Home / PROSA / Firstiana Annisa (bagian tiga belas) oleh: Tinov

Firstiana Annisa (bagian tiga belas) oleh: Tinov

Bagian Tiga Belas

Rencana kuliahku hanya satu tahun di University of Dubai ini. Bahasa, kultur, dan makanan membuatku harus berusaha keras untuk kuadaptasikan. Bahasa yang mereka gunakan cukup beragam. Selain Arab dan Inggris, Urdu pun sering kudengar dari obrolannya. ‘Lebih baik belajar bahasa urdu, karena itu digunakan oleh bangsawan. Sedangkan Bahasa hindi digunakan oleh rakyat biasa.’ Begitu pendapan Abdul, tokoh dalam film “Victoria and Abdul”. Film yang diangkat dari buku dengan judul yang sama. Film yang menceritakan tentang hubungan Ratu Victoria dengan pelayan setianya bernama Abdul. Hubungan keduanya menjadi hubungan yang dinilai kontroversi. Konon, semasa hidupnya, Ratu Victoria amat percaya pada Abdul. Kedekatannya pun lebih dari sekadar hubungan antara majikan dan pelayan. Sepeninggal sang ratu, keberadaan Abdul justeru dihilangkan dengan membakar semua yang berhubungan dengan data Abdul. Termasuk surat yang pernah menjadi media keduanya bertukar pikiran.

Aku jadi teringat, pernah sekali waktu aku pulang larut sendirian. Di depan sebuah toko ada seorang laki-laki tua mabuk, mulutnya bau dan berceracau dengan bahasa Urdu. Setengah berlari aku menghindarinya yang terus mengejarku.

“Hei don’t following me! Go away from me!” (Hei jangan ikuti aku! Pergi dariku!) Usirku berteriak.

“Hahaha… intizar!” (tunggu!) Ucapnya sambil tertawa, ditenggaknya minuman di tangan kirinya. Dengan sempoyongan dia berjalan terus di belakangku. Untung ada dua orang polisi yang sedang patroli melintas di persimpangan jalan. Entah apa yang mereka katakan kepada laki-laki itu. Yang kutahu hanya ada kata tum jau yang artinya pergi kamu. Meskipun Salem terkadang berbicara bahasa Urdu dengan sesama rasnya, aku tidak begitu serius mempelajarinya. Makanya aku tidak mengerti apa yang diucapkan polisi itu..

“Syukron, thank you so much.” (Terimakasih, terima kasih banyak.)

“Afwan ya ukhti. Where will you go?” (Sama-sama saudari. Mau ke mana?)

Tanya polisi berseragam putih itu ramah. Dari logatnya dia seperti orang Persia. Dia membuka kacamata hitamnya sambil bersandar di sisi mobil patrolinya. Rekannya yang mirip Martin Laurent si pemeran Bad Boys tetap berada di belakang kemudi sambil tersenyum kepadaku.

“I will go home, two block from here.” (Aku mau pulang, dua blok dari sini) Jawabku sambil menunjuk ke rumah Afrah.

“Owh okay, we will watchout you from here till you arrive to your home.” (Oke, kami akan mengawasimu dari sini.)

