Home / PROSA / Firstiana Annisa (bagian empat belas) oleh: Tinov

Firstiana Annisa (bagian empat belas) oleh: Tinov

Bagian empat belas

Seperti biasa, sore yang sangat panas. Aku masih mengumpulkan data untuk tulisanku minggu ini. Aku hanya menjawab telepon Khalid seperlunya. Sampai detik ini pun aku belum memberikan alasan padanya. Aku tahu dia pasti merasa aneh dengan sikapku. Aku pun tahu jika kami saling menerima perjodohan ini, tapi bagiku, Afrah lebih penting tinimbang perasaanku. Biarlah ini menjadi tulisan terakhirku sebelum aku kembali ke Indonesia dan memberikan kebahagiaanku buat Afrah. Kubayar minumanku di kasir sebuah minimarket untuk kemudian berjalan menuju halte untuk pulang. Ponsel di saku celanaku bergetar. Kuambil dan ternyata ‘Am Ahmed yang menghubungiku.

“Annisa, help me to go to the hospital to take Afrah…I am on the way.” (Annisa, tolong aku bawa Afrah ke rumah sakit. Aku di jalan.)f‘Am Ahmed berkata terburu-buru.

“Okay, what happen with Afrah, ‘Am Ahmed?” (Oke, apa yang terjadi dengan Afrah? ‘Am Ahmed?)

“I don’t know, Annisa. Help her Annisa! Hurry up!” (Aku tidak tahu, Annisa. Bantu dia Annisa! Cepat!)

“Okay okay ‘Am, i am on the way.” (Oke oke ‘Am, aku sedang di jalan.)

Bergegas kuhentikan taksi yang lewat di depanku. Perasaan cemas dan takut menyelimutiku sepanjang perjalanan. Selama ini Afrah tidak pernah cerita apa-apa kepadaku.

Kutidurkan Afrah di pangkuanku di jok belakang. Bibirnya terurus berceracau menahan rasa sakit. Aise duduk di sebelah Salem dengan air mata mengalir. Baginya, Afrah bagai anak kesayangannya. Tak hentinya dia berdoa. Salem segera memarkirkan mobil tepat di depan emergency room rumah sakit. Afrah dibawa ke ruangan itu sementara kami bertiga menunggunya di luar.

Aku berusaha menenangkan Aise yang duduk sambil menangis. Salem mondar-mandir membuat kami semakin cemas. Kulihat seorang dokter jaga keluar dari ruang periksa. Karena dia berbicara dalam bahasa Arab, aku menyuruh Aise saja yang berbicara dengan dokter itu. Aise memberitahuku dan Salem bahwa Afrah harus segera dioperasi. Aku katakan untuk menunggu ‘Am Ahmed dulu yang sedang dalam perjalanan. Dokter itu pun menganggukkan kepalanya.

“How is Afrah, Annisa?” (Bagaimana Afrah, Annisa?) Tanya ‘Am Ahmed begitu datang menemuiku dengan tergesa. Wajahnya penuh kecemasan yang luar biasa.

“Doctor carries her but she must be surgeried immediately, ‘Am.” (Dokter sudah menanganinya tapi dia harus segera dioperasi.) Jelasku perlahan.

“Where is she?” (Di mana dia?) Tanyanya dengan mata yang terus mencari keberadaan Afrah.

“In an examining room, ‘Am.” (Di ruang pemeriksaan, ‘Am.)

‘Am Ahmed menuju ruang periksa setengah berlari. Kudengar pembicaraan antara ‘Am Ahmed dengan dokter tadi. Pihak rumah sakit meminta persetujuan keluarga pasien untuk melakukan tindakan. ‘Am Ahmed pun menyetujuinya dengan menandatangani sebuah surat. Afrah langsung dibawa ke ruang operasi diantar kami sampai pintu. Aku masih bertanya-tanya perihal sakitnya Afrah. Tapi doa akan lebih mujarab buatnya.

