   seperti    kuda       kaleng    yang

berlari,  heran   dengan wajahnya sendiri

yang     terbuat   dari  kaleng.  kuda    itu

membawa   senja  seperti     kaleng   ber-

karat   di   lehernya.     bulunya   berkilat

seperti   mata   kalian,    ibumu     bilang

sebentar lagi kalian   sudah sma.  ibumu

cemas kalau kalian terlalu cepat   punya

pacar.

 

apakah   menurut   kalian waktu seperti

seekor   kuda  yang terbuat dari kaleng?

kuda   itu   mencari padang rumput dan

sungai  yang jernih. tapi   air kini  tidak

lagi tinggal di sungai .mereka  mengem-

bara bersama   hujan,  mencari  tempat

pertama kali sebutir  tanah    dilahirkan.

dan kuda itu   baru tahu,   kalau   tanah

dilahirkan     dari   seorang   ibu   yang

tangannya basah bekas menghapus  air

mata

………..

 

(“di atas kuda kaleng”)

 

Namun apa sebenarnya yang dihasilkan peradaban modern dengan gendewa waktu yang meluncur deras ke arah masa depan itu, ke arah kemajuan dan surga yang dijanjikan itu? Walter Benjamin pernah melukiskannya sebagai malaikat sejarah yang terbang ke masa depan dengan paras menghadap ke belakang dan menyaksikan umpakan puing demi puing dan reruntuhan demi reruntuhan yang berjatuha. Itulah yang ditasbihkan sebagai kemajuan itu, kata Benjamin. Dan ia benar; peradaban modern telah berlari kencang ke masa depan seraya meninggalkan puing-puing yang berjatuhan di belakangnya: puing-puing tradisi, pelbagai khazanah kearifan yang dihabisi, bangunan-bangunan rumah budaya yang runtuh, misteri dan keajaiban alam yang menguap laksana hawa panas, suara jerit burung-burung yang ditembaki.

Dalam lanskap dan latar semacam itulah beberapa sajak Afrizal hadir seolah untuk menghentikan terbangnya malaikat sejarah itu, menggamit tangannya dengan mesra dan mengajaknya berjalan mundur, melawan arus, memeriksa apa saja yang telah dilakukannya di halaman belakang peradaban modern, apa saja yang masih mungkin ditanamnya di sana, apa saja yang masih bisa didengar dan dikenangnya.

Coba kita tengok apa yang tersisa di halaman belakang peradaban modern itu:

…….

halaman   depan   masih   ramai   dengan

tamu yang datang   dengan   pengawalan

ketat, seakan-akan   tuhan   akan    terbu-

nuh senja ini. ribuan    partitur  melukisi

tanah. konser air   yang     mengingatkan

orang    pada    kekuatan    surga     yang

tersimpan    dalam     nyanyian    burung.

tetapi  di    halaman     belakang   sebuah

desa, kebun    bambu  dan  pohon-pohon

jati, suara letusan,   dan   burung-burung

berjatuhan.mereka  menembaki hujan itu.

 

halaman belakang bulan januari seperti

gelepar pintumu yang penuh basa-basi.

mayat yang   tak   terkuburkan   dalam

kamarmu. hujan  meninggalkan  bekas-

bekas luka itu di  pakaian  para   peng-

awalmu: apakah……………………..

 

apakah kau  mendengar  eksekusi yang

berlangsung dalam doamu. di halaman

belakang bulan januari.

 

(“halaman belakang bulan januari”)

 

 

Berjalanlah mundur, sebab tak pernah ada yang kita tinggalkan kalau kita berjalan mundur. Dalam perjalanan mundur itu siapa tahu kita akan menemukan kembali kacang-kacang tanah, udara hangat, atau bahkan Tuhan di halaman belakang. Barangkali waktu akan berdegupan kembali bagai detakan jantung, atau merekah seperti biji-biji kacang dalam sajak “kebun belakang”  ini:

….

dan  aku harus    kembali  ke halaman

belakang  dari leher dan kepalamu.tak

pernah ada yang kita tinggalkan kalau

kita   berjalan   mundur,  kataku. pung

gungmu   seperti  menyimpan  kacang

kacang tanah,  udara hangat dari leher

tuhan.  tak  ada yang  kita   tinggalkan

kalau  kita berjalan   mundur,  katamu.

