Home / PROSA / Firstiana Annisa (bagian dua belas) oleh: Tinov

Firstiana Annisa (bagian dua belas) oleh: Tinov

Bagian dua belas

12.45 pesawat yang membawaku sampai di Dubai International Airport pada terminal yang sama untuk kelas bisnis dan ekonomi, yang membedakan hanya pintu arrival atau transfer. Pesawat akan merapat di pintu kedatangan dengan menggunakan garbarata ke pintu kiri. Menunggu bagasi hanya sebentar untuk kemudian masuk costum clearence yang begitu ketat di x-ray scanner. Di sini all departure gates tidak seperti di Sukarno-Hatta yang ada beberapa terminal. Dubai memang hampir sempurna di segala hal. Penumpang tidak akan tersesat dengan adanya monitor ‘departure-flight information’ yang memuat informasi yang berada di beberapa titik dan mudah ditemukan. Atau kita tinggal mencari running teks ‘welcome to Dubai’ yang memuat peta petunjuk sarana yang kita butuhkan. Kita tinggal sntuh layarnya, maka muncullah informasi yang kita butuhkan. Bahkan loungenya user friendly too much dan sangat luas seperti mall. Ini baru benar-benar bandara internasional namanya.

“Annisa…”

Kucari sumber suara perempuan muda yang pernah kudengar sebelumnya. Afrah melambaikan tangan kanannya karena tangan kirinya memegang karton bertuliskan namaku. Ayahnya berdiri sambil tersenyum di sampingnya. Kubalas lambaian tangannya dan berjalan mendekat.

“Assalamualaikum.”

“Annisa… kaifa haluki?” (Apa kabar?) Sapa mereka. Afrah memelukku seperti pelukan seorang kakak perempuan kepada adiknya.

“Waalaikumussalam, alhamdulillah. Wa anti?” (Dan kamu?)

“Alhamdulillah…”

“Kaifa halak ya ‘Am Ahmed?” Begitu aku memanggilnya. Jika di Indonesia ada sebutan Om, maka di sini aku memanggilnya ‘Am dari ‘Ammun, selintas terdengar sama, artinya paman.

“Ana jayidah ya Annisa. Okay Annisa, ahlan wa sahlan…We must to go now because i have an appointment with a friend. We can talk at home later.” (Saya baik, Annisa. Baik Annisa, selamat datang… Kita harus segera pergi karena saya ada janji dengan teman. Kita ngobrol lagi nanti di rumah.)

“Owh okay…” Jawab Annisa tersenyum.

Afrah menggandengku menuju mobilnya. Mitsubisi outlander hitam melaju menuju Deira, tempat tinggal mereka, di Gold Souk dekat pantai tentunya. Lokasi dengan banyak bisnis, mall, dan pusat hiburan modern. ‘Am Ahmed duduk di sebelah sopir pribadinya. Disdasha lengkap seperti kebanyakan orang lainnya ia kenakan untuk membalut tubuh tinggi besarnya. Wajahnya khas orang kulit hitam dengan kepala plontos tertutupi ghurta. ‘Am Ahmed memang bukan Emirati, orang tuanya adalah imigran dari Sudan sejak tahun 70an. Orang tuanya yang pensiunan tentara di Sudan memutuskan untuk hijrah ke Dubai mengadu nasib untuk mencari penghidupan yang lebih baik. ‘Am Ahmed dibesarkan di Dubai dengan segala tantangan hingga menjadi seorang pebisnis yang berhasil. Papa mengenalnya ketika kunjungan para pebisnis UAE ke Indonesia. Beliau menjadi seorang di antaranya. Pribadinya yang rendah hati membuat pertemanan Papa dan beliau terjalin begitu kuat. Tidak hanya bisnis yang mereka jalin, secara emosional, kami adalah keluarga. Berkali pula beliau memintaku untuk tinggal di Dubai dan baru kesampaian sekarang.

Salem, dalam bahasa Indonesia dilafalkan Salim, sang sopir pribadi ‘Am Ahmed serius dengan kemudinya. Dia tidak mengenakan seragam layaknya para sopir di keluarga kaya. Dia mengenakan baju yang sama dengan majikannya, hanya sorban yang membedakannya. Meskipun wajahnya sangar dengan kumis tebalnya, asli India ini sangat sopan dengan kami. Populasi penduduk Dubai memang didominasi orang India dan Pakistan, selebihnya penduduk asing dari berbagai negara. Sedangkan Emiratinya hanya 30 persen.

Afrah terus saja mengajakku ngobrol. Dari kabar sampai rencana kami nanti kuliah. Dia masih tetap ceria seperti saat pertama ketemu di Jambi. Celana jeans blue black slim fit dan t-shirt biru muda bergambar seorang gadis kecil kulit hitam berambut keriting, bertopi fedora putih, membawa seikat bunga mawar warna-warni. Gadis itu seperti gambaran Afrah kecil bagiku. Rambut keriting Afrah dikepang ke belakang, hingga tidak terlihat begitu mengembang, manis. Dia lebih mirip ayahnya bila dibandingkan dengan almarhumah ibunya yang meninggal setahun yang lalu karena kanker serviks. Ibunya Afrah adalah seorang Sudan yang juga masih sepupu ‘Am ahmed. Mereka menikah karena ada perjanjian sebelumnya antara orang tua ‘Am Ahmed dengan orang tua istrinya. Meskipun mereka menikah dengan jalan dijodohkan, mereka berdua tetap bisa menerimanya sebagai jodoh yang diberikan oleh Allah apapun caranya.

Tentu saja Afrah menjulang tinggi dan besar meskipun dia hanya mengenakan flat shoes biru tua. Aku akan terlihat kecil jika berada di sampingnya, tinggiku hanya sepundaknya.