Dua jam berlalu, aku dan Aise saling berpegangan tangan sambil memanjatkan doa. ‘Am Ahmed duduk gelisah sepanjang operasi. Salem berdiri dan sesekali duduk di pintu keluar. Lampu ruang bedah mati menandakan operasinya telah selesai. Afrah didorong ke ruang ICU untuk beberapa saat karena belum siuman.

“Aailatuha Afrah?” (Keluarga Afrah?) Seorang suster memanggil. Kepalanya celingukan mencari. ‘Am Ahmed yang sedang terkantuk terperanjat mendengarnya. Dia berdiri menghampiri suster yang memanggil.

“Naam ana aba Afrah, syaqiqah.” (Ya aku ayahnya Afrah, suster.)

“Wasayatimu naql almarda ila ayadat alaan.” (Pasien sudah bisa dipindahruangankan sekarang.)
“Khair.” (Baik.)

Afrah akhirnya dipindahkan ke ruang perawatan. Matanya masih terkatup, bibirnya mengaduh. Aku dan ‘Am ahmed duduk di sampingnya. Perlahan matanya terbuka.

“Ana uthsyana, Daddy.” (Aku haus, Ayah.)

“La yumkinuka syurb ya zizi.” (Belum boleh minum, sayang.)

“Walakun jafaf alhulqa, Daddy.” (Tapi aku enggak tahan, Ayah.) Afrah merengek seperti anak kecil.

“Almarid, ya zizi.” (Sabar Sayang.)

Aku hanya bisa mengelus keningnya karena untuk memberi minum jika belum kentut adalah hal yang sangat dilarang. Kalaupun bisa setelah beberapa waktu, itupun hanya satu sendok.

Kuputuskan untuk menunggui afrah di rumah sakit. ‘Am Ahmed, Aise, dan Salem kusuruh pulang. Besok biarlah Aise yang akan menggantikanku karena Em Ahmed harus menyelesaikan tugasnya di Abu Dabi. Doaku untuk kesembuhannya. Kulakukan hal yang terbaik untuk Afrah sebelum aku pamit untuk meninggalkannya. Tulisan terakhirku sudah kukirimkan lewat e-mailku lima menit yang lalu sekaligus surat resign. Tiket pesawat dengan jadwal penerbangan minggu depan pun sudah di tangan. Huft! Karir dan jodohku harus kulepaskan, tapi Mama dan Papaku sangat mengerti itu. Jika Afrah memang sangat menyukai Khalid, aku berharap Khalid pun bisa begitu.

Afrah mengaduh semalaman karena obat biusnya sudah hilang. Kuusap kening dan tangannya. Berkali Afrah merasa kehausan dan aku menyuapi sendok demi sendok air ke mulutnya. Hingga azan subuh di ponselku membangunkanku untuk salat di sisi ranjang Afrah yang mulai terlelap tidur.

“Annisa…”

Kudengar suara Aise di sampingku sambil memegang bahuku. Ah ternyata aku tertidur setelah salat subuh tadi. Kukucek mataku sambil menguap. Rasa kantuk masih menyerangku karena semalaman aku hampir tidak tidur.

“Hei Aise, mundzu fatrotan thowilatan?” (Hei, Aise, sudah lama?) Tanyaku sambil mengucek mataku yang masih mengantuk.

“La, Annisa. A’d, wasaufa tahalu mahal lakum.” (Enggak Annisa, aku baru saja datang.) Aise menarik kursi dan duduk di sebelahku.

“Okay Aise, ana dzahiba ilalwathona alan.” (Oke Aise, aku pergi sekarang.)

“Naam Annisa.”(Ya annisa.) Katanya sambil tersenyum.

“I will go home, Afrah. And i will right back this afternoon.” (Aku pulang, Afrah. Dan aku akan kembali sore ini.)

“Okay Annisa, thank’s.” (Oke Annisa, makasih.) Ucap Afrah perlahan. Tangannya memegang tanganku. Aku hanya tersenyum dan mengangguk.