…..

 

halo,   sayangku,    kita  membuat   hari

esok di halaman belakang. kita melihat

waktu  bergerak  seperti  kebun kacang

di halaman belakang

di halaman belakang

di kebun waktu

 

 

Dengan berjalan mundur, melawan arus, puisi bisa menembus kembali apa yang telah pupus, menyambungkan segala yang terputus, menemukan lagi gambar-gambar kenangan yang hilang dan terbenam:

 

aku berjalan mundur    membelakangi

waktu. malam yang tadi   begitu lama

kutunggu di pinggir kota, kini kulihat

pagi  yang telah kulewati seperti baru

saja   melepaskan   tali    sepatu.  Aku

berjalan   mundur,  bayang-bayangku

seperti   kantong   plastik   yang ingin

membungkus waktu.

………..

 

aku berjalan mundur,   aku    bertemu

kembali dengan gambar  yang pernah

aku buat tentang gunung,  tiang-tiang

listrik di   sepanjang   jalan.   kini aku

berjalan dalam gambar   itu, mandi di

sebuah sungai yang  airnya   mengalir

dari puncak gunung dalam gambar itu.

lalu air sungai itu mengajaku berjalan

ke sebuah air terjun yang   tidak   aku

buat dalam  gambar itu. air  terjun itu

bilang, jangan lupakan aku

 

jangan lupakan aku.

 

(“berjalan mundur”)

 

Tampak dan terasa oleh kita bahwa sajak-sajak di muka memberikan tawaran lain dalam mengalami waktu, yang bersitentang dengan pengalaman waktu mekanis dan linear sebagaimana diberikan peradaban modern. Akan tetapi, adakah arah panah waktu yang berjalan mundur itu satu-satunya alternatif dari arah panah waktu yang berurutan, progresif  dan mekanis?.

Tentu saja tidak. Salah satu sajak Afrizal yang bertajuk “sebuah gerobak dia bilang” menawarkan kemungkinan lain dari arah waktu yang berjalan maju atau berjalan mundur itu:

 

ada sebuah gerobak yang  mengikutiku

dari belakang.sudah tiga hari ini. sudah

dua     jam   yang    lalu.    gerobak   itu

kelihatan    sedih.    membawa      sayur

sayuran dari   pasar. bau cabe dan daun

bawang   menusuk   hidungku,   seperti

pelukanmu menjelang  bangun tidur  di

pagi hari……………………………..

 

kini   sudah   100     tahun  lamanya ge-

robak itu  mengikutiku.  sudah  seratus

tahun punggungnya berbau  cabe   dan

daun bawang.gerobak itu tak     pernah

tua.    sosoknya    tak   berubah,    tetap

seperti diriku saat usiaku masih kanak-

kanak, tetap   menganggap  tangan  itu

adalah bagian  dari tubuh tuhan   yang

dipasang pada    manusia. gerobak  itu

tak  tahu   kalau  aku sudah  mati,   30

tahun yang lalu……………………

……….

 

…….gerobak itu kelihatan sedih, dia

bilang, aku   tak   punya  tanah untuk

berhenti.aku bilang aku bukan tanah,

untuk   kau   ikuti.  dia   bilang    aku

terbuat dari tanah………………….

 

 

Waktu, dalam sajak di atas, menjadi tanda-tanda yang berjumpalitan, berlompatan menerabas pengertian waktu dalam cakrawala persepsi manusia modern. Waktu di sana tidak berjalan secara berurutan, melainkan secara simultan: tiga hari sama dengan dua jam sama dengan seratus tahun. Waktu yang telah dikuantifikasi dengan jam atau hari dan tahun kembali mencair menjadi sebatang anak sungai yang melebur batas-batas; kala kini, kala nanti dan kala lampau saling rujuk dan bersahutan secara serempak dalam guyuran kehadiran-kehadiran. Aku adalah aku yang dua jam lalu diikuti gerobak sekaligus aku yang telah seratus tahun diikuti gerobak  sekaligus aku yang 30 tahun lalu telah mati. Maka, membaca puisi ini seperti membaca di halaman ganda: kelahiran dan kematian. Waktu, dalam sajak ini tidak berjalan maju atau berjalan mundur, melainkan berada di titik konvergensi antara keduanya, di persimpangan antara kelahiran dan kematian, kontinuitas dan diskontinuitas, perubahan dan kekalan. Waktu hadir tanpa kemarin atau esok, tanpa titik awal atau titik akhir. Waktu bagaikan burung yang hadir di mana-mana dan tak di mana pun. Kita ingin menangkap dan memegangnya hidup-hidup, namun burung waktu itu keburu terbang mengepakkan sesayapnya dan menjelma jadi segenggam suku kata atau segumpal tanah atau sebuah gerobak yang terus mengikuti kita dari belakang, sejak dua jam yang lalu yang sama dengan sejak seratus tahun yang lampau.

