Home / PROSA / Firstiana Annisa (bagian lima belas)

Firstiana Annisa (bagian lima belas)

Bagian lima belas

Berbagai cara Afrah katakan untuk mencegahku pulang. Tapi semuanya sia-sia karena tekadku sudah bulat untuk meninggalkan semuanya. Pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari Afrah dan ‘Am Ahmed hanya mampu kujawab dengan mengatakan jika aku diminta untuk bekerja di Indonesia. Insya Allah ini akan menjadi kebaikan untukku dan semua.

“Annisa, i don’t know about your reason and i don’t know to talk any more to you. But it’s your way. I will support you, whereever you are.” (Annisa, aku tidak tahu alasanmu dan aku tidak tahu harus ngomonng apalagi.) Afrah menyerah membujukku.

“I hope you be success. I pray for that. You are like my daughter for me. So, you can coming anytime you want.” (Aku harap kamu sukses. Doaku untuk itu. Kamu seperti saudariku. Jadi, kamu bisa dating kapan pun kamu mau.) ‘Am Ahmed mengusap kepalaku seperti kepada anaknya. Ada bias haru pada air mukanya. Berbanding tatkala pertama bertemu di bandara, dulu. Begitu bahagianya karena Afrah mendapat saudara yang bisa menemaninya di rumah dan ke mana-mana.

“Thank you so much afrah, ‘Am. I will remember.” (Terima kasih banyak, Afrah, ‘Am.)

Tangan Afrah menggenggam kedua tanganku dengan erat. Air matanya mulai berderai. Sungguh aku tidak tega melihatnya seperti itu. Jauh di lubuk hati yang paling dalam kusimpan Khalidku yang kuikhlaskan untuk saudaraku, Afrah.

“We will miss you Annisa…” (Kami akan merindukanmu.) Aise dan Laila bergantian memelukku. Itu adalah malam terakhir aku di rumah Afrah. Subuh aku harus terbang dengan pemberangkatan pertama.

Dengan langkah gontai aku duduk di dekat jendela di sayap kanan. Awan gemawan abu membungkus kegundahan yang begitu bergulung di kalbuku. Sesak rasanya menahan lara yang mendera sela-sela raga. Pelayanan selama penerbangan hampir tak kunikmati. Penerbangan yang begitu membosankan yang pernah kulalui sepanjang hidupku. Langkahku semakin gontai menaiki taksi.

Klik! E-mail untuk Afrah dan Khalid kukirim begitu sampai di kamar hotel Jakarta. Hatiku lega dengan semua yang kubuat. Besok aku akan kembali ke Jambi, kembali dengan Mama Papa.

“Mama… Papa…!”
Kuberlari menuju pelukan mereka. Air mata pun tak tertahankan tumpah mewakili segala rasa yang ada. Berbagai cerita kuurai dari waktu ke waktu. Sampai pada titik di mana aku membuat sebuah keputusan dalam hidupku. Mama Papa memelukku ketika aku sampai di tangga terakhir pesawat.

Check Also

Firstiana Annisa (bagian sebelas)

Bagian Sebelas Wajah-wajah penuh rona bahagia bertebaran di seluruh penjuru kampus. Ceremonial wisuda sekaligus dies …

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of

Tanya Situ Seni

)
    is typing...

    Fill in the form below to send us a message.

    Send Message Cancel