“Thank you so much.” (Terima kasih banyak)
Kataku sambil menganggukkan kepala kepada mereka berdua. Alhamdulillah masih ada orang baik di sini. Polisi di mana pun berada tetap mempunyai tugas yang sama. Hanya fasilitasnya yang membedakan mereka. Jika sebelumnya aku sempat membaca mobil-mobil mewah yang menemani polisi Dubai bekerja seperti lamborgini hurican, kenyataannya tidak semuanya benar. Mobil-mobil tersebut hanya digunakan untuk acara-acara resmi saja. Untuk patroli sehari-hari mereka hanya menggunakan mobil di bawah itu yang tetap saja terbilang mewah jika dibandingkan dengan mobil patroli di Indonesia. Terakhir mobil yang digunakan adalah mobil sekelas mitsubisi 4WD yang sering kulihat di pertambangan batu bara atau perkebunan sawit. Itu pun tidak semua polsek kebagian mobil yang serupa. Pun dengan fasilitas perangkat alat komunikasi, beruntung sekarang sudah ada ponsel yang dimiliki oleh semua anggota. Komunikasi akan lebih lancar tinimbang dengan menggunakan handy talky atau walky talky. Tidak seperti perangkat komputer yang sangat memprihatinkan keberadaannya. Komputer yang penuh debu dengan printer yang tintanya terkadang bocor atau kering. Tak jarang pelapor akan diminta untuk menunggu sampai laporannya bisa diprint. Jangan ditanya soal senjata yang lengkap, tidak semua anggota polisi dipersenjatai. Biasanya hanya kapala sektor dan orang yang dipercayai yang memegang senjata. Selebihnya, pentungan satpam pun masih digunakan.

Jika fasilitas masih tidak mumpuni, SDMnya pun masih terbilang baru belajar merangkak. Bangaimana tidak, banyak di antara mereka memiliki perut buncit dengan berat badan yang sangat tidak ideal untuk ukuran seorang polisi. Sekali waktu, ada peraturan yang mengharuskan polisi gendut harus mengikuti program pengurusan badan. Tapi entah kemana lagi aturan itu karena tetap saja kulihat polisi-polisi gendut bertebaran di mana-mana. Oh mungkin mereka ingin menyamai polisi barat yang akrab dengan donat. Bagaimana bisa mengejar penjahat, pikirku. Lucu!

Siang yang menyengat mengikutiku sampai kampus hari ini. Udara yang mencapai 35 derajat membuatku sangat kepanasan. Iklim tropis yang memanjakanku di Indonesia makin kurindukan. Hasrat hati yang paling dalam ingin membuka kerudung yang terasa begitu panas dan keringatnya membuat kulit kepala gatal. Astagfirullah, ini bagian dari godaan setan. Kuteguk air putih dari botol minumku. Nyes… melewati tenggorokanku yang kering kerontang selama berjalan dari depan kampus. Hari ini aku sengaja pergi sendiri ke kampus karena aku harus menemui Mr. Khalid dari Sharjah TV. Beliau adalah seorang editor di sana. Seharusnya aku yang menemuinya di Sharjah, tapi kebetulan dia sedang ada urusan di Deira jadi sekalian menemuiku. Rencananya kami akan bertemu di food court kampus saja. Kami janjian sekitar pukul 14.00. Masih ada waktu sekitar 30 menit pikirku. Segera kutuju ‘kantin’ kampus yang berada di lantai dua. Aku hanya membuka laptopku dan kuteruskan tulisanku. Aku belum memesan apapun karena aku memang belum tahu makanan atau minuman apa yang Mr. Khalid suka.
Pukul 14.10 telah berlalu ketika seorang laki-laki Pakistan berdiri di hadapanku. Cirinya sama seperti dengan yang disebutkan di telepon kemarin. Ah ini dia mungkin Mr. Khalid yang dimaksud.

“Assalamualaikum ya ukhti… masa ul khair… Anti Firstiana Annisa?” (Assalamualaikum saudari, selamat siang… Kamu Firstiana Annisa?) Suaranya lembut menyapaku sambil tersenyum ramah. Terasa tidak asing bagiku.

“Waalaikumussalam, naam ana Annisa. Wa anta Mr. Khalid El Fatih?” (Waalaikumussalam, ya aku Annisa. Kamu Mr. Khalid El Fatih?) jawabku dengan balik bertanya untuk menegaskan.

“Naam, ahlan wa sahlan.” (Ya, selamat datang) Katanya sambil mengulurkan tangannya.

“Owh ahlah wa sahlan. Sit down, please. May i order something for you? Coffee or tea? Lunch maybe?” (Oh ya… Silahkan duduk. Boleh aku pesankan sesuatu buatmu? Kopi atau teh? Makan siang barangkali?) Aku tidak menyambut uluran tangannya tapi hanya menyalaminya dengan kedua tangan di dadaku. Kulihat dia menarik tangannya dan meniruku.