 

 

/6/

Di tahun 1984, lewat harian Suara Karya, penyair Abdulhadi WM pernah menurunkan esai bertajuk “Nafas Sufisme Dalam Sajak-sajak Afrizal Malna”. Menurut tilikan Abdulhadi dalam esai itu, Afrizal adalah seorang penyair muda—pada saat itu Afrizal baru berusia 27 tahun—yang telah berhasil mendayagunakan imaji-imaji simbolik sufisme dengan bahasa yang segar dan baru dalam sajak-sajaknya. Petikan sajak berikut ini misalnya, menunjukkan bagaimana lambang-lambang dari tradisi perpuisian sufistik itu dikuasai dengan baik oleh Afrizal:

 

………

 

tak lagi terbaca tulisan diri di sangkar

karena sangkar telah menjadi burung sangkarnya

karena sayap telah jadi burung sayapnya

karena langit telah jadi burung langitnya

 

aku terbang dalam keheninganmu

bersayap-sayap diri membebas

sampai ombak di kedalaman titik air-mu

 

berlayarlah kapal dalam burungku

melepas panggilan panggilan labuh

dari laut di mana aku berangkat

 

burung-burung ajal mengepak hening!

 

dan gerak

mengalir dalam kesemestaan diam-mu.

 

(“Jalan Burung” )

 

 

“Burung” dalam sajak di atas tak lain adalah simbol bagi ruh, sebagaimana galib dipakai dalam sajak-sajak sufistik seperti Farid ud-Din Attar (“Musyawarah burung”), Hamzah Fansuri (“Syair Burung Pingal”), dan Jalalludin Rumi (“Diwan-diwan Shamsi Tabriz”). Akhir sajak di atas pun adalah khas akhir sajak sufistik: “kesemestaan diam” atau “khamusy” menyibakkan kedalaman cinta—juga cahaya pukaunya, yang tak terkatakan, di suatu momen puncak yang pecah tatkala “Yang Merindukan” bersua dengan “Yang Dirindukan”.

Adalah cukup mengherankan bahwa semenjak akhir tahun 80an, nyaris tak ada satu pun sajak Afrizal yang bercorak sufistik. Simbol-simbol sajak sufistik seperti batu, perahu, ombak, burung, yang jamak diketemukan dalam sajak-sajak Afrizal sebelumnya, kini melindap dan raib entah kemana. Yang hadir kemudian—sebagaimana sudah panjang lebar saya kemukakan—adalah citraan-citraan yang berasal dari rahim kultur industri: coca cola, helm, jalan raya, mikrofon. Rupa-rupanya sang sufi kita ini sudah melemparkan jubah wolnya dan meninggalkan kesunyian pertapaannya, lalu berjalan menelusuri belantara kota dan lanskap-lanskap urban yang kebak oleh kerumunan manusia, semaraknya lampu-lampu iklan, suara-suara mikrofon yang pecah dan lalu-lalang kendaraan yang melenguh di sekitaran. Seraya terus berjalan, ia pun mencatat hal-hal yang disaksikannya, merenung-renungkan arti semua itu untuk hidup manusia, terkadang singgah sejenak untuk bersajak bersama para penyair yang sakit atau cacat, terkadang ikut berjejalan dengan massa yang sedang demonstrasi menuntut keadilan.

Akan tetapi, sampai di sini benak saya masih terus terusik dengan pertanyaan ini: dengan bersulih-malihnya diksi-diksi dalam sajak Afrizal itu, dengan raibnya simbol-simbol konvensional sajak sufistik dari khazanah perpuisian Afrizal itu, benarkah sajak-sajak Afrizal mutakhir sudah kehilangan nafas sufistiknya sama sekali, sudah tak memiliki ruh transendentalnya sama sekali?