“Salem, to deliver Annisa, please.” Salem, tolong antarkan Annisa.) Afrah meminta Salem untuk mengantarku pulang.

“Yes Afrah.” (Ya Afrah.)

“Thank you Salem.” (Makasih Salem.)

“Bye Afrah, Aise, assalamualaikum.” (Dah Afrah, Aise, assalamualaikum.)

“Waalaikumussalam.” Jawab Afrah dan Aise bersamaan.

Aku pergi meninggalkan rumah sakit diantar oleh Salem. Sepanjang perjalanan pulang aku terdiam memikirkan bagaimana cara menyampaikan rencana kepulanganku kepada Afrah dan Khalid.

“Huft!”

“What happen Annisa?” (Tanya Salem mengagetkanku.

“Mmm nothing, Salem.” (Enggak ada, Salem.) Jawabku gugup.

“Any problem? Sorry if i am not honour to you.” (Maaf kalua aku kurang sopan.)

“No i don’t. It’s okay.” (Enggak apa-apa.) Jawabku berusaha menyembunyikan kegugupanku.

Mataku sangat lengket begitu aku sampai kamar. Tak terasa empat jam aku tidur ketika Laila membangunkanku untuk makan siang. Kembali kumasuki kamar dan kukemasi barang-barang yang memang harus aku bawa nanti. Mataku tiba-tiba tertegun melihat foto Khalid di kontak what’s appku. Maafkan aku Khalid, aku harus meninggalkanmu dan membiarkanmu dengan Afrah. Biarkan aku melihat Afrah bahagia denganmu. Ada yang mengiris dada ini dan membuat pipiku basah oleh butiran-butiran air mata yang tiba-tiba deras. Ponselku tiba-tiba menyala dan terus berdering. Khalid.

“Assalamualaikum Annisa…What’s up?” (Assalamualaikum Annisa Apa kabar?) Sapanya dengan suara yang tetap hangat.

“Waalaikumussaam Khalid. I’m okay, and you?” (Waalaikumussalam Khalid. Aku baik, kamu?) Suaraku kuusahakan senormal mungkin.

“Hei what happen? I feel something happen when i hear your voice.” (Hei ada apa? Aku merasa ada sesuatu dari suaramu.) Tanyanya seakan tahu aku tengah menangis.

“Nothing.” (Enggak ada.)

“Okay, mmm do you have time tomorrow? I want to invite you for lunch with my parents.” (Oke, mmm ada waktu besok? Aku mau mengajakmu untuk makan siang dengan orang tuaku.)

“Excuse me?” (Maaf?)

“Yes, actually my parents to invite you tomorrow. How? I’m waiting your answer, Annisa.” (Ya, sebenarnya orang tuaku yang mengundangmu. Gimana? Aku tunggu jawabanmu, Annisa.)

Nah ini satu sifat orang luar, sedikit posesif. Sejenak aku terdiam. Sore ini sampai besok aku harus ke rumah sakit untuk menggantikan Aise. Dengan begitu aku harus langsung ke Sharjah sepulang dari rumah sakit nanti. Terlintas untuk menolaknya tapi ini kesempatan terakhir aku di sini.

“Khalid, excuse me for waiting. Okay i will come and i will go from the hospital because i must carry Afrah before.” (Khalid, maaf sudah menunggu. Oke aku akan datang dan kita berangkat dari rumah sakit karena aku harus menunggui Afrah.)

“Afrah was sick?” (Afrah sakit?) Tanya Khalid.

“Yes, she have surgery yesterday. I hope you can visit her.” (Ya, dia habis dioperasi kemarin. Kuharap kamu bisa menengoknya.)

“Okay, i will. Tomorrow morning maybe. Then i pick you up from there.” (Oke, aku akan menengoknya. Mungkin besok pagi. Terus menjemputmu.)

“No! Do not say if you will take me out, please!” (Jangan! Jangan katangan kau akan menjemputku.) Rajukku.

