Home / PROSA / Firstiana Annisa (Bagian Satu) oleh: Tinov

Firstiana Annisa (Bagian Satu) oleh: Tinov

Bip bip…ada notifikasi baru muncul di laptopku. Sekilas kulirik ada pesan baru masuk ke akun facebookku, dari Khalid dan Afrah. Ah move on Annisa! Abaikan pesan mereka! Perlahan kuraih mouse yang terbalik di ujung meja dekat mouse pad bertuliskan move on. Dua hari yang lalu sengaja kuganti gambar Burj Khalifa dengan itu. Sedikit berantakan memang, lebih pasnya acak-acakan. Sengaja kuletakkan meja knock down hitamku ini di sudut ruangan menghadap pintu kamar seluas dua puluh meter persegi. Jika kebanyakan meja belajar atau kerja menghadap tembok, lain denganku, menghadap pintu. Dengan begitu aku tidak akan merasa sendirian dan aku berperan sebagai ‘Bos’. Bos tidak perlu membalikkan badan hanya untuk mengetahui siapa yang datang.

Draft tulisan cerpenku masih berceceran di sebelah printer, pensil, dan penghapus yang berdampingan di dekat tempatnya yang berwarna biru elektrik dengan resleting terbuka. Teh Rosa yang masih eksis menjadi jurnalis tetap menantikan karyaku bahkan ketika dia benar-benar menjadi pemilik sebuah percetakan di Bogor. Antologi cerpenku sedang Teh Rosa garap dari beberapa cerpen pilihanku ditambah cerpen terbaruku. Rencananya buku ini akan memuat sepuluh cerpen dengan tema ‘inspiring girl’. Mudah-mudahan bisa selesai bulan depan.

Akhir-akhir ini aku sedang sangat menyukai warna biru elektrik gara-gara sering nonton telenovela Turki. Para pemainnya dominan menggunakan baju warna tersebut. Buat mereka sih pantas, tapi jika aku memakainya, entahlah. Seperti Berguzar Korel dan Halit Ergeng di telenovelanya. Mug warna putih bergambar hati menyisakan ampas kopi kental bekas semalam. Aku masih teringat dulu zamannya kos semasa kuliah. Kopi adalah sahabat paling setia menemaniku begadang menyusun skripsi dan tugas jurnalistik ‘ekskulnya’ mahasiswa. Bedanya, dulu tak ada ampas yang tersisa karena mamaku bilang, minum kopi itu enak dengan ampasnya. Jadilah aku plagiat mamaku. Tapi kali ini, mug dan cangkir kopiku akan ditemani ampasnya sejak ampas-ampas itu mengendap di empedu mamaku. Aku tidak mau empeduku dibuang seperti yang dialami mama. Tanpa empedu berarti asupan lemak harus dijaga. Dengan menyeleksinya pun tetap saja mama dihinggapi lemak yang tumbuh di punggungnya. Jaringan ini sedikit mengganggu meskipun tumbuh di atas daging tapi di bawah kulit. Itu artinya, operasi kecil akan terus mengikuti seiring tumbuhnya lemak-lemak kecil yang menyembul seperti jerawat besar atau lebih tepatnya menyerupai bisul. Ih! Bergidik aku mengingatnya.

Sekali waktu mamaku merasakan ada benjolan di punggungnya yang kian hari kian membesar sampai sebesar bola pingpong. Setelah melewati serangkaian pemeriksaan di klinik, akhirnya ‘jerawat’ besar itu diangkat melalui operasi kecil. Istilahnya saja operasi kecil, kenyatannya tetap saja rasa sakit menjalari punggung mama.

“Kata siapa tidak sakit? Bohong banget kalau ada yang mengatakan operasi kecil tidak sakit!” Seloroh mamaku sambil memperlihatkan bekas operasinya kepadaku.

“Iya sih operasi empedu Mama lebih sakit dibanding ini.” Lanjutnya.