“Black coffee, i had have lunch before in hotel. Thank you.” Kopi item aja, tadi aku makan siang di hotel. Makasih.)

“I order a cup of black coffee, one black tea without sugar, and two tiramisu.” (Aku pesan satu cangkir kopi hitam, satu teh hitam tanpa gula, dan dua tiramisu.)

Seorang pelayan perempuan berambut pirang dengan celana panjang hitam dan kemeja putih bercelemek mencatat pesananku. Aku duduk berhadapan dengan Mr. Khalid. Sosok seorang lelaki Pakistan berkulit hitam manis berumur tiga puluhan tahun. Perkiraanku meleset. Aku mengira akan bertemu dengan seorang Arab berdisdasha putih lengkap dengan turbannya. Ternyata dia hanya mengenakan t-shirt berkerah warna biru tua. Celana jeans senada dan sepatu olah raga berwarna putih. Kacamata oakley hitam ditaruhnya di meja dekat tangan kirinya. Sedangkan tas ranselnya di bawah kursi. Aku dihubunginya ketika aku mengirimkan tulisan tentang pengalaman mahasiswa ekspatriat dari berbagai negara ke Sharjah TV seminggu yang lalu. Dia tertarik dengan tulisanku itu dan berniat untuk bekerjasama sebagai reporter di sana. Janji pun kami jadwalkan hari ini.

“Oke, mmm…” Kami berbarengan memulai pembicaraan.

“You are the first.” (Kamu duluan.)Katanya sambil tersenyum di balik bibir tipisnya yang memperlihatkan gigi putihnya yang rapi.

“No, you are. (Kamu duluan.)

“Okay Annisa, as i told you before. Would you be a reporter in Sharjah TV?” (Baik Annisa, Seperti kataku sebelumnya. Maukah kamu jadi reporter di TV Sharjah?) Tanyanya to the point sambil meneguk kopi pesanannya.

“Mmm i just have few experience when i was in campus.” (Mmm aku hanya punya sedikit pengalaman saat di kampus.) Aku sedikit ragu.

“It’s okay, we need you. So how?” (Enggak apa apa, kami butuh kamu. Jadi, gimana?) Ada harap di matanya.

“I will try.” (Aku coba.) Akhirnya aku menyangggupi itu dengan suara tetap ragu.

“That’s good, so you can send me about your coverage from tomorrow. Owh ya, do you have class this time?” (Bagus, Kamu bisa kirim liputanmu mulai besok. Oh iya, ad akelas sekarang?)

“No i don’t. I just to meet you today.” (Enggak. Aku Cuma ketemu kamu hari ini,)

“Owh yeah?” (Oh iya?) tanyanya sumringah.

“Yes i am.” Jawabku datar sambal membetulkan letak duduk.

“Sorry i disturbed your time, Annisa.” (Maaf sudah mengganggu waktumu, Annisa.)

“Never mind Mr. Khalid.” (Enggak masalah, Mr. Khalid.)
“Call me Khalid please, without mister.” (Panggil Khalid aja, tanpa Mister.)

Pintanya sambil kembali tersenyum. Aku pun hanya tersenyum dan mengangguk mengiyakan. Ah dasar laki-laki! Pasti sok akrab dengan permintaan panggilannya itu. Ups! Ada yang melintas di pikiranku, suuzon. Cepat-cepat kuusir pikiran negative itu. Kami menikmati kopi dan tiramisu untuk beberapa saat. Obrolan pun mengalir layaknya sahabat, padahal sehari pun belum sampai umur kami bertemu. Sejam berlalu sampai akhirnya aku harus pamit karena Afrah akan menjemputku di depan kampus untuk belanja bulanan ke Al Bassam Centre.

“Khalid, i have to go now. My sister is waiting for me in front of campus.” (Khalid, aku harus pergi sekarang. Saudariku sudah menunggu di depan kampus.)