Membaca beberapa sajak Afrizal dalam kumpulan “Teman-Temanku dari Atap Bahasa” ini, saya merasakan nafas sufistik itu, ruh transendental itu kembali menghembus sayup-sayup penaka gema musik yang melantun dari jauh. Tidak, bukan berarti Afrizal kembali menggunakan simbol-simbol sajak sufistik konvensional seperti semula, melainkan berhembusnya tenaga transendental itu sebagai “jiwa” dalam beberapa sajaknya. Afrizal seperti mencari jalan-jalan kecil yang masih memungkinkan manusia urban untuk mengheningkan cipta di sela-sela keriuhan jalan raya yang membelit kota. Afrizal memang tidak kembali ke pertapaannya nun di antara perahu dan ombak-ombak, di antara batu-batu gunung dan burung-burung ruh, namun putik-putik meditasi dan buah permenungannya kerap berpencaran di antara serakan benda-benda mundan, kerumunan massa dan aneka peristiwa dalam dunia keseharian yang berdenyutan di sekitarnya.

Afrizal seakan menyambut baik anggapan seorang sufi dan filsuf kenamaan dari abad 13, Ibnu Arabi, yang pernah berpendapat bahwa dunia yang sebenarnya bukan terletak di balik dunia keseharian, melainkan berlangsung terus bersama dunia sehari-hari ini. Dunia keseharian merupakan bagian dari dunia yang sesungguhnya dan menyangkal realitas dunia keseharian berati gagal memahami hakikat ilahiah. Ibnu Arabi menggarisi signifikansi dunia keseharian, dan serempak dengan itu ia pun menilai bahwa hamparan dunia keseharian tidak musti dipandang sebagai sesuatu yang biasa belaka. Dunia keseharian adalah dunia yang biasa sekaligus luar biasa; terutama bila kita mengapresiasinya dengan seksama, menyimak detil-detilnya yang tampak efemeral: sungut-sungut kucing, desain sebuah bungkus permen, kilauan manik-manik pada kalung, atau pola hiasan seribu burung bangau yang siap terbang dalam sehelai sapu tangan.

Ah, jangan-jangan saya salah. Jangan-jangan Afrizal tidak melemparkan jubah wol sufistiknya yang dulu dipakainya itu, melainkan hanya menyembunyikannya, atau barangkali tetap mengenakannya, cuma saja kita—ya, kau dan aku—tidak bisa melihatnya. Maka, membandingkan sajak-sajak sufistik Afrizal di tahun 80an awal dengan sajak-sajak mutakhirnya yang bertajuk ““50 tahun usia kuping”, “air terjun tidak dari bawah bantal” “4 meter kurang 10 menit”, “aku pergi mengantar surat”, saya merasa bagai sedang membandingkan pecahan-pecahan gelas yang berasal dari benda yang sama namun menunjukkan bentuk-bentuk dan warna-warna yang berbeda.

 

Biarlah kita telusuri satu persatu sajak-sajak itu:

 

kuping itu terpasang di tembok.sudah

hampir   50   tahun  yang lalu. tak ada

yang berubah  dengan  kuping itu. dia

masih  tetap seorang   anak kecil yang

usianya hampir 50 tahun……………

……….

 

kuping   itu   mendengarku berbicara

bukan dari kata-kata yang kuucapkan

tetapi dari suaraku.  katanya. suaraku

seperti sepatu   yang  berjalan  dalam

lorong sumur   yang terbalik.katanya

suaraku seperti  kalimat  yang dibuat

dari   tetesan-tetesan   air.      katanya

suaraku membuat   rumah  dari  kayu

kayu  yang tumbuh   di  dalam  tanah

……………

 

aku    mengunjungi  kuping itu. teman

kecilku   yang  usianya   menjelang 50

tahun. dia mendengar air mataku yang

tertinggal di telapak tanganku……….

 

lalu aku pergi.seperti sebuah kuping

yang  setia   mendengar  kisah-kisah

cintamu.

