Home / PROSA / Firstiana Annisa (bagian sembilan)

Firstiana Annisa (bagian sembilan)

Bagian Sembilan

Kuangkat ponselku yang berdering ketika aku selesai salat duhur di masjid Daarut Tauhiid. Rencananya aku akan melihat pengumuman hasil tes masuk PPM.

“Gimana Mas? Ada namaku enggak? Aku bentaran lagi nyampe bawah ko.” Kulipat mukena katun Bali warna hitam bercorak putih dan kumasukkan ke dalam tas cangklong biru koral. Kuturuni anak tangga masjid dengan terburu-buru.

“Tiana…” Teriak Mas Bas dekat papan pengumuman sambal melambaikan tangan kanannya dengan senyuman di bibirnya.

“Mana?” Tanyaku mendekat. Mataku langsung mencari namaku di urutan nama-nama yang lain.

“Tuh!” Telunjuk Mas Bas menunjuk namaku di lembar kedua.

“Alhamdulillah…” Ucapku sambal mengusapkan kedua tangan ke wajah.

“Selamat ya, kita cari informasi untuk prosedur selanjutnya.”

“Makasih ya Mas, ini juga berkat doa dan bantuanmu.” Mas Bas hanya tersenyum. Berbagai informasi pun kami kumpulkan. Sebulan berlalu sejak pengumuman menjadi warga pondok dengan puluhan akhwat dari berbagai jurusan dan angkatan. Aku hijrah dari kosan ke kobong. Kamarku diisi oleh empat belas orang dengan ranjang-ranjang yang bertingkat dan kasur busa single. Banyak hal yang kutemukan di sini. Hidup dalam satu habitat yang sama harus banyak bersabar dengan begitu banyak karakter. Selain kamar dan tempat tidur, kamar mandi pun kami harus berbagi. Aku pun harus menyesuaikan diri dengan semua keadaan yang baru ini. Semua peralatan pribadi harus dinamai. Sampai sebutir telur pun harus bertuliskan nama kami. Jika tidak, hukumnya menjadi halal untuk siapa saja. Masalahnya, ada saja orang yang mengakui milik orang lain meskipun dia benar-benar tidak memilikinya. Selain aneh, ya tidak tahu diri namanya.

Aku harus membiasakandiri dengan jadwal harian. Bangun pukul dua atau tiga akan membantuku bisa mandi tanpa ngantre panjang. Seperti halnya Hani yang kebagian tidur di tingkat dua di pojok kamar. Jika petugas piket yang membangunkan masuk kamar, Hani tidak akan terlihat dari bawah karena posisinya aman untuk sembunyi jika sedang dilanda malas. Pun dengan subuh hari ini. Sepulang dari mesjid dan mendengarkan ceramah Aa, aku masuk ke kamar dan mendapati Hani masih selimutan dengan enaknya. Apalagi tubuh kecilnya tersembunyi dengan rapi nyaris tak terlihat.

“Ih…kalian kenapa enggak ngebangunin aku sih?” Tanyanya dengan wajah tanpa dosa. Tidak dibangunkan bagaimana, jelas-jelas suara petugas begitu nyaringnya. Dasar sedang malas ya malas saja.

“Hu…dasar pemalas!” Seru kami berempat kompak.

“Hehehe…abisnya aku ngantukberat nih. Malem ngerjain jurnal baru kelar jam setengah tiga. Makanya aku tidur nempel ke dinding biar enggak ketahuan.”

“Trik yang lumayan sih buat ngelabuin mereka, tapi kalo sering-sering bakal ketauan juga kali.” Selaku.

“Iya iya…ini cuma kalo kepepet deh. Jangan ngadu ke mudarisah yaaa please…”

“Singkirin deh tampang memelas kamu!” Semprot Sasa.

“Udahlah yang penting jangan diulangi lagi.” Leraiku.