“Let’s go together!” (Ayo bareng!) Katanya sambil berdiri mengenakan tas ranselnya. Kami berjalan bersama menuju tangga untuk ke lantai bawah. Afrah sudah menungguku di depan pintu keluar dengan lambaian tangannya.

“Khalid, she is my sister, Afrah. Afrah, he is Khalid.” (Khalid, dia saudariku, Afrah. Afrah, ini Khalid.) Kukenalkan mereka berdua dan bersalaman.

“Annisa, i will call you later. Thank’s for your time. See you.” (Annisa, aku akan menghubungimu nanti. Terima kasih atas waktumu. Sampai jumpa.)

“You are wellcome Khalid, take care, see you too.” (Sama-sama Khalid, hati-hati, sampai jumpa.)

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumussalam.” Khalid berlalu menuju mobilnya.

“Hei, who is he?” (Hei, siapa dia?) Tanya Afrah penasaran.

“Owh he is Khalid, produser of Sharjah TV, he has offered me to be reporter there.” (Dia Khalid, produser TV Sharjah, dia menawariku untuk jadi reporter di tempatnya.)

“Wow that’s great! Do you accept his request?” (Woew keren! Kamu terima?)

“Yes.” (ya.)

“So how with your lecture?” (Kuliahmu?)

“I do like this in my campus before. I am a reporter in my campus magazine. It’s my soul, Afrah.” (Aku bekerja seperti ini di kampusku sebelumnya. Aku reporter di majalah kampus. Ini jiwaku, Afrah.)

“Okay, congratulation. We have to go now?” (Oke, selamat. Kita pergi sekarang?)

“Let’s go.” (Ayo.)

Afrah sangat antusias berbelanja denganku. Belanjaan yang dibeli begitu banyak, melebihi belanjaan bulanan keluargaku di Jambi. Bagasi dan kursi belakang sangat penuh. Afrah bilang jika ini hanya kebutuhan pokok. Untuk kebutuhan sayuran dan makanan lainnya, biasanya Aise atau Laila yang belanja setiap minggunya diantar oleh Salem.

“May i know about Khalid, Annisa?” (Boleh tahu tentang Khalid, Annisa?) Sore itu tiba-tiba suara Afrah terdengar ingin sekali tahu lebih jauh tentang Khalid.

“Sure you may! I will make an appoinment with him, i mean three of us.” (Tentu! Aku akan buatkan janji dengannya, maksudku untuk kita bertiga.) Tegasku sambil mengedipkan mata menggodanya. Afrah tersipu malu.

Pertemuanku dengan Khalid bisa dibilang intens karena pekerjaanku. Seintens Afrah menanyakan kabarnya. Aku pikir Afrah mungkin menyukai Khalid. Bahkan ketika kami janjian untuk makan siang bareng di sebuah kafe di dekat kampus. Dengan jelas Afrah memintaku untuk meninggalkan mereka berdua. Aku sangat mengerti maksudnya ke mana. Aku harus berpura-pura meninggalkan mereka bertemu dengan dosen untuk menyerahkan tugas.

“Hei! Where will you go, Annisa? Stay here with us.” (Hei! Mau ke mana, Annisa? Tetep di sini sama kami.) Pinta Khalid, tapi mata Afrah mengisyaratkanku untuk pergi.

“I am really really sorry, i have an appoinment with my lecturer.” (Maaf banget, aku ada janji dengan dosenku.)

Terbersit kecewa di wajah Khalid saat aku pamitan meninggalkannya berdua saja dengan Afrah. Tapi rona bahagia begitu bersinar di wajah Afrah. Aku senang melihat Afrah bahagia. Terlebih aku begitu banyak menerima kebaikan darinya dan ‘Am Ahmed. Aku serasa menjadi Aisyah yang tinggal di keluarga Bu Henidar di Jambi dulu. Beginilah cara berterima kasihku. Harta buat Afrah tak jadi masalah. Dan tak mungkin aku memberikan barang dan uang buatnya hanya untuk sekedar berterima kasih.

