Home / PROSA / Firstiana Annisa (bagian delapan) oleh: Tinov

Firstiana Annisa (bagian delapan) oleh: Tinov

Bagian Delapan

“Siang teman-teman!”

“Siang…”

“Kenalin nih anggota baru kita.”

“Halo semua, kenalin namaku Annisa. Aku anak sastra Indonesia semester dua”

Perkenalanku dengan komunitas jurnalistik kampus membuka dunia baruku. Awal yang sederhana mengantarkanku menjadi seorang profesional di bidang ini. Dari satu buku bacaan dalam seminggu yang harus kuselesaikan, perlahan bertambah dan menjadi kebutuhan penunjang liputanku.

Sesederhana itu pula aku berkenalan dengan Dewa Baskara anak akuntansi yang menjadi partnerku di tiap liputan. ‘Mas Bas’ menjadi panggilan akrabku selanjutnya. Kami terpaut dua angkatan kuliah di sini. Perguruan Tinggi Negeri impian sebagian besar anak sekolah. Apapun namanya, ujian masuk PTN cukup objektif dan menjadi satu di antara mahasiswa yang diterima merupakan sebuah kebanggaan tersendiri. Apalagi masuk melalui ujian bukan dengan jalan jalur khusus. Jalur yang memang khusus orang-orang yang kurang percaya diri dengan kemampuan otaknya tapi percaya diri secara financial karena mereka harus membayar jauh lebih mahal dibanding kami yang reguler. Terima kasih ya Allah aku bisa lolos dari ribuan peserta yang mempunyai tujuan yang sama untuk menghuni kampus ini.

“Annisa!” Teh Rosa memanggilku.

“Iya, Teh?”

Kuhampiri Teh Rosa Sang Pemred buletin kampus ini. Aku berdiri di depan mejanya. Tangannya berhenti dari keyboard komputer dan mengisyaratkanku untuk duduk di sebelahnya. Aku duduk di sebelah kanan Teh Rosa yang berpenampilan sporty. Dengan balutan celana jeans belel, kemeja kotak-kotak, kerudung instan putih dan sneakers biru. Wajahnya tegas dengan tulang rahang yang kuat menopangnya. Kulitnya sawo matang tapi tetap bersih meskipun sering terkena debu saat meliput berita.

Redaksi ‘Kampusku’ ini hanya sebentuk ruangan seluas dua puluh meter persegi. Ada enam komputer membentuk huruf U untuk semua anggota. Tak ada meja untuk sekedar meeting atau briefing. Hanya karpet berwarna biru tua di tengah ruangan. White board menempel di dinding kiri ruangan bercat krem yang sudah mulai pudar dan penuh noda. Kami pernah merencanakan untuk mengecat ulang dinding agar lebih terlihat segar tapi tak ada waktu yang bisa mewujudkannya. Di sebelahnya ada selembar styrofoam kuning untuk menyimpan pesan siapa saja. Ada dispenser yang terus menyala karena kerap digunakan untuk menyeduh kopi.

“Annisa, bacaanmu aku tambah ya!” Ucap Teh Rosa dengan sedikit menggodaku dengan kedipan mata kanannya.

“Nambah ya, Teh?” Tanyaku ragu.

“Kan kamu dah tiga bulan, gabung di sini. Jadi… sebulannya harus enam buku. Cuma nambah dua kan?”

“Hehe siap Teh.”

“Bisalah! Yakin bisa!”

“Oke.”

“Harusnya kan delapan ya, Teh?” Mas Bas tiba-tiba bersuara.

“Bener tuh!” Erwin ikut berkomentar. Sobat sekelasku yang gondrong itu menyeringai meledekku.

“Apa lagi ledekan buat aku?” Tantangku.

“Udah ah entar nangis! Kasian jauh dari Emak Bapaknya.” Teh Rosa akhirnya berpihak.

Gurauan kami berempat terhenti saat Risman tiba-tiba datang dengan wajah yang pucat dipapah oleh Zul teman sekelasnya. Tangan dan pelipis kirinya berdarah. Dani muncul di belakang mereka berdua membawa helm dan tas Risman. Didudukannya Risman di karpet. Teh Rosa dengan cepat menyambar telepon yang menempel di dinding. Dihubunginya petugas poliklinik kampus untuk datang. Mas Bas mencoba melepaskan jaket yang dikenakan Risman dengan sangat hati-hati takut mengenai luka di tangannya. Segelas air putih kuberikan untuk sekedar mengurangi ketegangan yang masih terlihat di mata Risman.