Hari-hari kujalani di pesantren dengan kesungguhan hati. Kemandirian yang kubangun bersama mereka membuahkan hasil yang luar biasa bagi kami. Ilmu yang kudapat lewat kajian dari Aa atau Teteh sebagai istrinya benar-benar kuterapkan. Ustaz Roni, Ustaz Rizal, atau Umi Yusuf adalah guru kami yang mengisi materi secara bergantian selain Aa dan Teteh. Tidak hanya melulu belajar tahfizh dan tahsin Alquran, kami dituntut untuk bisa percaya diri tampil berbicaradi hadapan umum dengan adanya muhadarah setiap Sabtu selepas isya. Biasanya kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Kami wajib membawakan sebuah topik untuk dipresentasikan dalam kegiatan tersebut. Secara bergantian pula kami harus menjadi wakil dari kelompok tersebut sebagai pembicara. Dari mulai searching materi sampai latihan penyampaian kami lakukan dengan senang hati.

Tugas-tugas kuliah pun banyak terbantu oleh pendapat-pendapat dan tenaga teman sepesantren. Pesantren kami memang tidak seperti pesantren yang lainnya karena kami harus berbagi waktu dengan kuliah kami. Kami tidak membaca kitab-kitab kuning dengan tulisan arab gundul tapi kami bisa sedikit-sedikit berbahasa arab meski hanya setiap Sabtu bada subuh kami pelajari. Seperti halnya belajar bahasa asing lainnya, sedikit-sedikit kami bisa, baik secara lisan atau tertulis.

Kujalani thalabul ilmi ini dengan sungguh-sungguh meski terkadang hormon kortisol penyebab stres meningkat jika tugas datang berbarengan. Dari dosen yang menentukan deadline makalah, Teh Rosa yang bolak-balik nagih hasil liputan, dan Mudarisah yang selalu mengingatkan kami untuk tetap mengikuti kelas fiqih dan akidah.

“Annisa…ayo bangun!” Suara Sasa terdengar nyaring membangunkanku. Ah badanku ngilu dan kepalaku pusing. Mataku begitu perih dan berair.

“Annisa kamu demam ya?” Sasa panik sambil memegang dahiku.

“Boleh minta tolong? Aku haus banget, Sa.”

“Ya ya bentar Nis, aku ambilin.” Sasa gugup dan buru-buru membawa segelas air hangat buatku.

“Nissa, kayanya kamu kecapean deh. Istirahat ya, biar nanti aku bilangin sama Mudarisah.”

“Makasih, Sa. Kamu enggak ke mesjid?”

“Enggaklah, aku temenin kamu aja di sini. Nanti aku anter kamu ke dokter ya di klinik kampus. Tuh kan badan kamu panas.” Sekarang Sasa benar-benar khawatir.

“Enggak usah Sa, nanti minum aspirin juga baikan.”

“Jangan keras kepala gitu deh! Pokoknya aku anter!”

“Iya iya…”

“Aku keluar dulu bentar ya., Nis.” Sasa pamit. Tubuh mungilnya hampir tenggelam dalam mukena yang masih dikenakannya. Langkahnya begitu gesit meninggalkanku di kamar. Tak lama kemudian dia kembali dengan semangkuk bubur ayam dan teh manis hangat buatku. Alhamdulillah ya Allah ada teman sebaik dia. Bahkan aku disuapinya untuk memastikan buburnya habis. Dengan sabar Sasa menungguiku sampai teh manis hangat mendorong bubur ayam yang benar-benar habis. Mata Sasa puas dengan hasilnya.

“Istirahat ya…” Ucapnya. Aku hanya mengedipkan mata dan tersenyum.

Aku kembali sendirian karena teman-teman yang lain kuliah pagi. Makan dan isirahat akan membantuku cepat pulih. Aku pun tidak mau merepotkan mereka yang mempunyai tugas dan kewajiban yang harus mereka jalankan.