“Gitu ya, Ma? Doain aku ya agar aku enggak ngalamin apa yang Mama rasakan.” Rajukku penuh harap.

“Tentu sayang. Tapi kalo kita tidak merasa sakit, kita tidak akan bersyukur kepada Allah jika sehat itu mahal dan tidak akan ada yang bisa menggantikannya. Bahkan jika ada seseorang yang mau menukar nikmatnya menggeliat dengan sepasang kerbau, mama tak akan memberikannya.” Ucapnya diakhiri senyuman.

“Sudahlah cepet tidur sana!”

Kalimat itu biasa beliau ucapkan di akhir perbincangan. Karena beliau tahu jika kami bercengkrama sekedar melepas kangen, curhat sedemikian rupa sampai larut malam mengalir tak terasa di ruang tengah. Seperti seminggu lalu pun kami masih ngobrol ngalor-ngidul sampai dini hari. Jika aku tidak harus siap-siap untuk berangkat subuh untuk mengejar penerbangan pukul 05.45 dari bandara Toha, mungkin kami akan terus melek.

“Sebaiknya kamu salat dulu sebelum tidur, nanti Mama bangunkan pukul empat ya.”

“Siap Ma.” Jawabku sambil menghormat.

Mama hanya mengelus ubun-ubunku dan berlalu ke kamarnya. Aku naik ke kamar yang letaknya ada di lantai dua. Ada tiga kamar di lantai ini, kamarku dan dua kamar untuk tamu yang letaknya berdampingan. Karena kamarku di depan, aku bisa langsung melihat keluar rumah lewat jendela tanpa harus ke balkon. Balkon yang lumayan lebar dibatasi oleh pagar stainless setinggi satu meter melengkung. Ada aneka kaktus dalam beberapa pot tanah liat bermotif bunga menghiasi. Sebuah meja dan sepasang kursi kayu jati sengaja Mama letakkan di sana. Di depan kamarku ada satu set sofa berbahan kulit warna hitam dan tv 32 inch. Ruangan ini terisi jika teman sekolahku datang untuk kerja kelompok atau sekedar menginap. Seperti ketika mama sengaja merayakan hari ulang tahunku yang ke tujuh belas di rumah. Sebagian teman sekelasku menginap untuk membantu persiapan syukuran.
Jasmine, Zahra, Nabila, dan Indira sudah hadir selepas asar. Sedangkan Aisyah janji akan datang bada isya. Lima orang perempuan berkumpul dalam satu tempat, sama dengan rame. Pun dengan kami. Jasmine yang sedikit bicara mulai terpengaruh dengan kami yang memancingnya untuk bercerita. Apalagi kalau bukan cowok gebetannya.

“Ah diam-diam Mimin suka sama si Taufik anak basket itu ternyata, sodara-sodara…!” Ledek Indira kepada Jasmine dibarengi tawa riangnya. Kami pun ikut meledeknya.

“Iiih kalian ini senang ya ngeledek temen sendiri!” Jasmine ngambek. Dibalikkannya tubuh tinggi itu bersila membelakangi kami. Jarinya masih tetap memegang pensil membuat sketsa untuk dekorasi ruangan.

“Becanda kali Mimin.” Sela Nabila menghentikan tawa kami. Mimin adalah sebuatan kami untuk Jasmine.

“Lagian enggak papa kali menyukai seseorang. Itu tandanya normal. Iya kan?” Sambung Indira sambil mencolek pipi Jasmine yang masih cemberut. Disodorkannya gunting ketika Indira melihat Jasmine mencari sesuatu untuk menggunting karton hasil sketsanya.

“Butuh ini kan?” Tanya Indira. Jasmine mengambilnya tanpa berkata apa-apa.

“Betewe, Aisyah mana Nis?” Tanya si kalem Nabila sambil menghentikan ikatan balon di tangannya.

“Oh iya, kok belom dateng, Nis?” Lanjut Zahra.
“Aisyah tadi pulang sekolah bilang ke sininya telat. Katanya sih abis maghrib gitu. Kita tunggu aja. Palingan bentar lagi.”

