Home / PROSA / Firstiana Annisa (bagian dua) oleh: Tinov

Firstiana Annisa (bagian dua) oleh: Tinov

Bagian Dua

Seminggu sudah aku di sini, di kosan yang kutinggali. Bandung. Ya, aku kembali ke Bandung tempat dulu aku bergelut di bangku kuliah beberapa tahun yang lalu. Aku diterima bekerja di sebuah stasiun tv swasta milik sebuah pondok pesantren terkenal di Bandung, Daarut Tauhid, yang nota bene adalah tempatku mondok sebagai santri ahwat di program PPM angkatan dua selama dua tahun. Program ini mewadahi para mahasiswa yang ingin mondok di kobong Aa. Begitu kami menyebut pemimpin pondok. DT sangat terkenal hingga ke pelosok. Terlebih ketika berita poligaminya Aa tersebar di media. Banyak ibu-ibu yang jadi emaah Aa membuang pernak-pernik DT gara-gara Aa ‘nyandung’. Ah mungkin niat mereka masih kurang kuat untuk thalabul ilmi. Hasilnya, ketika orang yang kita sukai bercela, kita pun menghentikan belajar kita. Sebaiknya, dari mana dan dari siapa pun ucapan baik itu keluar, terima dan amalkan, pun dari seorang penjahat. Tidak Perlu rasanya kita menghakimi seseorang yang belum tentu kebenarannya. Mungkin dia lebih mulia tinimbang kita.

Jadi teringat ceramah Aa yang isinya tentang alur pengalaman hidupnya. Semua tidak seperti yang kita lihat. Ada tiga babak yang dijalaninya. Babak tauhid yang begitu pedenya berkembang sampai tiba di babak serba duit karena menuhankan segala. Dari menuhankan popularitas, uang, pujian, dan perusahaan yang maju. Tapi sewindu berlalu Allah masih menyayangi Aa dengan hadir babak ketiga yaitu babak belur. Semua kenikmataan duniawinya dibalikkan oleh Allah yang menjadikan tauhid yang sebenarnya muncul. Aa menganalogikannya dengan santan kelapa yang ingin kita dapatkan melalui proses yang begitu panjang. Perjuangan yang sangat menginspirasi jamaah.

Jadwal kami pun disesuaikan dengan jadwal kuliah. Karenanya, kami mulai belajar selepas magrib sampai pukul sepuluh malam. Dari mulai mendengarkan ceramah, siroh nabawiah, belajar tahsin, bahasa arab, akidah, tauhid, ma’rifatullah, muhadharah, sampai ulumul hadits.

Kosanku tidak jauh dari tempatku dulu, masih sekitar pesantren. Ngekos sekarang lumayan mahal. Aku pun masih memilih tempat yang sederhana asalkan kamar mandi ada di dalam. Dulu kebanyakan kamar mandi di luar dan digunakan ramai-ramai masih terasa nyaman-nyaman saja, tapi sekarang aku memilih menjaga privasiku. Orang tuaku menawariku untuk tinggal di tempat yang lebih bagus tapi aku tolak. Dalihku adalah aku ingin mandiri dengan penghasilanku. Aku harus menyesuaikan kosan dengan penghasilanku.

Aku memang anak tunggal tapi aku tidak mau manja. Pun dengan orang tuaku, mereka mengajariku untuk hidup sederhana dan mandiri. Padahal tanpa bekerja pun aku bisa ongkang-ongkang kaki menikmati hidup dengan harta yang dimiliki mereka. Bagiku, aku harus berjuang untuk diriku dan masa depanku.

Kriiing…

Alarm di ponselku mengajak bangun. Ah ternyata aku tertidur di meja. Laptopku pun belum sempat kumatikan. Meskipun aku sedang libur salat, aku harus tetap bangun subuh untuk menyambut rejeki yang ditaburkan Allah di setiap rumput yang basah kepada umatnya. Semakin pagi kita bangun, semakin banyak rejeki yang akan kita terima dalam bentuk apapun. Maka pagi ini aku siap dengan semangat yang bergenderang di dada menapakkan kaki memasuki ruang redaksi.

Check Also

Firstiana Annisa (bagian dua belas) oleh: Tinov

Bagian dua belas 12.45 pesawat yang membawaku sampai di Dubai International Airport pada terminal yang …

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of

Tanya Situ Seni

)
    is typing...

    Fill in the form below to send us a message.

    Send Message Cancel