Seminggu sudah aku istirahat tanpa bisa mengikuti kegiatan di pesantren dan kampus. Ponselku baru kunyalakan dan seakan tak mau diam ketika begitu banyak sms dan notifikasi lain masuk. Kubuka semua pesan yang masuk satu per satu. Dari mulai Mama, teman kuliah, Teh Rosa, dan Mas Bas tentunya. Setelah kutelepon Mama untuk mengabarinya jika aku baik-baik saja, aku balas sms Mas Bas. Sudah jarang aku bertemu dengannya sejak aku mondok. Dia mulai sibuk dengan persiapan sidangnya. Sebaris doa yang kukirim lewat sms sudah mewakili pikirku.

“Nissa, ada tamu.” Sasa muncul dari balik pintu kamar.

“Siapa, Sa?” Tanyaku penasaran.

“Teh Rosa, katanya.”

“Oke tunggu bentar.”

Aku beranjak dari temppat tidurku dan berjalan pelan menuju ruang tamu pondok. Badanku masih terasa lemah. Kulihat Teh Rosa duduk di karpet dengan sekeranjang buah di depannya. Matanya menyiratkan rasa khawatir ketika melihatku datang. Dipeluknya aku dengan rasa kangen.

“Hei! Sakit apa? Kami khawatir tahu! Untung ketemu Sasa dua hari yang lalu, katanya kamu sakit.”

“Iya nih Teh, mungkin kecapean. Kata dokter sih gejala typus gitu, tapi alhamdulillah sekarang dah enakan tinggal lemesnya.”

“Salam dari anak-anak ‘Kampusku’ mereka kehilangan kamu. Si Bas lagi sibuk sama sidangnya, jadi dah jarang ke base camp. Katanya lusa jadwal sidangnya, kalo aku besoknya lagi. Doain ya, Nis.”

“Iya Teh, mudah-mudahan dilancarkan dan jangan dipersulit.”

“Amiiin, ini dari anak-anak, Nis.” Kata Teh Rosa sambil menyodorkan keranjang buah dan sekotak brownis.”

“Jazakallah khairan katsiran.”

“Cepet sembuh ya…kalau kamu dah kuat, dateng ke sidang kami.”

“Insya Allah, Teh. Mudah-mudahan bisa.”

“Aku balik ya, Nis. Kebetulan mau ngambil skripsiku yang lagi dijilid di fotokopian. Assalamualaikum.”

“Waalaikumussalam Teh, makasih ya…”

Waktu berlalu melewati sidangnya Mas Bas dan Teh Rosa yang tak bisa kuhadiri. Hanya doa dan support lewat telepon. Hari wisudanya pun tiba di saat aku harus ujian di pesantren. Aku tahu harapannya atas kehadiranku, tapi apa mau dikata. Sampai akhirnya dia menemuiku di koridor Alfurqan selepas dhuhur. Mesjid kampus yang sudah kami akrabi dengan berbagai kepentingan selain salat. Dari kerja kelompok, halaqah, jajan saat nunggu jam kuliah, atau menunggu seseorang saat janjian.

“Assalamualaikum, Tiana!”

“Waalaikumussalam, Mas.”

Dibukanya sepatu dan diletakkannya di rak penitipan. Dia pun duduk bersila di hadapanku. Tas ransel hitamnya dibiarkan di sampingnya.

“Lama ya kita enggak ketemu?” Tanyaku membuka pembicaraan.

“Iya, saking sama-sama sibuk, sampai-sampai kita seperti jauh. Ujianmu gimana di pesantren?”

“Alhamdulillah dah kelar, Mas.” Jawabku sambil membetulkan kerudung.

“PPLmu?”

“Itu juga dah beres. Sekarang aku lagi ngerjain bab satu, alhamdulillah seminar judul minggu lalu langsung disetujui, Mas. Jadi aku dah dapet pembimbing dan lanjut bab dua.”