 

( “50 tahun usia kuping” )

 

 

Di dunia di mana sistem kapitalisme dan kultur industri bersimaharajarela, indra kuping adalah indra yang paling marginal—atau dimarginalkan—di antara keluarga indra-indra manusia lainnya. Orang-orang modern sangat gemar berbicara, bahkan kelewat suka berteriak-teriak lewat pengeras suara, tetapi mereka sangat ogah untuk mendengarkan. Maka, sajak di atas mengajak kita untuk kembali karib dengan indra telinga kita sendiri, yang telah membersamai kita sejak pertama kali terlahir ke dunia: mendengarkan kisah-kisah cinta manusia, mendengarkan ragam langgam suara sendiri, nadanya, kehalusan dan kekasarannya, bahkan mendengar tilas-tilas air mata yang tertinggal di telapak tangan.

Selain gemar berbicara, orang-orang modern juga gemar dengan kesibukan fisik. Sistem kapitalisme memompa manusia untuk terus berkompetisi, terus aktif, berlari, berlari, dan berlari sampai mereka “nanar, gila sasar”. Kontemplasi adalah sesuatu yang dianggap kontra-produktif oleh mereka. Terlalu banyak duduk dan diam akan membuat mereka ketinggalan. Sebab itulah sajak Afrizal “air terjun tidak dari bawah bantal” menyadarkan kita akan pentingnya laku khamusy atau—menukil istilah dalam tradisi Tao: laku wu-wei, yakni duduk hening dan merasakan keberadaan tubuh dan kondisi pikiran kita sendiri, mendengarkan apa yang dituturkannya, menyimak suara tangisannya, kesepiannya, kerinduannya. Hanya dengan laku wu-wei itu, seseorang bisa kembali akrab dengan indra-indra dan tubuhnya sendiri, dan dengan demikian ia akan merasa kerasan dengan dirinya, juga dengan bumi dan dunia. Boleh jadi ia pun akan sampai pada titik di mana ia bisa “mengetahui tanpa berkelana, melihat tanpa mengamati, menyelesaikan tanpa mengerjakan” seperti pernah dilukiskan dengan indah oleh Lao Tzu ketika orang bijak dari Cina itu berbicara tentang laku wu-wei. Agak sukar memang membayangkan manusia modern dengan etos kapitalisme yang terus meronda dalam benaknya, bisa memahami apalagi menjalankan laku wu-wei tersebut, tapi cobalah kita simak sajak meditatif ini:

 

kenapa kamu di situ. di situ tidak bisa

duduk.kemarilah. dekat dengan leher-

ku,    mendengarkan  suara  air   terjun

yang turun  dari  lidahku.jangan takut,

di sini tak ada sejarah. tidak ada  yang

mencatat riwayat hidupmu.   air terjun

tidak bisa  merekam   kenanganmu.air

terjun tidak   pernah  duduk  dan mem

beli   mentega.   dia   terus   bernyanyi

membuat   rumah air.   tetapi    kenapa

kamu berdiri di situ terus.di situ kamu

tidak bisa duduk. berdiri  itu  melelah-

kan,   seperti   manusia.   engkau  tahu

tentang berdiri dan tentang     manusia

tapi tak tahu ada  air terjun yang turun

dari  lidahmu.  jangan   berdiri    terus

…………

 

…………………………kalau di situ

terus,   dan  percaya   pada ingatanmu

engkau  juga   tidak bisa  tidur.   lelah

sekali tidak bisa tidur,seperti manusia

engkau    tahu itu,    kesedihan    yang

disimpan di  bawah bantal   tidur  kita

ia    membisikan terus   tentang manu

sia yang menangis…………………

………….

 

kemarilah, agar kamu bisa   merasakan

duduk. di sini. melihat bintang-bintang

dalam air   terjun tubuhmu. merasakan

satu saat  ketika   pikiranmu seperti air

terjun yang memeluk tubuhmu

 

( “air terjun tidak dari bawah bantal” )

 

Selanjutnya, simak pula dua buah sajak berikut ini:

 

aku   tidak   berjalan   ke  sana. 4 meter

kurang   10 menit.  Seorang  anak kecil

berusia  50  tahun menungguku di sana

hujan   masih    menggendongnya   dan

masih    menggendongnya .  aku   tidak

mengenal  anak  kecil berusia 50 tahun

itu dan   aku  tidak    berjalan ke    sana

kemarin    aku   menabraknya   dengan

sepedaku.lalu hujan  menggendongnya

dan masih menggendongnya.   kemarin

aku  menabraknya.  seperti ada  sepeda

juga yang  menabrak  punggngku.  dan

hujan masih menggendongnya.dan aku

tidak  sedang  berjalan ke sana.dan aku

sedang   melarikan   sepedaku   dari  4

meter kurang 10 menit

…………

 

manusia adalah  seluruh kelelahanku

untuk mengingat………………….