“But why?” (Tapi kenapa?)

“Please…!” (Kumohon!)

“Okay okay, i will visit her two days later.” (Oke oke, aku akan menengoknya lusa.

“Thank you.” (Makasih.)

“So, where i should to pick you up?” (Terus, di mana aku harus menjemputmu?)

“At the front of the hospital.” (Di depan rumah sakit.)

“Okay, nine am.” (Oke pukul Sembilan pagi.)

“Deal.” (Setuju.)

“Thank you Annisa, see you tomorrow. Assalamualaikum.” (Makasih Annisa, sampai jumpa besok. Assalamualaikum.)

“Waalaikumussalam.”

“Wait wait…” (Tunggu tunggu…)

“Yes?” (Ya?)

“May i say something?” (Boleh mengatakan sesuatu?)

“What’s that?” (Apa?)

“Ana ahbaka Annisa. Sorry…bye…” (Aku mencintaimu Annisa. Maaf… dah…)

“Bye…” (Dah…)
Ana aydhan ya Khalid. (Aku juga Khalid) Kalimat itu yang terucap tanpa didengar Khalid tentunya. Ada senyum yang tersungging di sudut bibirku mengingat ucapan Khalid tadi. Ya, aku pun merasakan hal sama denganmu Khalid, bahkan aku tak mampu membiarkan Afrah merebutmu.

Keesokan harinya aku hanya mengatakan akan pergi ke rumah teman kerjaku di Sharjah kepada Afrah. Dia hanya mengiyakan. Aise datang tepat waktu seperti yang kuminta sore kemarin. Kugendong tas berisi pakaian ganti dan perlengkapan pribadiku. Biarlah nanti aku mandi di hotel saja.

“Khalid!” Panggilku sambil melambaikan tangan ke arahnya yang baru keluar dari mobilnya. Seperti biasa, Khalid datang dengan mengenakan baju sportynya. Kaos putih berkerah dengan jeans navy. Ada seikat bunga lili di tangannya.

“Hei, kaifa haluki Annisa? For you.” (Hei, apa kabar Annisa? Untukmu.) Tanyanya menghampiriku dengan senyuman manisnya sambil menyerahkan bunga itu.

“Alhamdulillah, just a little tired. Thank you, Khalid.”

“Please come in my queen!” (Silahkan masuk ratuku!) Ucapnya sambil sedikit membungkukkan badannya seperti sopir yang mempersilahkan tuannya. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya itu.

“Thank you.” (Terima kasih.) Kataku sambil mengangkat sedikit rokku dengan kedua tanganku seperti seorang puteri. Aku duduk di sebelah kanannya dengan nyaman. Aku terus saja menguap karena sangat mengantuk menunggui Afrah yang masih sering terjaga semalaman. Khalid memerhatikanku dari ujung matanya.

“I though you are very sleepy, Annisa. Go ahead! I will wake you up later when we reach.” (Aku piker kamu ngantuk sekali, Annisa. Tidurlah! Aku akan bangunkan kalua sudah sampai.) Khalid mengerti ketika aku menguap berkali-kali.

“Thank you Khalid, i’m so sleepy. Owh ya, do not interuption about bad smelt from me. I have not taken a bath yet. Hehe…” (Makasih Khalid, aku ngantuk sekali. Oh iya enggak usah protes tentang bau enggak enak dariku. Aku belum mandi.)

“Haha…ew!” Tawanya sambil menutup hidung dengan tangan kirinya.

“Sorry… Can i sleep now, Khalid?” (Maaf aku bisa tidur sekarang, Khalid?)

“Ya ya sure.” (Ya tentu.)

“Becareful on your drive.” (Hati-hati nyupirnya.)

“Okay my queen.” (Baik, ratuku.)

Sebuah tepukan lembut di punggungku membangunkanku dengan mata yang begitu sulit kubuka. Pemilik suara hangat itu pun memanggilku. Kudapati sebentuk senyuman yang begitu manis semanis wajahnya.

