Home / PROSA / Firstiana Annisa (bagian sebelas)

Firstiana Annisa (bagian sebelas)

Bagian Sebelas

Wajah-wajah penuh rona bahagia bertebaran di seluruh penjuru kampus. Ceremonial wisuda sekaligus dies natalis yang begitu meriah mampu menyedot ribuan manusia untuk menghadirinya. Wisudawan, pendamping, orang tua, bahkan pedagang pun ikut meramaikan suasana.

Kebaya krem dan kain batik Garutan membalut tubuhku. Kerudung putih tulang tertutup toga yang sama dengan wisudawan lain. Yang membedakan kami hanya warna rumbai di dada kami. Ungu untuk fakultasku. Bagiku acara seperti ini tidak begitu penting. Tapi ketika kulihat Mama dan Papa hadir dengan begitu bahagianya, aku pun harus menikmatinya sebagai bentuk rasa terima kasihku. Aku duduk di urutan ke 126 dari 660 wisudawan. Mama dan Papa duduk di balkon gedung ini. Acara demi acara berlangsung khidmat tanpa delay yang berarti.

Semua sudah kutuntaskan di kampus ini. Suka duka yang kualami mewarnai hari-hari yang penuh berkah. Beberapa koper baju dan buku sudah selesai kurapikan. Aku siap untuk meningalkan kosan, teman, sahabat, kampus, pesantren, dan Bandung. Kembali ke Jambi untuk sementara waktu. Aku sengaja meninggalkan barang-barang di kosan sebagai ‘warisan’ anak kos di sana.

Kukenakan tas punggungku dan kutenteng koper di tangan kiri. Pesawat yang membawaku pukul 11.50 dari Husen harus transit dulu selama tiga jam di Batam untuk selanjutnya landing di M. Toha Jambi.

“Annisa, kamu yakin menerima tawaran itu?” Tanya Papa sambil meletakkan peci hajinya di meja. Diteguknya teh buatan Mama perlahan dan diambilnya sekeping biskuit gandum dari piring kecil di atas meja.

“Insyaallah yakin, Pa.”

“Kalau Mama sih mendukung apapun keputusanmu.” Mama duduk di samping Papa sambil menatapku.

“Jadi penulis adalah cita-citaku dan jadi jurnalis akan menjadi pekerjaanku Ma, Pa.” Jawabku mantap.

“Papa cuma nawarin kamu aja. Menurut Papa, ini kesempatan yang bagus. Pak Ahmed temen Papa itu pemegang saham terbesar di Gulf News Broadcasting di Deira. Nanti kamu akan study dengan anaknya Pak Ahmed, Afrah, di University Of Dubai. Masih inget kan sama mereka?”

“Iya, Pa.”

“Mereka sudah mendaftarkanmu di sana dan dua hari yang lalu mereka mengabari Papa tentang hasilnya. Alhamdulillah kamu diterima. Kamu juga bisa langsung magang atau mungkin jadi pegawai kontrak dulu di sana. Mereka sudah menyiapkan tempat juga di rumahnya. Untuk sementara enggak apa-apalah kamu tinggal bareng mereka dulu. Oh iya, terus gimana jadinya yang ke Singapur itu? Papa enggak mau mau menyesali keputusanmu.”

“Enggak ko, Pa. Dubai memang impianku. Negara yang segala ‘ter’ itu membuatku penasaran. Dan mengajar di Singapura juga keinginanku sebagai awal cita-cita keliling duniaku.”

“Syukurlah kalo gitu. Kami tinggal doain kamu. Di mana pun kamu berada, kami cuma pesen salat dan ngajimu jangan ditinggal. Mulai besok kamu harus siap-siap untuk perpanjang paspor, surat-surat, dan dokumen lain yang bakal kamu butuhkan. Sama Mama aja.”

“Siiip, Pa.”

Keputusanku memilih Dubai kudapatkan dari istikharah yang kulalui karena aku masih sangat percaya denganNya. Usahaku mengikuti tes untuk pergi ke Singapura begitu kuat. Tapi Allah memberiku rejeki yang begitu indah, lebih indah dari bayanganku setelah kulewati Singapura. Allah memberikanku langsung terbang ribuan kilometer jauhnya.

Kupandangi tiket pesawat Emirates Airlines Indonesia-Dubai. Aku berangkat dari Jambi ke Jakarta dua hari sebelum jadwal pemberangkatan. Mama Papa pun ikut mengantarkanku. Kami check in di hotel yang dekat dengan bandara Sukarno-Hatta untuk memudahkan segalanya. Kami hanya memakai satu kamar di hotel ini karena kami akan menghabiskan waktu sebelum kami berpisah. Kami pastikan layanan hotel include dengan antar jemput ke bandara. Mama begitu teliti menyiapkan segala yang kubutuhkan. Bahkan ketika aku mencari-cari peniti untuk kerudungku, Mama sudah menyiapkan dalam sebuah kotak kecil berbahan plastik berisi peniti, jarum pentul, dan bros. Ah…Mama, kau adalah makhluk sempurna sebagai ibu dan istri.

Seharian kami hanya membaca, nonton, dan makan di hotel. Kami benar-benar memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.

“Ma, aku mau dinner nasi padang aja. Siapa tahu nanti aku enggak bisa dapetin selama di sana.”

“Boleh…kita ke bawah sekarang aja. Gimana, Pa?”

“Iya, mari kita lets go! Papa dah laper.”