“Tuh ada suara motor dateng, pasti dia.” Kata Indira sambil beranjak menuju balkon untuk memastikan siapa yang datang. Terdengar Indira menyapa Aisyah dan menyuruhnya langsung naik ke atas. Tak lama Aisyah muncul.

“Cieee yang dianterin…” Indira kembali beraksi dengan ledekannya. Entah kenapa semua yang dia lihat dan dengar selalu menjadi bahan ledekannya. Mungkin niatnya hanya bercanda, tapi jika orang yang diledeknya tidak tahu sifat Indira, akan tersinggung.
“Ada yang ngiri ya!” Aisyah membalas ledekan Indira karena dia sudah biasa mendapatkan komentar-komentarnya. Aisyah duduk di sampingku.

“Sorry ya Nis aku telat. Tadi aku harus nganter Ibu dulu belanja.”

“Ye gepepe..” jawabku sambal tersenyum.

“Girls cantik dan saleha, pada makan dulu yu! Mama dan Mbok Nap dah nyiapin makan malam buat kalian.” Mama datang mengajak kami untuk makan malam.

“Wah siap Mama… kami sedang menantikan tawaran itu.” Zahra langsung menyambut ajakan Mama. Dengan senyum di balik pipi cubynya Zahra langsung berdiri. Si penyuka grup band luar itu tampak bersemangat jika mendengar yang berbau-bau makanan. Naluri rakusnya sulit dikendalikan hingga dia langgar terus janji dietnya.

“Mama Mama! Itu kan Mama aku.”

“Ga papa kan kami manggil Mama?” Kali ini Jasmine memohon dengan tangan di dadanya dan mata memelas.

“Iya ga papa kalian manggil Mama. Yuk ke bawah!”

Nasi soto dan prekedel kentang sudah tersedia di meja makan. Tak lupa kerupuk udang kesukaanku. Aromanya begitu menggoda perut yang keroncongan. Dengan lahap pula kami menikmati masakan Mama. Usai makan malam kami ngobrol sana sini seakan tak ada habisnya. Entah sampai pukul berapa kami begadang dan tertidur di karpet dan sofa.

Sayup terdengar Mama mengambil air wudlu dan salat. Mamaku sangat taat beribadah dan itu modal untuk menjadi guruku, anaknya. Beliau hanya ibu rumah tangga biasa dari seorang pengusaha minyak. Tubuh mungilnya masih terlihat cantik di balik gamis dan kerudung panjangnya. Hidung mancungnya sedikit tersembunyi di balik kacamata silindrisnya. Kulit putihnya lebih bercahaya karena sering terkena air wudlu. Tangannya begitu lembut tiap kali mengusap rambutku. Pelukannya sehangat mentari pagi yang menenangkan segala kegundahanku. Kata-katanya menyejukkan kegalauan rasa dan hati yang merana. Jangan tanya bagaimana masakannya, semua yang dibuat oleh tangan Mama tidak sekedar enak tapi mampu menjadi penawar jitu bagi yang memakannya. Sekali waktu aku sangat haus, Mama membuatkan segelas mojito yang begitu nyes di tenggorokan, jadi meskipun ada esnya tapi dengan jeruk nipis dan daun mintnya tetap bermanfaat buat yang meminumnya. Hasil karya Mama tidak hanya di makanan atau rumah yang sangat rapi dan cantik, rajutannya pun diaplikasikan dalam bentuk taplak atau penutup kulkas. Posisi barang-barang yang ada di rumah selalu berganti dalam kurun waktu tertentu. Jika aku dan Papa mendapati ruang tamu yang sudah berubah, Mama memberikan alasan yang tidak kami minta. “Mereka sudah pegal-pegal, jadi Mama pindahkan letaknya”. Alasan yang lucu tapi membuat kami berfikir. Dengan memindahkan letak barang-barang yang ada di rumah, kita akan betah terus di rumah karena tidak bosan dengan penataan yang itu-itu saja. Mbok Nap, pembantu kami pun akan dengan senang hati membantu Mama mengubah tata letak barang di rumah. Nah, yang membuatku keder ketika akan mengambil barang yang biasanya di letakkan di suatu tempat sudah berpindah saja tanpa ada kode.