Entah apa yang mereka bicarakan saat makan siang tadi. Afrah masih tetap terlihat riang ketika kami bertemu di rumah. Dia melewatkan dinner dan hanya makan pie apel dan teh di belakang rumah. Sambil menikmati riak laut dan hembusan angin, matanya penuh dengan lamunan yang membuatnya terlena sampai larut. Aku hanya menatapnya dari balik jendela kamar tanpa mau mengganggunya sedikit pun.

Kriiing…

Ponselku berdering di atas bantal. Khalid? Ada apa dia meneleponku selarut ini? Mungkin ada yang salah dengan liputanku kali ini.

“Yes Khalid, what’s going on? How is your lunch? Is it success?” (Ya Khalid, ada apa? Gimana makan siangnya? Sukses?) Tanyaku berusaha sesantai mungkin.

“Why do you left me with Afrah? That’s like a scenario for me. I mean you left us deliberated. Don’t you?” (Kenapa kamu meninggalkanku dengan Affrah? Ini seperti scenario untukku. Maksudku kamu sengaja meninggalkan kami. Iya kan?) Nada bicara Khalid terdengar menahan kesal.

“Mmm so sorry Khalid. I thought she has a feeling with you.” (Mmm maaf banget Khalid. Aku piker dia menyukaimu.) Jelasku berharap dia mengerti.

“No! You are my soulmate now and forever.” (Tidak! Kamulah pasanganku sekarang dan selamanya.) Kali ini suara Khalid tegas.

“Hei, what are you talking about!” (Hei, apa yang kamu bicarakan?) Suaraku pun tak kalah tegas dengannya.

“Annisa, i am your soulmate. What was your parents talking to you?” (Annisa, aku pasanganmu. Orang tuamu cerita?)

“What? What do you mean? Are you? Are you kidding me?” (Apa? Maksudmu? Kamu? Kamu bercanda?) Nada bicaraku mulai meninggi karena kesal dengan pernyataan Khalid. Aku tidak mengerti dengan apa yang sedang dia bicarakan. Kusibakkan selimut dari tubuhku. Lalu aku duduk di tepi tempat tidur. Hp kupegang dengan tangan kiriku sedangkan tangan kananku mengapai jepit rambut yang berada di meja. Hap! Rambutku kujepit ke belakang dengan satu tangan.

“I am really serious. I know the name of your Mom and Dad. Ibu Zeda and Bapak Abdullah, right?” (Aku sangat serius. Aku tahu nama ibu bapakmu. Ibu Zeda dan Bapak Abdullah, ‘kan?)

“But, mmm his name is A’idh.” (Tapi, mmm namanya A’idh.) Aku tetap meragukan ucapannya.

“Yes you are right. That is my nick name.” (Ya kamu benar. Itu nama kecilku.)

“Then? How do you know me while we never met again i mean?” (Terus? Maksudku bagaimana kamu tahu sedangkan kita tak pernah ketemu lagi?)

“Your parents sent me about your pic last week.” (Orang tuamu mengirimkan fotomu minggu lalu.)
“Ho ho ho it’s not fair! You know me while i’m not! But it’s okay, mmm so how? What do you want?” (Ho ho ho ini tidak fair! Kamu tahu aku sedangkan aku enggak! Tapi baiklah, mmm jadi gimana? Apa maumu?) Tanyaku dengan nada menantang. Bagiku ini benar-benar menjadi kejutan. Wow! Kubetulkan anak rambut yang menutupi keningku. Aku beranjak dari tempat tidur dan berpindah duduk pada kursi.

“Listen to me! We can to know each other from now. I will try to accept you because i have waited you for a long time ago. Our parents have planed from two of us kids, right?” (Dengar! Kita bisa mengenal satu sama lain dari sekarang. Aku akan mencoba menerimamu karena aku sudah menunggumu lama. Orang tua kita merencanakan ini sejak kita masih kecil, ‘kan?) Suara Khalid membujuk. Hatiku sedikit lumer.