“Kunikmati nasi padang suap demi suap seakan aku tidak akan pernah menemukannya lagi. Rendang sapi, sambal hijau, lalap daun singkong, dan kuah sayur nangka muda ditambah kerupuk menyatu dalam tiap sendok yang meluncur dari mulut ke dalam perutku. Jus markis hangat melunturkan lemak yang baru saja kutelan. Mama mengelap bibirku yang masih berminyak dengan lap makan.

“Aduh sampai belepotan gini, sayang…”

“Hehe saking semangatnya, Ma. Ma…desertnya apa?”

“Tiramisu tuh.”

“Wah lengkap! Semua ini memanjakan lidahku.”

“Udah, makan aja dulu, ngobrolnya nanti!”Papa mengingatkan.

Selesai menikmati makan malam, kami ngobrol di balkon yang mengahadap kolam renang. Ada beberapa orang yang sedang berenang di sana. Malam mulai menunjukkan dinginnya untuk menyuruh kami bersembunyi di balik selimut.

Pagi buta kami sudah siap-siap pergi untuk meninggalkan hotel menuju Bandara Soekarno-Hatta. Mobil yang mengantarkan kami menuju begitu cepat bagi kami. Kugandeng Mama Papa dengan erat. Berat rasanya bagi kami untuk berpisah. Tekadku kuat, senyuman di bibirku mewakilinya. Tak ada air mata, pun dari mereka. Kedua orang yang paling kusayangi.

“Semangat Annisa!” Ucap Papa sambil memelukku.

“Iya Pa, semangat!”

“Jaga diri, jangan lupa salat, makan, telepon kami saat tiba di sana!”

“Siap Ma, jangan khawatir, assalamualaiku Ma, Pa.”

“Waalaikumussalam…hati-hati…”

Kutinggalkan mereka dengan lambaian, senyuman, dan doa. Emirates Airlinesmerupakan maskapai penerbangan long haul dengan 2500 seats per harinya. Pesawat yang kutumpangi jenis boeing 777-300R dengan kabin bisnis dan ekonomi. Hiburan sepanjang perjalanan terintegritas seperti film, musik, games, dan nonton TV dengan 1400 chanel. Ah…tapi buat apa? Satu chanel saja tidak semua programnya tertonton. Empat setengah jam adalah waktu yang cukup panjang antara Jakarta-Dubai. Membaca mungkin bisa membunuh waktuku. Perempuan di sebelahku seorang paruh baya dengan dandanan menor sedang asyik membetulkan riasannya. Mungkin dia berdandan terlalu pagi hingga make upnya dirasa kurang rapi. Rambut lurusnya hitam mengkilat sebahu dengan scarf louise vuiton di lehernya. Rok span coklat dan blouse satin pendek berwarna peach membalut tubuhnya yang sedikit gemuk dan pendek. Tapi wedges hitam membuatnya terlihat lebih tinggi. Hal menggelikan tentang wedges pernah kusaksikan di depan sebuah SD. Seorang perempuan turun dari angkot terjatuh gara-gara memakai wedges menghindari genangan air usai hujan. Glek! Minuman di mulutku pun terpaksa kutelan segera menahan geli. Terbayang betapa malunya kalau aku jadi dia. Tidak hanya aku yang berada di sana, ibu-ibu yang akan menjemput anak-anaknya dan pedagang minuman ikut menahan tawa.

Perempuan di sebelahku itu menoleh dan tersenyum ramah kepadaku. Suaranya mirip Maria Untu yang selalu berada di setiap twenty one untuk mengingatkan penikmat film.

“Sendirian anak cantik?” Tanyanya menatapku dengan mata belonya berhiaskan warna silver.

“Aku, Tante? Iya nih aku sendirian. Tante?”

“Iya, biasa nih Tante kangen sama anak Tante yang lagi study di sana. Oh iya, kenalin nama tante Kris.” Katanya sambil mengulurkan tangan untuk menyalamiku.

“Aku Annisa, Tan.”

“Annisa kuliah di Dubai juga?”

“Iya, Tan. Sebetulnya baru diterima sih, Tan.”

“Owh gitu…di mana?”

“Di UOD, Tan.”

“Bagus bagus…Tinggal sama siapa di sana?”

“ Rencananya tinggal di temen Papaku, Tan.”

“Kok rencana?”

“Iya, jadi aku baru pertama gitu ke Dubai tapi aku dah pernah ketemu sama mereka sebelumnya waktu mereka liburan ke Indonesia.”

“Oh… gitu? Annisa, Tante ngantuk nih, tadi malem kurang tidur. Kalo mau pergi pasti maunya cepet-cepet pagi.”

“Ya, silahkan Tan.”

Tak berapa lama Tante Kris terlelap. Mungkin benar dia kurang tidur. Kucoba ikut memejamkan mata tapi tak bisa. Kunyalakan ipodku, kunikmati lagu-lagu kesayanganku yang tetap saja tidak mampu membuatku terkantuk. Ya sudahlah! Kulanjutkan pe-er novel ‘Bread and Wine’ku. Novel yang sudah di tanganku sejak sebulan yang lalu ini belum sempat kuselesaikan. Tale of Two City dan Time Line adalah temannya Bread and Wine yang merupakan novel-novel paksaan untuk bacaanku. Karena sesungguhnya aku sangat lelet untuk mencernanya. Tidak seperti halnya saat kulahap novel-novel popular yang berserakan di kamarku. Aku harus terbiasa dan bisa mencerna semua genre bacaan.

Check Also

Firstiana Annisa (bagian dua belas) oleh: Tinov

Bagian dua belas 12.45 pesawat yang membawaku sampai di Dubai International Airport pada terminal yang …

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of

Tanya Situ Seni

)
    is typing...

    Fill in the form below to send us a message.

    Send Message Cancel