Terkadang, karena saking tertibnya seorang yang namanya Mama, beliau akan lupa menaruh barang yang disimpannya sendiri. Jika tidak begitu, terkadang pula Mama menaruh barang berharga di tempat yang sama sekali aku dan Papa ketahui.

“Kamu cari di laci lemari Mama paling bawah. Di situ ada tas rajut warna ungu, nah kunci serepnya ada di plastik warna putih di dalam tas rajut itu.”

“Aduh Mama… Please deh. Harus gitu nyari kunci serep aja sampe melalui birokrasi yang panjang?” Tanyaku sambil garuk-garuk kepala.

“Eh kalo disimpan sembarangan siapa yang tanggung jawab?”

“Iya iya Mama.”

Meskipun Mama sarjana sastra inggris, beliau tidak menyesali jika dirinya tidak menjadi wanita karir. Baginya ladang amal ada di rumah karena semua profesi sudah ada di tangan. Dari koki, manager, designer, sampai bos yang sebenarnya ya mamaku. Beliau akan bangun paling awal dan tidur paling akhir untuk memastikan semuanya sudah rapi. Tidak jarang aku mendapati Mama sedang mengaji di tengah malam sambil menunggui Papa pulang. Semua Mama lakukan untuk Papa dan aku, anak tunggalnya.Saking tergantungnya kami kepada Mama, kami akan sangat kebingungan jika mama tiba-tiba sakit. Masakan Mbok Nap kurang laku. Selain telur mata sapi dan roti panggang, kami enggan untuk memakannya. Apalagi masakan yang memerlukan banyak bumbu, buatan Mama tiada tandingannya. Mbok Nap memang pembantu kami, tapi Mama memperlakukannya seperti kepada keluarga sendiri. Tugasnya benar-benar hanya membantu. Yang mengerjakan pekerjaan rumah tetaplah Mama. Pembantu ya tugasnya hanya membantu. Begitu kata Mama.

Pun dengan Papa, sosoknya yang tinggi besar sanggup melindungi kami dari segala hal. Papa sangat sempurna sebagai suami bagi Mama dan sebagai bapak bagiku. Sekalipun pekerjaannya sangat menyita waktu, beliau tetap taat kepada Allah. Baginya, dunia dan akhirat harus seimbang.

“Jika sekarang Papa sedang untung, Papa tidak akan diam dengan kebahagiaan karena untung. Pun sebaliknya jika Papa sedang rugi, Papa tidak akan meratapi keterpurukkan. Kita harus tetap bergerak untuk mempertahankan rodanya agar tetap seimbang Annisa.”

Papa akan memberiku wejangan-wejangan jika kami berkumpul santai di ruang keluarga. Bagiku petuahnya tidak terasa bagai pepatah-pepatah yang membosankan. Papa sangat pintar mengolah kata hingga aku begitu hormat dengan sosok bijaknya. Penampilannya di rumah jauh berbeda ketika beliau pergi ke kantor. Papa lebih menyukai dishdasha putih atau abu dan peci, ‘peci haji’ aku menyebutnya. Jika aku ibaratkan sosoknya mirip-mirip Om Dedi Mizwarlah, hahaha sok akrab memanggilnya Om. Karismanya tetap terpancar meskipun sudah menua.

Check Also

Firstiana Annisa (bagian dua belas) oleh: Tinov

Bagian dua belas 12.45 pesawat yang membawaku sampai di Dubai International Airport pada terminal yang …

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of

Tanya Situ Seni

)
    is typing...

    Fill in the form below to send us a message.

    Send Message Cancel