“Owh…aku ketinggalan informasi banget ya. Tahu-tahu kamu juga dah skripsi. Trus ‘kampusku’ gimana?”

“Sepertinya kita harus pamitan sama mereka, Mas. Enggak mungkinlah dengan keadaan yang sibuk begini aku harus tetap di sana. Mas juga kan dah selesai.”

“Rencanaku juga gitu, hari ini aku ke sana. Tadi aku hubungi mereka agar pada hadir dan untungnya mereka bisa. Oh iya, lusa aku balik ke Jogja. Kalo kamu enggak keberatan ikut ya.” Pintanya dengan tatapan memohon.

“Aku…insya Allah, Mas. Mudah-mudahan bisa. Mungkin aku akan ajak Sasa, itu pun kalo dia mau.”

“Please…Ibu yang minta nih.”

“Iya…emang dah packing?”

“Udah dong.”

“Emang cukup dalam mobilmu”

“Cukuplah, sebagian besar aku tinggal di kosan buat kenang-kenangan aja. Aku cuma bawa yang penting.”

“Sip kalo gitu, nantilah aku nelpon Mama dulu buat minta izin. Owh ya jadi ke ‘kampusku’?”

“Jadilah…yuk!”

‘Kampusku’ tampak sepi. Kami merasa heran mendapati ruangan itu kosong dengan pintu yang terbuka. Perlahan kami masuk, tak ada tas atau barang-barang penghuninya. Kami putuskan untuk menungu mereka saja. Aku duduk di karpet sambil membaca berita di ponselku. Sementara Mas Bas berdiri di luar dengan rokok di tangan kirinya.

“Tiana, aku beli minuman dulu ya ke kantin. Haus nih. Kamu mau apa?”

“Capucino ya kalo ada.”

“Oke.”

Dia pun berlalu menyisakan asap rokok yang dihembuskannya. Aku keluar dan duduk di tempat Mas Bas berdiri tadi. Kusandarkan kepalaku di tiang. Tak lama Mas Bas datang menyodorkan capucino dingin dan potato chips rasa rumput laut. Dia duduk di sebelahku sambil menikmati minuman yang sama denganku. Kami terdiam untuk beberapa saat dan tiba-tiba mereka muncul dari base campnya Pandu dengan kado di tangannya masing-masing. Kami terbelalak. Ada apa ini? Ada apa dengan mereka semua?

“Masuk…masuk!” Teh Rosa menggiring kami ke ‘kampusku’. Didudukannya kami di karpet. Semua hening.

“Siang menjelang sore semua!”

“Siang…”

“Kalian berdua mungkin bertanya-tanya. Oke kamisengaja berkumpul untuk sekedar kangen-kangenan sebelum Baskara balik ke kampungnya. Dan denger-denger Annisa pun harus keluar dari ‘kampusku’ karena sudah mulai nyusun. Aku mewakili mereka minta maaf kalo selama kita bareng-bareng di sini ada salah. Buat kamu Bas, sukses ya dengan perusahaanmu di sana. Kamu Nis, semangat ya nyusun skripsinya. Ah…aku jadi pengen mewek nih…”

Kupeluk Teh Rosa dengan erat. Banyak kenangan kami di ‘kampusku’. Perlakuannya yang terkadang diktator, itu justru membuat kami tahan banting saat dikejar dead line. Di balik sifat tomboynya, Teh Rosa tetap berhati hello kitty. Meski berat keluar dari ‘kampusku’ aku harus bisa untuk fokus di skripsiku. Aku harus maksimal mengerjakannya. Doa dan semangat mengalir dari mereka buat kami berdua.

Check Also

Firstiana Annisa (bagian dua belas) oleh: Tinov

Bagian dua belas 12.45 pesawat yang membawaku sampai di Dubai International Airport pada terminal yang …

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of

Tanya Situ Seni

)
    is typing...

    Fill in the form below to send us a message.

    Send Message Cancel