“Dasar gila mereka itu!” Dani bersungut-sungut sambil mengepalkan tangannya. Wajahnya memerah menahan amarah. Topi hitamnya yang terbalik menutupi jerawat yang menghiasi dahinya.

“Siapa yang gila?” Erwin penasaran.

“Tuh anak kehutanan musuh temennya si Erwin!” Dani menjawab dengan geramnya.

Petugas klinik kampus datang langsung membersihkan dan membalut luka Risman dengan perban begitu cekatan. Tak lama kemudian petugas itu pamitan disusul oleh Zul yang harus masuk kelas karena ada quis.

“Daku caw dulu ya guys, ada quis nih. Bahaya kalo daku enggak masuk.” Jelasnya sambil tersenyum.

“Makasih ya Zul. Salam buat yang ngasih quis. Hahaha…” Canda Erwin. Zul hanya berlalu meninggalkan kami.

“Jadi gimana kejadian sebenernya?” Teh Rosa akhirnya menanyakan ikhwal kejadian yang menimpa Risman. Sambil menarik napas dan menghembuskannya kembali, Risman mulai menceritakan semuanya.

“Tadi itu aku sama Dani pulang meliput demonstrasi mahasiswa yang menuntut diturunkannya spp di kampus batas kota Bandung dan Sumedang. Aku dibonceng Dani. Ketika kami melewati pertigaan dekat kampus itu tiba-tiba ada lima mahasiswa yang memaksa kami untuk turun…”

“Eh belum sempat aku markir motor, dia sudah dipukuli kelima orang gila itu!” Sambar Dani.

“Untung ada satpam kampus yang lewat. Ternyata mereka salah target. Disangkanya aku ini Risman yang mereka cari. Katanya sih mereka ada masalah gitu sama Risman yang anak mesin.”

“Kriminal tuh! Ya ya aku tahu si Risman anak mesin tingkat akhir. Enggak bisa bedain gitu wajah dia yang imut-imut gini punya masalah sama mereka…” Kata Erwin yang membuat kami tertawa.

“Trus trus kamu aduin ke polisi enggak?” Tanya Teh Rosa.

“Enggak ah Teh, biar satpam kampus aja yang nanganin.” Jawab Risman pasrah.

“Terlalu baik dia mah, Rosa.” Dani menyesalkan keputusan Risman yang tidak melaporkan pelaku ke polisi.

Ponsel Dani berdering. Dani pun terlibat pembicaraan yang cukup serius dengan si penelepon. Entah apa yang mereka bicarakan. Nada bicaranya mulai meninggi, sorot matanya terlihat marah.

“Enggak bisa gitu dong! Tempat ini bukan cuma milik kalian. Ada empat unit kegiatan di sini. Kalau kalian mau make gedung, enggak usah mengakuisisi tempat kami. Kami juga punya hak yang sama. Rosa, nih si Jangkung mau ngomong!”

“What’s up Bro? Ada apa?”

Teh Rosa mencoba mendengarkan penjelasan si Jangkung. Si Jangkung yang dimaksud adalah Pandu pemipin teater kampus. Tubuhnya yang tinggi membuatnya dijuluki si Jangkung. Dahinya mengernyit untuk kemudian mengangguk-anggukan kepala perlahan.

“Oke, ke sini aja deh nanti kita omongin lagi. Oke oke aku tunggu sekarang.”

Diberikannya ponsel Dani yang hanya menjawab singkat suara Pandu di telepon lalu mematikannya. Sepuluh menit kemudian Pandu datang sambil nyengir.

“Hei guys! Gue datang…” Sapanya riang tanpa memedulikan Dani yang masih manyun.

“Jadi gimana nih, Ros?” Tanyanya sambil duduk bersiladi dekat pintu.

“Jelasin dulu dong sama mereka biar enggak ada kesalahpahaman.”