…………..

 

( “4 meter kurang 10 menit” )

 

aku  pergi ke  kantor pos   2 jam   yang

lalu.pacarku mengatakan    hati-hati  di

kantor pos.     di kantor pos   ada   kera

warnanya   tidak   lagi   abu-abu    atau

hitam.   tapi biru.  warna  kera itu  biru

aku   mengingatnya.   tapi aku tak  bisa

mengingat ada kera di   kantor pos.aku

hanya bisa mengingat warna biru pada

kera itu.

……………..

 

kenapa   pacarku  membuat   peringatan

begitu. mungkin   dia ingin mengatakan

aku   adalah  kera. biru  warnanya   dan

pergi    ke   kantor   pos   hari    minggu

mungkin dia  sudah  tidak  mencintaiku

lagi. mungkin juga cinta baginya sudah

menjadi seekor kera biru warnanya dan

pergi ke kantor pos   yang  tutup di hari

minggu

 

 

aku  tak  tahu siapa   yang telah  mene

mukan  diriku   telah   berwarna   biru,

seperti selembar   surat di depan  pintu

kantor pos yang tutup di hari   minggu.

aku tak tahu siapa yang telah menemu-

kan warna biru  seperti hari libur yang

terapung-apung   di depan   kantor pos

…………

 

( “aku pergi mengantar surat” )

 

 

Di dalam kedua sajak di atas, subjek bertransfigurasi menjadi objek dan objek bertransfigurasi menjadi subjek. Keduanya laksana dua buah cermin yang saling berhadap-hadapan dan saling merenungi diri, yang satu lenyap ke dalam yang lainnya dan merasa “lebih dia dari dia”. Sang aku menjadi berlapis-lapis: aku yang menabrak bermetamorfosa menjadi aku yang ditabrak, monyet yang dicari-cari ternyata mengendon dalam diri. Ini mengingatkan kita pada pencarian mistis yang galib kita temukan pada sajak-sajak para penyair sufi, seperti misalnya kita temukan dalam karya Farid ud-Din Attar yang sangat terkenal itu, Mantiq ut-tayr: tiga puluh burung yang terbang menziarahi ngarai demi ngarai makrifat, melintasi kecuraman demi kecuraman tebing spiritual untuk mencari Simurgh, sang raja burung, hanya untuk menemukan bahwa ternyata merekalah Simurgh itu, sang raja burung yang mereka cari-cari itu.

Octavio Paz—perkenankanlah saya menyitir dia lagi di sini—suatu ketika pernah mengatakan bahwa untuk mentransenden, menerobos hingga mengatasi sesuatu, kita harus menyelusup ke dalam sesuatu itu, menyuruk, lalu membobolnya dan keluar pada tataran lain. Pada kasus Afrizal, “sesuatu” yang diselusupi dan dibobolnya itu adalah peradaban urban dengan segala renik-peliknya, untuk kemudian keluar pada tataran lain, yang transenden, melalui momen-momen iluminasi yang tersingkap dalam atom-atom waktu. Demikianlah, sajak-sajak Afrizal di atas telah meniupkan kembali ruh spiritual yang selama ini melindap dalam ingar bingar belantara urban. Sajak-sajak tersebut seakan-akan sebuah kiswa—kain beludru hitam bersulamkan emas yang diliputkan ke ka’bah oleh para peziarah yang datang dari pelbagai penjuru bumi—yang dipersembahkan Afrizal bagi para peziarah urban yang sudah terlalu lama merasa lelah menjadi manusia. Sebuah kiswa dari kata dan lambang, dari imaji dan bunyi (juga sunyi), yang ditenun dari warna-warni benang wol kenyataan sehari-hari manusia urban itu sendiri.

