Home / PROSA / Firstiana Annisa (bagian sepuluh) oleh: Tinov

Firstiana Annisa (bagian sepuluh) oleh: Tinov

Bagian Sepuluh

Wisuda keduaku di pesantren menandai masa mondokku telah berakhir di sana. Dua tahun yang penuh bekal untuk kehidupanku. Aku pindah kembali ke kosan lamaku untuk menyelesaikan skripsiku.

Bab demi bab kulalui dengan lancar hingga sidang dengan nilai yudisium yang sangat memuaskan. Diam-diam aku mengikuti tes untuk mengajar bahasa Indonesia di Singapura. Mereka membutuhkan dua puluh orang fresh graduate dengan kontrak kerja selama dua tahun. Berbagai informasi kukumpulkan termasuk tes toefl yang kuikuti, padahal nanti kami tidak dituntut untuk bisa berbahasa Inggris. Kami benar-benar hanya mengajarkan bahasa Indonesia di sana.

Kucari tempat pengumuman hasil tes dengan hati penuh harap. Harapan yang akan menjadi awal mimpiku berkeliling dunia di negara tetangga. Jantungku makin berdegup kencang ketika namaku berada di urutan terakhir. Itu artinya aku diterima. Alahdulillah…alhamdulillah… berkali aku mengucap syukur sampai ponselku bunyi. Aku duduk di lorong fakultas dengan mata nanar.

“Iya, Ma? Maksudnya? Oke… Nisa telepon balik nanti di kosan ya, Ma.”

Kususuri jalan kampus dengan langkah bimbang. Banyak kata yang memenuhi ruang benakku berbaur menjadi sebuah kebingungan dan menempatkanku di persimpangan yang sulit. Ingat Annisa, istikharah adalah obat segala bimbang dan ragu di hatimu! Terima kasih ya Allah, Kaulah Guideku yang paling tepat. Kau bagai pil penenang berdosis tinggi, bahkan lebih mujarab tinimbang epipens untuk penderita alergi akut. Ya Allah, biarkan aku terpejam dan terjaga dengan senyuman yang menyenangkan semua orang. Menyenangkan orang lain bagiku lebih terasa nikmat dibandingkan kepuasanku sendiri. Hanya dengan menatap mata yang berbinar dan bibir yang tersenyum, itu membuatku bahagia.Terlebih itu adalah orang tuaku.

“Baik, Ma. Assalamualaikum.

Kuakhiri pembicaraanku dengan Mama di telepon. Kutatap langit-langit kosan yang berubah menjadi layar dari proyektor yang memutar film true story kehidupanku. Dulu, kini, dan nanti. Adegan demi adegan mengalir di tiap scenenya sesuai alur. Dari intro, rising action, complication, climax, dan ending yang harus kutentukan sendiri. Pelaku utamanya tentu saja aku yang sedang berbaring dalam kebimbangan yang amat sangat. Tiba-tiba layar itu mati seiring dengan terpejamnya mataku dan menyambungkannya dengan episode lain di alam mimpiku.

Check Also

Firstiana Annisa (bagian dua belas) oleh: Tinov

Bagian dua belas 12.45 pesawat yang membawaku sampai di Dubai International Airport pada terminal yang …

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of

Tanya Situ Seni

)
    is typing...

    Fill in the form below to send us a message.

    Send Message Cancel