“We have reach already, Annisa.” (Kita sudah sampai, Annisa.)

“Owh i’m still sleepy, Khalid.” (Aku masih ngantuk, Khalid.) Kataku sambil menguap. Kukucek mataku perlahan. Sebuah rumah sudah berdiri di hadapanku.

“Let’s go! My parents have been waiting for us.” (Ayo! Orang tuaku sudah menunggu kita).

“Okay Sir!” (Oke Pak!) Jawabku sambil menghormat. Sekilas kurapikan kerudungku di kaca spion. Khalid hanya tersenyum melihatku yang baru bangun tidur.

Kumasuki sebuah rumah yang mirip dengan rumah Afrah. White house, ya hampir semua catnya berwarna putih. Kembali kami harus melewati benteng sebagai pembatas dengan jalan. Khalid menghentikan mobilnya di depan pintu utama untuk kemudian seorang sopir memarkirkannya di garasi. Khalid memencet bel, seorang wanita dengan seragam pegawai rumah tangga muncul membukakan pintu.

“Haitsa Mom and Dad, ya Miryam?” (Di mana Ibu dan Ayah, Miryam?)

“Laqad tamal intizar fi gurfatil maisyah.” (Mereka sudah menunggu di ruang tengah.)

“Okay syukran, Miryam.” (Oke makasih, Miryam.)

Miryam membawakan tas kami sampai ruang tengah. Di sana kedua orang tua Khalid sudah berdiri menyambut kedatangan kami dengan senyuman.

“Assalamualaikum.” Sapaku pelan.

“Waalaikumussalam.” Jawab mereka bersamaan. Aku menyalami mereka dengan mencium tangannya seperti yang biasa aku lakukan kepada kedua orang tuaku.

“She is Annisa, Khalid?” (Dia Annisa, Khalid?)

“Yes, Mom.” (Ya, Mam.)

“Owh Annisa, you look so beautiful. I know you when you are kid. Right?” (Oh Annisa, kamu cantik sekali. Aku tahu kamu waktu kecil. Ya ‘kan?)Puji ibunya Khalid sambil memastikan kepada suaminya.

“Yes you are right. Hei sit down please, Annisa.” (Ya benar. Hei silahkan duduk, Annisa.)

Seingatku, mereka berbicara dengan menggunakan bahasa inggris. Mungkin karena seringnya ke berbagai negara, mereka sangat fasih. Kami duduk di ruang tengah yang lumayan luas dengan sofa merah dengan kayu ukiran. Ah ukirannya khas Jepara. Masa iya mereka memesannya dari sana, berapa uang yang harus mereka keluarkan untuk itu. Ah sudahlah, mengapa harus memikirkan ukir-ukiran sofa? Sejenak kami menikmati teh yang disajikan seorang pembantu tua bernama Emine. Gelasnya unik. Mulutnya kecil tapi menggembung di bagian bawahnya mirip buah pir. Mereka berceritakan bahwa mereka dihubungi Mama dan Papa ketika aku datang ke Dubai. Ini sebuah kesengajaan yang memang mereka rencanakan, pikirku. Rapi sekali skenario yang mereka jalankan seperti alur yang seharusnya demikian. Bahkan Khalid pun mencurangiku dengan mengenalku lebih dulu tinimbang aku. Ah yang penting kami sudah bertemu sekarang dan mereka tidak tahu apa rencanaku minggu depan. Pun dengan orang tuaku. Ya, aku akan pulang dan menyerahkan Khalid untuk Afrah yang baru dioperasi. Dan aku? Aku akan bahagia melihat dan mendengar orang-orang yang kusayangi bahagia.

“Emine! Lunch is ready?” (Emine! Makan siang sudah siap?) Pak Ismail bertanya kepada Emine.

“Yes, Sir.” (Ya, Pak.) Jawabnya sambil merapikan meja makan.