Barangkali pada akhirnya, sebagaimana para penyair besar lainnya entah dia mukim di Indonesia atau di Cina, di Meksiko atau di Amerika, yang hidup pada abad ini maupun pada sepuluh abad lampau, Afrizal pun mendambakan (dan mencoba untuk menemukan) Rumah (dengan R besar) atau The Concealed Syimmetri, simetri tersembunyi: kebenaran yang, seperti kipas; berganti-ganti memperlihatkan dan menyembunyikan wajah cantiknya di balik (dan di antara) puspa ragam peristiwa, benda-benda, manusia. Rumah itu, dalam hal Afrizal, pernah disinggahinya saat pertama kali ia menapak perjalanan kepenyairannya. Sehingga, apabila seseorang menziarahi sajak-sajak Afrizal dari mula hingga akhir—setelah menyelusup di antara serakan benda-benda mundan, menyuruk jauh ke lorong-lorong gelap bahasa, lalu menerobos persimpangan waktu melintasi Abad Yang Berlari sampai tiba nun di Atap Bahasa—dia akan seperti berjalan menelusuri sebuah lingkaran: langkah pertama adalah langkah terakhir, keberangkatan adalah kepulangan.***

SENARAI RUJUKAN

***

 

Aitken, Robert. 1985. A Zen Wave: Basho’s Haiku & Zen, New York dan Tokyo:

John Watherhill, Inc.

Anwar, Chairil. 2000. Derai-Derai Cemara, diberi kata pengantar oleh Asrul Sani dan

kata penutup oleh Agus.R.Sardjono, Jakarta: Horison.

Andangdjaja, Hartojo, 1991. Dari Sunyi ke Bunyi: Kumpulan Esai Tentang Puisi, diberi

kata pengantar oleh Goenawan Mohammad, Jakarta:Pustaka Utama Grafiti.

Attar, Farid ud-Din, 1954. The Conference of The Birds: A Sufi Fable, terj. C.S Nott,

Colorado: Shambala Publications Inc.

Bachri, Sutardji Calzoum. 1981. O Amuk Kapak: Tiga Kumpulan Sajak, Jakarta: Sinar

Harapan.

Boorstin, Daniel.J. 1985. The Discoverers, New York: Vintage Books.

Brater, Enoch. 1974. The Empty Can: Samuel Beckett and Andy Warhol, Sumber:

Journal of Modern Literature, Vol. 3, No. 5, From Modernism to

 Post-Modernism, pp. 1255-1264. Indiana University Press.

(Online) (http: www.jstor. org./stable/3831008, diakses: 19/12/2008).

Dyer, Jennifer. 2004. The Metaphisics of the Mundane: Understanding Andy Warhol’s

Serial Imagery, Sumber: Artibus et Historiae, Vol. 25, No. 49, pp.33-47.IRSA s.c.

(Online) (http: www.jstor. org./stable/1483746, diakses: 19/12/2008).

Gelb, I.J. 1952.  A Study of Writing, London: Routledge& Kegan Paul.

Gordimer, Nadine. 2004. Writing and Being: Kritik Sastra Poskolonial dan

Postrukturalisme, terj. Anton Kurnia, Yogyakarta: Jalasutra.

Hamzah, Amir. 2001. Nyanyi Sunyi, Jakarta: Dian Rakyat.

Heryanto, Ariel. 1996. Bahasa dan Kuasa: Tatapan Posmodernisme, dalam Yudi Latif

dan Idi Sbandi Amin (ed), Bahasa dan Kekuasaan: Politik Wacana di Panggung Orde Baru, Bandung:Mizan Pustaka.

Leaman,Oliver. 2005. Estetika Islam: Menafsirkan Seni dan Keindahan, terj.Irfan

Abubakar, diberi kata pengantar oleh Abdul Hadi WM, Bandung: Mizan Pustaka.

Lightman Alan, 2006. Mimpi-Mimpi Einstein, terj. Yusi Avianto Paraeanom, Jakarta:

KPG

Malna, Afrizal.1995. Arsitektur Hujan, Yogyakarta:Bentang

___________. 1999. Kalung Dari Teman, diberi kata pengantar oleh Dami. N. Toda,

Jakarta: Gramedia.

___________.2002. Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing, Yogyakarta: Bentang.

__________. 2008. Teman-Temanku dari Atap Bahasa, diberi kata pengantar oleh

M.Zamzam Fauzanafi, Yogyakarta: Lafald Pustaka.

Mattick, Paul. 1998. The Andy Warhol Philosophy and the Philosophy of Andy Warhol,

Sumber: Critical Inquiry, Vol. 24. No. 4. pp, 965-987, pp.  The University of Chicago, (Online) (http: www.jstor. org./stable/1344114, diakses:19/12/2008).

