Home / PROSA / Firstiana Annisa (bagian enam)

Firstiana Annisa (bagian enam)

Bagian Enam

“Kamu anak cantik dan baik. Jika kamu jadi istri Bas, Ibu sangat bahagia.”

Pujinya sedikit merajuk. Aku hanya diam tidak bisa menyangkal atau mengiyakan. Ibu beranjak ke kamarnya dan kembali dengan sebuah kotak kecil berukir bunga kenanga. Disodorkannya padaku.

“Bukalah!”

Pintanya dengan tatapan penuh kasih seperti tatapan Mama. Perlahan kubuka kotak itu. Ada sebentuk gelang rantai emas di tengahnya dihiasi bunga dengan batu berwarna ungu. Beratnya kira-kira sepuluh gram.

“Sini tangan kananmu!” Pintanya lagi. Ibu memasangkan gelang itu ke tanganku. Aku masih terdiam.

“Ibu berikan gelang ini untukmu, Nak. Jadi mantuku atau tidak itu tidak jadi masalah. Bagi Ibu,, kamu sudah Ibu anggap seperti anak sendiri. Apalagi sejak kepergian Laras, adiknya Baskara. Ibu titip Bas ya. Jika dia jadi suamimu kelak, yang rukun ya. Kalau pun kalian tidak menikah, kalian harus tetap menjadi teman dan saudara yang baik.”

“Makasih, Bu. Insya Allah aku akan inget itu.” Kugenggam tangannya dengan lembut. Tak jauh berbeda dengan Mama, Ibu mengelus kepalaku.

“Wah wah wah kalian lagi ngomongin aku ya?”

Mas Bas tiba-tiba muncul dihadapan kami dengan membawa lemon tea dingin dalan teko kaca polos. Diletakkannya di atas meja.

“Ye…ge-er!” Ledekku.

“Kalian dah kaya ibu dan mantunya aja nih.” Dia balik meledekku. Akhirnya kami pun ngobrol lama layaknya sebuah keluarga.

Angin sore perlahan masuk lewat jendela kayu tempo dulu bercat putih berlapis jendela kaca. Rumah joglo khas Jawa ini begitu nyaman berada di antara pekarangan yang luas di sekelilingnya. Rumah ini memang lumayan jauh dari tetangganya karena luasnya yang memisahkan. Rumput taman menghampar di sudut halaman depan dengan pot-pot bunga yang berjejer rapi sebagai pembatas jalan. Garasi di kanan rumah menaungi mercy kolot berwarna turquoise , corolla hitam terbaru yang biasa dipakai Mas Bas, dan motor maticmerah. Ada kolam memanjang dari ruang tengah sampai dapur di samping kiri rumah dibawah jendela tempat kami ngobrol.

Meja kayu bundar berdiameter satu meter berlapis marmer setebal lima centimeter sengaja diletakkan dekat jendela agar kami bisa menikmati gemercik air kolam dan warna-warni ikan koi milik Bapak. Pasangan meja seperti ini persis dengan milik kakekku di Tasikmalaya. Kakek dari Mama yang asli Sunda.Ah sayang kami sudah tidak pernah lagi datang berkunjung ke sana karena kakek nenekku sudah tiada. Mama pun tidak mempunyai saudara lagi karena memang keturunan Mama sangat irit anak. Rata-rata anak mereka tunggal. Ya sepertiku ini. Mungkin Allah memercayai kami dengan anak tunggal agar lebih berkualitas dalam segala hal. Dunia dan akhiratnya.

Ada lemari pajangan setinggi satu meter selebar dua setengah meter di atasnya televisi 32 inch. Lemari itu dipenuhi berbagai souvenir dari berbagai negara. Kata Mas Bas, ayahnya dulu sering ke luar negeri untuk urusan bisnis. Bapak selalu menghadiahi ibu oleh-oleh itu. Dari jumlah souvenir yang ada, aku bisa tahu seberapa sering bapak pergi.

Bapak adalah Mas Bas edisi paruh baya. Saking miripnya aku tidak menemukan perbedaan keduanya. Meskipun aku tidak pernah bertemu dengan Bapak, tapi dengan melihat foto dan cerita-ceritanya, Bapak sangat baik dan bijak. Bapak pergi saat Mas Bas tingkat dua. Kesedihan yang mendalam ditinggal sosok pelindung seperti bapak tak sampai di situ, Laras pun menyusul setahun kemudian setelah penyakit leukemia yang dideritanya. Saat itu Laras kelas dua belas menjelang ujian akhir.