“Oke oke, wait wait lo kenapa my Bro?” Pandu kaget melihat Risman yang terluka. Matanya yang sipit semakin tak terlihat ketika berusaha meneliti Risman di balik kacamatanya yang tebal.

“Biasalah insiden kecil, Kang.” Jawab Risman tanpa mau menjelaskan perihal lukanya.

“Oh…gini lho guys. Gue sama anak-anak mo ada acara nih selama seminggu. Lomba teater sama workshop gitu buat anak-anak SMA. Rencananya sih bulan depan. Trus gue pikir basecamp kalian bakal kepake buat tempat pendaftaran. Makanya tadi nelpon lo dulu, Dan. Cumaikut seminggu gitu buat tempat daftar. Itu jugague mo minta bantuan lo lo padabuat jadi panitia atau petugas pendafarannya. Ada honornyalah. Hehe gimana neh guys? Gue ngarep banget kalo kalian bisa ngizinin.”

“Aku tanya pendapat mereka dulu kali ya, Pan.” Kata Teh Rosa.

“Oke…” Kata Pandu sambil menatap kami satu per satu.

“Gimana menurut kalian?”

“Kalo gitu sih ya enggak apa-apalah.”

Dani bicara dengan nada datar tanpa amarah lagi. Dia memang seorang temperamen. Sedikit saja tersinggung, emosinya meledak-ledak.

“Yang lain gimana? Setuju? Maksudnya ngizinin enggak?” Tanya Teh Rosa sambil mengedarkan pandangannya ke semua anggota. Kami hanya menganggukkan kepala tanda setuju.

“Ya udah kami ngizinin nih Pan, tinggal kamu pastiin aja waktunnya. Petugasnya aku sama Annisa. Siap, Nis?”

“Oke Teh.”

“Sip sip thank you Bro, Sis. Gue cabut dulu.” Tubuh jangkung kurus dan putih itu pun berlalu.

“Lain kali…jangan ngadepin sesuatu pake otot, Dan! Positive thinking, right? iKalian juga ya!” Kata-kata bijak keluar dari mulut Mas Bas.

“Setuju tuh.” Teh Rosa pun mengiyakan.

“Ros, aku balik ya. Biasa Sabtu gini aku harus siap-siap ke DT.” Pamit Mas Bas.

“Senen dah ready ya liputan yang baru!”

“Siap Bos!”

“Aku juga pulang ya Teh.” Ucapku.

“Enggak bisa gitu kalian masing-masing? Datang bareng, pulang bareng, dah kaya perangko aja nempel satu sama lain. Dah gitu, manggil juga beda dari yang laen. Tinggal ijab qabul, sah! Hahaha.”

Wajah kami memerah ketika Teh Rosa menggoda. Ketiga laki-laki penghuni ruangan pun ikut berdehem. Kami meninggalkan ruangan tanpa menghiraukan lagi apa yang mereka lontarkan.

“Mas, kayanya ikut SSG asik juga ya?”

“Banyak manfaatnya Tiana. Kalo kamu mau, ikutan PPM aja.”

“PPM? Apaan tuh?”

“Program Pesantren Mahasiswa. Jadi mahasiswa kaya kita gini bisa mondok di sana dengan program belajar yang tidak mengganggu kuliah kita karena mulainyaselepas maghrib gitu.”

“Caranya?” Tanyaku antusias

“Ikut tes aja di bulan Juni, kalo kamu lulus tes, kamu bisa langsung mondok di sana dengan membayar biaya mondok yang lebih murah dibanding ngekos. Biasanya maksimal jadi santri di sana selama dua tahun.”

“Mauuu, nanti anterin aku ya Mas!”

“Oke, kamu langsung ke kosan sekarang?”

“Iya, Mas?”

“Aku langsung ke DT. Aku enggak nganterin kamu ya.”

“It’s ok, Mas. Assalamualaikum.”

“Waalaikumussalam.”

Mas Bas mengantarkanku dengan tatapan dan lambaian tangannya sampai aku berada di pertigaan kampus.

Check Also

Firstiana Annisa (bagian dua belas) oleh: Tinov

Bagian dua belas 12.45 pesawat yang membawaku sampai di Dubai International Airport pada terminal yang …

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of

Tanya Situ Seni

)
    is typing...

    Fill in the form below to send us a message.

    Send Message Cancel