“Let’s eat!” (Ayo makan!) Ibu Fatma berdiri dan mengajak kami untuk makan siang. Kami berempat duduk di ruang makan dengan meja makan yang memuat enam orang. Pak Ismail duduk di tengah di sebelahnya Khalid, aku dan Bu Fatma di hadapan mereka. Kembali kutemukan ukir-ukiran Jepara di sana. Jika saja tak canggung, aku pasti menanyakan asal ukir-ukiran itu.

“Let’s pray together!” (Mari berdoa Bersama!) Pak Ismail mengajak kami berdoa sambil menundukan kepala.

“Aaamiiin.” Pak Ismail menganggkat kepala mengaminkan diikuti kami.

“Come on Annisa, we have beef curry because i know if you unlike lamb.” (Ayo Annisa, ada kari daging sapi karena aku tahu kalau kamu tidak menyukai kambing)

Wow! Itu kejutan buatku beliau tahu makanan yang tidak aku sukai. It’s surprise! Orang tua Khalid hanya tersenyum melihatku terkejut. Ternyata mereka banyak tahu ketika aku masih kecil. Dua tahun mereka tinggal di Indonesia mungkin membuat mereka tahu kebiasaan kami. Sayangnya aku tidak bisa mengingat masa itu. Bahkan rupa Khalid kecil pun aku sudah lupa. Kata Mama, waktu itu aku baru berusia empat tahun, sementara Kalid sudah sembilan tahun. Jadi pantas jika Khalid masih bisa mengenaliku. Karena wajahku tidak begitu banyak berubah. Orang tua Khalid banyak bercerita ketika mereka di Indonesia. Tentunya cerita masa kecilku yang sangat mereka hafal. Terkadang mereka tersenyum geli mengingatnya.

“Do you still like samosa, Annisa?” (Masih suka samosa, Annisa?) Bu Fatma berusaha mengingatkan makanan khas Asia Tengah yang juga terkenal di Pakistan, India Utara, dan Asia Selatan ini.

“Owh yeah sure, but i can’t get everytime.” (Oh iya tentu, tapi aku tidak bisa mendapatkannya setiap waktu.)

“We just made of samosa in ramadhan or in special moment. But don’t worry honey, i have made for you.” (Kami hanya membuat samosa saat Ramadan atau hari special. Tapi tenang sayang, aku sudah buatkan untukmu.) Katanya sambil mengambil sebuah kotak plastik berisi samosa dari lemari makan di dapur lalu memberikannya padaku.

“You can take it.” (Bawalah.) Senyumnya tulus.

“Yeee… thank you so much.” (Terima kasih banyak.)

Kuterima samosa itu dengan mata berbinar. Jarang-jarang aku bisa mendapatkan samosa di hari biasa. Afrah pernah mengajakku membuatnya untuk berbuka. Untuk isiannya kami menyiapkan kentang rebus yang sudah diberi rempah-rempah, dicampur dengan kacang kapri, bawang bombay, daun ketumbar, dan paneer. Kulitnya yang terbuat tepung maida atau terigu sudah Aise siapkan, jadi kami tinggal membentuknya segitiga dan menggorengnya. Pastri goreng ini sebetulnya mirip dengan pastel atau kroket di Indonesia. Samosa ada dua variant, vegetarian dan nonvegetarian untuk isiannya. Afrah menambahkan udang sebagai proteinnya. Daging cincang apapun bisa ditambahkan sesuai dengan selera penikmatnya. Waktu itu aku memakannya dengan chutney hijau yang terbuat dari cabe hijau, asam jawa, daun ketumbar, tomat, dan garam. Sambal hijaunya orang Mumbay. Ah jadi teringat dengan Afrah yang sedang terbaring lemas di rumah sakit.

Makan siang yang akrab dengan sambutan mereka yang hangat. Sekarang aku tahu jika Khalid begitu hangat dan lembut karena orang tuanya. Sore menjelang dan waktunya aku harus pamit kembali ke Deira.