Aku berdiri di dekat jendela. Sepintas kulihat koi-koi yang kehilangan tuannya. Ibu dan Mas Bas masih duduk menikmati lemon tea buatan Mbok Min. Pengasuh Mas Bas ini sangat setia dengan majikannya. Terbukti dengan pengabdiannya sejak dia masih muda sampai dengan sekarang. Mas Bas tidak pernah membedakan perlakuan baik kepada Ibu atau Mbok Min. Jika membelikan kain kebaya atau kerudung selalu dua stel dengan warna kesukaan mereka berdua.

“Nisa…” Suara Ibu lirih memanggilku. Aku beranjak dari jendela menghampirinya.

“Iya, Bu?”

“Kalau kamu mau mandi di kamar depan saja. Mbok Min sudah nyiapin segalanya. Ibu tunggu di mushola untuk salat maghrib berjamaah, sebentar lagi azan. Biar Bas yang jadi imam.”

“Baik, Bu. Aku ke kamar dulu kalau gitu.” Ibu hanya menganggukkan kepalanya. Sejurus kemudian kami pun masuk ke kamar masing-masing.

Aroma citrus tercium saat kubuka pintu jati kamar tamu ini. Sebuah tempat tidur dengan ukiran di sandarannya berada di tengah ruangan. Ada laci-laci kecil di pinggir kanannya dengan lampu tidur dan kap krem di atasnya. Masih dengan hiasan ukir-ukiran, lemari dua pintu di sudut dekat jendela bersebelahan dengan meja rias. Karena letak kamar ini di depan, di luar adalah taman yang menghubungkannya dengan kolam koi dan kebun kecil tempat Ibu menanam sayuran dan obat-obatan yang biasa dipakai sehari-hari. Ada gazebo tepat di sudut kiri rumah. Gazebo segaja dibuat permanen dengan lantai keramik berwarna hitam polos berukuran kecil. Empat tiang kayu menyangga berpolitur hitamdengan atap zerap dibiarkannya tanpa dinding agar pandangan kami tak terhalang. Ada empat anak tangga rendah menuju ke sana.

Aku bergegas mandi dan menuju mushola seperti kata ibu tadi. Mas Bas menjadi imam. Aku, Ibu, dan Mbok Min menjadi ma’mumnya. Suami Mbok Min, Pak Karto, sedang menunggui bapaknya di rumah sakit karena diare. Katanya dia diare setelah pulang kendurian di saudaranya yang mengadakan syukuran khitanan. Setelah diperiksa, bapaknya Pak Karto didiagnosa keracunan makanandan harus dirawat selama beberapa hari.

Kalau ada yang diare seperti ini, aku suka teringat pengalamanku diare gara-gara makan rujak dari mama yang pulang pengajian dari iparnya yang syukuran tujuh bulanan. Waktu itu aku SMA kelas dua belas. Yang salah jelas bukan rujaknya, tapi karena aku belum makan nasi dari pagi. Di sekolah aku hanya makan empek-empek pedas dan es campur. Sejenak mungkin lupa dengan kekuranganku, jika tanpa nasi aku tidak bisa makan sembarangan. Tapi sayangnya cuaca siang itu begitu panas. Apalagi hari itu jadwal pelajaran olah raga basket di sekolah. Es coklat buatan Mama yang tergolek sendirian di freezer menggodaku untuk dihabiskan. Mama pun datang dengan sebungkus rujak yang menyegarkan. Ternyata aku pun sampai lupa untuk tidak makan sampai malam karena merasa kenyang. Selepas tahajud tiba-tiba perutku melilit tak tertahankan. Diare pun menyerang sampai aku bolak-balik ke kamar mandi berkali-kali. Mama hanya mengira aku diare biasa dan menyuruhku untuk ke dokter sendiri di sore harinya. Selepas maghrib aku benar-benar sudah tidak kuat lagi berjalan dan Papa memaksaku ke rumah sakit. Dokter jaga mengatakan jika aku masih beruntung aku dibawa ke sana saat itu, karena jika telat ya berakhir sudah.

Empat hari dirawat terasa begitu lama buatku. Rasa sakit di perut dan sekujur badan masih membekas sampai sekarang. Sejak saat itu aku berjanji pada diri sendiri untuk menjaga pola makan. Ada kejadian lucu ketika teman-teman sekelasku menjengukku di rumah sakit. Haris si kacamata imut tiba-tiba mencandaiku. Aku pun kaget mendengar leluconnya karena setahuku dia pendiam.