Pamuk, Orhan. 2008. My Name Is Red, Namaku Merah Kirmidzi, terj. Atta Verin,

Jakarta:Serambi.

Paz, Octavio. 1969. Presence and the Present, Sumber: The Hudson Review, Vol.22,

pp.48-62: The Hudson Review, Inc.

(Online) (http://www.jstor.org/stable/3849220, diakses: 01/07/2009).

__________. 1978. Water Writes in Plurals, Sumber: Diacritics, Vol. 8, No.4 hal. 41-54:

The John Hopkins University Press,

(Online) ( http://www.jstor.org/stable/464738, diakses: 01/07/2009 )

_________. 1979, Poetry and History, dalam Octavio Paz: Selected Poems,  New York:

Penguin Books.

________.1995. Puisi dan Modernitas, terj. Florent Stoffer dan Budi Setiawan, Jurnal

Kalam Edisi 5.

_________. 1997. Levi Strauss:Empu Antropologi Struktural, terj. Landung Simatupang,

diberi kata pengantar kritis oleh Heddi Shri Ahimsa Putra, Yogyakarta: LKIS.

_________.2002. Octavio Paz: Puisi dan Esai Terpilih, terj.Arif Bagus Prasetyo,

Yogyakarta:Bentang.

Pinski, Robert, 2002. Democracy, Culture, and the Voice of Poetry, Princton dan Oxford:

Princton University Press.

Rampley, Matthew. 2005. Visual Culture and the Meaning of Culture, dalam Matthew

Rampley (ed) Exploring Visual Culture: Definitions, Concepts, Contexts,

Edinburgh:Edinburgh University Press.

Schimmel, Annemarie.2003. Dimensi Mistik dalam Islam, terj. Sapardi Djoko Damono,

dkk. Jakarta:Pustaka Firdaus.

_________________.2005. Menyingkap Yang Tersembunyi:Misteri Tuhan dalam Puisi-

Puisi Mistis Islam, diterjemahkan dan diberi kata pengantar oleh Saini K.M.,

Bandung: Mizan.

Setiadi, Tia. 2009. Walt Whitman: Sebuah Biografi dan Sepilihan Karya, Yogyakarta:

Interlude bekerjasama dengan Parikesit Press.

________. 25 Juli 2009. Dari Khotbah Bunga ke Sungai Tak Bicara, Jakarta: Rubrik

Teroka, harian Kompas.

Situmorang, Sitor. 1989. Bunga Di Atas Batu ( Si Anak Hilang ): Pilihan Sajak 1948-

1988, Jakarta:Gramedia.

Tzu, Lao. 1955. Tao Te’ Ching: Wisdom of Ancient China, diterjemahkan dan diberi kata

pengantar oleh R.B. Blakney, New York: Mentor Books.

Updike, John. 1984. Hugging the Shore: Essay and Criticism, New York: Vintage books.

Walcott, Derek. 1992. The Antilles: Fragments of Epic Memory, Nobel e-Museum, situs

resmi Akademi Nobel.

Whitman, Walt. 1954. Leaves of Grass, diedit dan diberi kata pengantar oleh Sculley

Bradley, USA: Mentor Books.

_____________1963. The Collected Writings of Walt Whitman:The Early Poems and

The Fiction, diedit dan diberi kata pengantar oleh Thomas. L.Brahser, USA:

New York University Press.

Willis, Paul.2005. Invisible Aesthetics and the Social Work of Commodity Culture,

dalam David lingis dan John Hughson (ed), The Sociology of Art: Ways of

Seeing, New York:Palgrave Macmilan.

WM, Abdulhadi. 3 Februari 1984, Nafas Sufisme dalam Sajak-sajak Afrizal Malna,

Jakarta: harian Suara Karya. Naskah ini diperoleh dari PDS HB. Jassin.

Yeats, WB.1992.The Poems, diedit dan diberi kata pengantar oleh Daniel Albright, UK:

David Campbell Pubhlishers.

Check Also

MENGAKRABI GELO

Oleh Sarabunis Mubarok   Ada ngalogat sastra di Lesbumi Kota Tasikmalaya pada hari sabtu 28 …

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of

Tanya Situ Seni

)
    is typing...

    Fill in the form below to send us a message.

    Send Message Cancel