“Take care Annisa. We will call your parents after this.” (Jaga dirimu Annisa. Kami akan menelepon orang tuamu nanti.) Ibu Fatma memelukku sebelum melepasku.

“Thank you so much.”

Sekali lagi aku mngucapkan terima kasih kepadanya. Aku pergi meninggalkan mereka yang masih melambaikan tangannya sampai aku dan Khalid melaju jauh. Hei Annisa! Tegakah kau meninggalkan mereka untuk seorang sahabat bernama Afrah? Mereka begitu baik.

“What’s going on, Annisa?” (Ada apa, Annisa?) Khalid membuyarkan lamunanku.

“Nothing! Owh ya, can you take me to the beach at Sharjah? You invite me to go there before, don’t you?” (Enggak ada! Oh iya, bisakah kau membawaku ke pantai di Sharjah? Kau sempat mengajakku, ‘kan?) Tanyaku mengalihkan pembicaraan untuk menutupi kegugupanku.

“Owh okay, we will go to the back of Umm Alquwain Beach Hotel. There is so beautiful at afternoon.” (Oh oke, kita kembali ke Umm Alquwain Beach Hotel. Indah sekali kalua sore.)

Khalid mengemudikan mobilnya memasuki area hotel itu. Bangunan khas Timur Tengah dominasi warna krem. Tertulis nama hotel itu dengan tulisan arab dan latin warna hijau, Umm Alquwain Beach Hotel. Kami berjalan dari tempat parkir ke arah pantai yang memang benar indah seperti yang dikatakan Khalid. Kami duduk di gazebo kayu menikmati sunset.

“May i give you something?” (Bolehkah aku memberimu sesuatu?) Tiba-tiba Khalid mengeluarkan sebuah kotak kecil dari karton berwarna biru muda.

“You can open this when you reach in Afrah house.” (Kamu bisa membukanya saat sampai di rumah Afrah.) Lanjutnya lagi sambil memberikan kotak itu kepadaku.

“Thank you, Khalid.” (Terima kasih, Khalid.)Aku hanya bisa tersenyum, kusimpan hadiah itu di dalam tas.

Satu jam berlalu dan aku meminta untuk pulang karena aku tidak mau terlalu malam sampai Deira. Sepanjang jalan aku banyak diam. Sesampainya di depan rumah Afrah aku langsung masuk kamar tanpa memedulikan Laila yang menawariku makan malam. Bolak-balik Sharjah-Deira cukup membuatku lelah. Bahkan aku baru terjaga dini hari untuk salat yang belum kutunaikan. Curhatku malam ini masih sama seperti malam-malam sebelumnya. Sudikah kiranya mengampuni dosa-dosaku, membahagiakan orang-orang yang kusayangi? Dan serangkaian doa-doa yang selalu berganti di tiap waktu curhatku. Badanku begitu bau karena tadi siang tidak sempat untuk mandi. Baju gantiku pun masih ada di dalam tas. Ah aku baru ingat dengan hadiah yang diberikan Khalid.Kuambil hadiah itu, perlahan kubuka dan kutemukan secarik kertas dan sebuah cincin emas polos bermata putih sejajar di tengahnya.

“Annisa, if you don’t mind, i give you this ring as my expression of feeling. Would you be my companion of life?” (Annisa, kalua kau tak keberatan, aku memberimu cincin ini sebagai ungkapan perasaanku. Maukah kau menjadi pasangan hidupku?)
Kupandangi cincin itu lalu kukenakan di jari manis kiriku. Pas seperti cincin-cincin lainnya yang kupunya. Khalid, aku jodohmu. Gumamku hingga kubawa ke alam mimpiku.

Check Also

Firstiana Annisa (bagian sebelas)

Bagian Sebelas Wajah-wajah penuh rona bahagia bertebaran di seluruh penjuru kampus. Ceremonial wisuda sekaligus dies …

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of

Tanya Situ Seni

)
    is typing...

    Fill in the form below to send us a message.

    Send Message Cancel