Tidak terasa empat puluh menit berlalu ketika kami sampai di sebuah benteng dengan pintu selebar tiga meter. Seorang laki-laki tua Arab membukakan pintu dengan senyuman menghiasi wajah keriputnya. Ternyata kami harus melewati taman yang mengelilingi pekarangan rumah bergaya Turki dengan cat putih. Kami turun dari mobil untuk kemudian melewati beberapa anak tangga menuju pintu utama. Di sebelah kanan kita bisa menggantungkan topi dan menyimpan payung. Di sebelahnya ada lemari untuk menyimpan mantel. Ada jarak sekitar lima meter dari pintu utama ke ruang tamu. Afrah membawaku naik tangga ke sebelah kiri menuju kamar tidurnya dan calon kamar tidurku. ‘Am Ahmed tidak ikut turun bersama kami karena ia harus langsung pergi ke kantornya.

Seorang perempuan paruh baya membawakan koperku di belakang kami. Sebuah kamar perempuan yang sangat lengkap dan impian semua gadis menyambutku.

“Sukron, Aise.” (terima kasih, Aise) Kata Afrah kepada perempuan itu. Aise tersenyum dan menawari kami untuk makan siang sebelum istirahat. Untuk bahasa Arab aku masih pasif, karenanya aku hanya bisa mengerti pembicaraan mereka tapi belum bisa mengucapkannya dengan lancar.

“Sukron.” Ucapku kepada Aise sebelum dia berlalu dari kamar.

“Annisa, it’s your room now. I have prepared this from a month ago and i hope you can like it.” (Annisa, ini jadi kamarmu sekarang. Aku siapkan sejak sebulan yang lalu dan kuharap kamu menyukainya) Afrah berkata sambil duduk di sisi tempat tidur dengan sprei katun pink polos.

“So much Afrah! Thank’s…” (Banget, afrah! Terima kasih)

“Take it easy. Owh ya, i will waitfor you in dinning room. I have special surprise for you.” (Nyantai aja. Oh iya, aku tunggu di ruang makan ya. Aku punya kejutan special buatmu.)

“Really? What’s that?” (Beneran? Apaan?)

“O o no no no, bye…”

Afrah pergi meninggalkanku di kamar baruku dengan kerlingannya. Setelah salat dhuhur aku langsung ke bawah seperti petunjuk Afrah tadi. Kalau saja aku tidak bertanya kepada Laila, asisten rumah tangga selain Aise, mungkin aku tersasar ke gudang. Afrah sudah menungguku di sana.

“Ta da… it’s rendang!” Afrah membukakan pinggan keramik berwarna krem untukku. Benar-benar kudapatkan rendang sapi sama persis dengan buatan Mama. Sama persis dengan yang kusantap tadi malam di Jakarta. Mataku terbelalak melihatnya.

“What….!”

“Yeah! Aise, Laila, and i were cooking rendang two days ago. I was searching before, from materials, flavors, and how to make this. It was so interesting for us.” (Yah! Aise, Laila, dan aku memasaknya dua hari yang lalu. Aku mencari tahunya, mulai dari bahan, bumbu, dan cara membuatnya. Ini sangat menarik buat kami.)

“Thank you so much Afrah, you make me speechless.” (Terima kasih banyak Afrah, aku enggak bisa ngomong apa-apa)

“O come on, take it easy…take it easy…my sis! Let’s lunch Annisa.” (O… santai santai… saudariku! Ayo makan siang, Annisa!)

“Okay.”
Kami hanya berdua, ya, makan siang berdua. Aku membayangkan sebelumnya Afrah menikmati makan siang sendiri saja sejak ibunya meninggal karena kanker serviks enam bulan yang lalu. Alhamdulillah ya Allah aku masih bisa merasakan kasih sayang Mama sampai detik ini. Ah…Mama, ya ya aku harus segera mengabari Mama Papa. Sejurus kemudian kuhabiskan makan siangku dengan segelas orange juice. Aise dan Laila segera merapikan meja makan dan menawari kami pie apel yang disajikan di atas meja keluarga dengan sofa warna maroon.

“I will go to call my mom and dad, Afrah. Just a minute.” (Aku nelepon mama papa dulu sebentar, Afrah)

“Owh okay, say salam for them.” (Baik, salam buat mereka)

“Okay.”

Kutelepon Mama dan Papa yang sudah menunggu di Jakarta. Rasa rindu tiba-tiba hadir begitu saja. Padahal baru beberapa jam kami berpisah. Mungkin Bandung-Jambi masih terasa dekat, tapi Indonesia-Dubai? Aku baru merasakan mereka begitu berarti tatkala mereka jauh dariku. Mata Afrah menerawang jauh ke masa-masa bersama ibunya. Aku yakin itu!

“Afrah, this…” (Afrah, ini…)

“What? For me?” (Apa? Untukku?)

“Yes, My Mom wants to talk with you.” (Ya, Mama pengen ngomong sama kamu.)

Afrah menerima ponselku dan berbicara dengan Mama. Wajahnya berseri dengan senyum yang sangat bahagia di sana. Entah apa yang disampaikan Mama hingga membuat Afrah begitu bahagia. Dikedipkan matanya yang membuatku makin penasaran. Mama paling bisa membuat orang lain bahagia. Dikembalikannya ponselku. Aku pun kembali ngobrol dengan Mama tentang pesan-pesannya hanya untuk sekedar mengingatkanku.

Check Also

Firstiana Annisa (bagian sebelas)

Bagian Sebelas Wajah-wajah penuh rona bahagia bertebaran di seluruh penjuru kampus. Ceremonial wisuda sekaligus dies …

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of

Tanya Situ Seni

)
    is typing...

    Fill in the form below to send us a message.

    Send Message Cancel