“Anaknya laki perempuan?” Tanyanya tanpa ekspresi. Kami pun tertawa mendengarnya. Ada-ada saja Haris ini. Mungkin dia menghiburku dan itu berhasil dia lakukan.

“Ris, aku tuh sakit, bukannya ngelahirin. Kamu kira aku hamil apa!”

“Lagian kamu pake kain segala Nis, dah kaya orang ngelahirin aja.” Kata Reni.

“Yeee aku pake kain biar enggak susah harus pake celana panjang.”

“Tuh kan yang abis ngelahirin juga sama, biar gampang…” Haris masih tetap mencandaiku.

“Pengalaman bener nih Haris, jangan-jangan…” Aisyah pun bersuara. Ruangan pun menjadi terasa hangat dengan kedatangan mereka yang menghiburku.

Mungkin sama halnya dengan apa yang bapaknya Pak Karto rasakan sekarang. Ada orang-orang terdekat yang menemani kita saat kita sakit sangat membantu penyembuhan.

Pak Karto sama-sama bekerja di rumah Ibu sebagai sopir. Bukan lagi sekedar gaji yang mereka inginkan, tapi majikan seperti Ibu dan Mas Baslah yang membuat mereka nyaman dan betah tinggal di sini. Anak mereka hanya dua dan keduanya sudah menikah. Mereka dibawa oleh suaminya masing-masing. Kedua anak Mbok Min dan Pak Karto dibiaya oleh Ibu sampai mereka menikah. Mbak Murni tinggal di Riau karena suaminya bekerja di sebuah perusahaan properti. Sedangkan Mbak Lis di Mojokerto mengikuti suaminya yang seorang tentara. Sesekali saja mereka datang untuk menjenguk orang tuanya. Mereka sudah Ibu anggap sebagai keluarga sendiri.

Gudeg krecek, bola-bola daging, dan tahu bacem sudah Mbok Min siapkan di meja makan berbentuk persegi. Taplak bordir berwarna putih dan kaca di atasnya. Ibu sengaja memasaknya untukku. Ibu tahu aku akan selalu melahapnyasampai habis karena setiap kali datang ke Bandung ya makanan ini selalu menjadi favoritku.

“Waaah makan enak nih.” Ucapku dengan mata berbinar.

Rasanya tidak berubah, tetap enak. Gudegnya selalu dibiarkan berkuah, tahu bacemnya digoreng, dan bola-bola dagingnya masih seukuran dulu, kecil-kecil sekali hap. Sambal terasi buatan Mbok Min pedasnya super ditambah kerupuk udang sebagai pelengkap. Meskipun lalapannya hanya selada, tapi ini adalah makan paling nikmat di rumah orang lain.

“Bu, aku nambah ya, hehe…”

“Diet ya Mbak?” Mas Bas meledekku seperti biasanya.

“Jangan gitu deh, aku kan jadi malu.”

“Ibu sengaja kok Nisa, masak ini buat kalian.”

“Mbok juga udah diingetin terus sama Ibu untuk masak hari ini. Katanya Mbak Nisa doyan sama gudegnya Ibu. Iya toh, Bu?”

“Bener, Mbok. Aku seneng kalau masakanku habis. Itu tandanya masakanku kepake. Mbok, nanti puding coklatnya taruh saja di meja sana yo…”

“Inggih, Bu.”

“Perbaikan gizi nih kita. “

“Bener banget, Mas. Jarang-jarang kita makan enak gini, gratis pula. Bisa-bisa pulang dari sini aku gendut.”

“Yang penting sehat Nisa. Kalian ke pabrik besok pukul berapa?” Tanya Ibu.

“Pukul tujuhan, Bu, soalnya kami harus meliput kerja mereka dari awal sampai beres. Kami mau data-datanya lengkap biar enggak bolak-balik.”

“Oh…terus yang ke alun-alun gimana?”

“Abis asar kayanya, Bu. Dari pabrik kami ke rumah dulu baru ke sana.”

“Oh gitu toh, Bas. Apa enggak cape nanti?” Tanya Ibu khawatir.

“Insya Allah enggak, Bu. Lusa kami sudah harus balik ke Bandung. “ Jawabku.

“Yo wis pada istirahat dulu kalian! Jadi besok lebih seger.

Check Also

Firstiana Annisa (bagian dua belas) oleh: Tinov

Bagian dua belas 12.45 pesawat yang membawaku sampai di Dubai International Airport pada terminal yang …

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of

Tanya Situ Seni

)
    is typing...

    Fill in the form below to send us a message.

    Send Message Cancel