“Yes, that’s right. So?” (Ya. Terus?) Tanyaku dengan merendahkan suara.

“Mmm may i ask to you?” (Mmm boleh tanya?) Tanyanya sedikit ragu seperti takut aku marah.

“Yeah?” (Ya?) Aku balik bertanya dengan penasaran.

“How about you?” (Bagaimana denganmu?)

“Khalid, i…i…accept you and i have waited you too, but…” (Khalid, aku… aku… menerimamu dan aku sudah menunggumu, tapi…) Ah kenapa aku mengucapkan kalimat itu? Ke mana rasa kesal tadi? Aneh!

“But?” (Tapi?)

“Khalid, can we talk later? It is late.” (Khalid, bisa kit alanjutkan nanti? Ini sudah larut.) Pintaku sambil menguap.

“Owh okay, i will wait you. Have a nice dream Annisa. See you later. Assalamualaikum.” (Oh oke, aku akan menunggumu. Mimpi indah annisa. Sampai jumpa. Assalamualaikum.)

“See you too, waalaikumussalam.” (Sampai jumpa, wassalamualaikum.)

Perasaan ini sangat campur aduk. Jika dalam film kartun mungkin banyak gambar di atas kepalaku. Mereka akan loncat-loncat seperti ikan sambil melet mengejek ke arahku. Let’s thinking Annisa! Ho…help me please, ya Allah… Orang tua atau Afrah ya Allah? Mana yang harus aku bahagiakan Tuhan? Kupandangi foto Mama Papa di atas meja riasku dengan latar tanah Lot Bali. Itu adalah kali pertama aku diajak ke Bali oleh Papa Mama sekalian urusan bisnis. Kuhabiskan waktuku untuk jalan-jalan, belanja, dan berfoto seperti orang udik yang baru piknik. Seminggu di sana membuatku merasa puas bisa liburan meskipun nebeng di urusannya Papa. Tak hanya ke Bali, Papa akan mengajak serta kami, Mama dan aku untuk ikut menikmati kota-kota yang Papa singgahi. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.

Mataku beralih pada foto aku dan Afrah yang tergantung di dinding. Foto yang diambil saat kami mengunjungi Burj Khalifa tahun lalu. Tanpa harus bersusah payah, Afrah mengajakku ke Burj Khalifa yang sangat terkenal itu. Begitu masuk ke dalamnya kami begitu dimanjakan dengan ‘kios-kios’ mewah yang menjajakan barang-barang branded. Sudah layaknya mall yang menjadikannya sebagai surga belanja bagi kaum hawa. Pun dengan kami. Tak heran jika turis asal Indonesia akan betah berlama-lama di sini. Turis asal Indonesia popular dengan shopaholic. Tak terkecuali di Dubai. Bagi mereka yang berkantong tebal akan belingsatan melihat barang-barang yang membuat ngiler. Di lantai bawah kita bisa membeli berbagai merchant sekedar untuk oleh-oleh asal ada tandanya saja Burj Khalifa. Kaos oblong putih bergambar tower ini pun terpajang di mana-mana. Aku dan Afrah pun membeli kaos yang sama untuk kemudian langsung kami pakai dan berfoto di depannya.

Sekarang kuliahku hampir selesai dan menjadi reporter sedang kunikmati beberapa bulan ini. Afrah begitu menyukai Khalid. Dan aku? Menerima Khalid begitu saja tanpa memedulikan perasaan Afrah adalah hal yang sangat kejam. Aku begitu berhutang segalanya kepada Afrah dan ‘Am Ahmed. Baik, aku mau melihat Afrah bahagia. Orang tuaku? Aku akan menceritakan semuanya dan aku yakin mereka mau mengerti.

Check Also

Firstiana Annisa (bagian sebelas)

Bagian Sebelas Wajah-wajah penuh rona bahagia bertebaran di seluruh penjuru kampus. Ceremonial wisuda sekaligus dies …

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of

Tanya Situ Seni

)
    is typing...

    Fill in the form below to send us a message.

    Send Message Cancel