Home / PROSA / Firstiana Annisa (bagian tiga) oleh: Tinov

Firstiana Annisa (bagian tiga) oleh: Tinov

Bagian Tiga

Terusan abu-abu polos, vest hitam selutut, dan kerudung gradasi hitam abu-abu sengaja kukenakan untuk memberikan kesan kalem. Aku paling ogah mengenakan high heels yang runcing, makanya hari ini aku sengaja mengenakan boot pendek hitam polos dengan tali. Aku jadi cenderung tidak suka dengan high heels karena sejarahnya. Penciptanya adalah laki-laki yang ingin melihat betis dan pantat perempuan terangkat ketika mereka mengenakannya. Jadi, maukah kita menjadi objek penyegar mata laki-laki? Buatku jelas tidak!

Karena aku tidak suka berdandan, jadi aku hanya memakai bedak tipis, eyeliner hitam, dan lipstik nude. Tanpa eye shadow dan blouse on. Bulu mataku yang pendek dan lurus pun kubiarkan di balik kacamata minus dan silinder full frame hitam berbahan plastik.

Tas cangklong warna hitam kutaruh di sampingku. Aku duduk tepat di depan meja pemimpin redaksi. Tuh kan letak mejanya sama seperti letak meja di kamarku? Menghadap ke pintu. Bedanya aku bos buatku sendiri, pemimpin di sini menjadi bos buat banyak karyawan. Semoga saja aku pun demikian, aaamiiin.

Penataan ruangannya simpel, dominan hitam dan putih menghiasi warna interiornya membuat penampilanku menyatu bersama ruangan ini. Semua furniturnya knock down. Mungkin ini hanya menyeragamkan dengan ruangan lain. Hanya ada satu set meja, kursi, dan lemari. Lemari pajangan berisi buku-buku keagamaan, Alquran, dan Hadist. Seperti biasa aku pun menebak-nebak sosok pemilik ruangan calon bosku.

“Assalamualaikum.”

Ini dia sosok yang aku tebak. Beliau mengenakan baju koko putih, pantalon hitam, dan peci haji. Frame kacamata hitam dengan tanda centang. Matanya sipit menyimpan kepintran di balik kesederhanaan. Sang pemimin yang ramah dengan tampilan yang tak kalah sederhananya dengan penataan ruangan. Umurnya kira-kira 45 tahunan. Beliau lebih mirip Ustaz Aam Amirudin Pemimpin ‘Percikan Iman’ tempatku ngecas iman di minggu pagi dengan ceramahnya yang bersahabat tapi, di sela nyantriku di pondok Aa. Karena bagiku, mencari ilmu bisa dari berbagai sumber.

“Waalaikumussalam.” Kujawab salamnya sambil berdiri tanpa bersalaman.

“Perkenalkan nama saya Yusuf Aminudin sebagai pemipinan di sini.” Tuh kan namanya saja mirip, semirip sosoknya.
“Saya Firstiana Annisa, Pak.”

“Silahkan duduk! Siapa tadi namamu?”

“Firstiana Annisa, Pak”

“Oke, panggilanmu Annisa?”

“ Iya, Pak.”

“Baru kali ini saya membaca nama Firstiana, terdengar langka. Mungkin kamu anak ke satu atau tunggal di keluargamu.” Ucapnya sambil tersenyum.

“Iya, Pak. Saya anak perempuan dan cucu ke satu juga tunggal di keluarga saya.”

“Baik Annisa, Saya sudah pelajari profil dan riwayat pekerjaanmu sebelumnya. Saya menempatkanmu di posisi produser di bawah eksekutif produser Dewa di acara ‘Annisa’. Wah kebetulan sekali acaranya sama dengan namamu. Apakah kamu tidak merasa turun level dengan bekerja di sini sementara kamu pernah bekerja di luar negeri sebelumnya?”

“Tidak Pak, luar negeri kan tempatnya saja, pekerjaan yang harus saya lakukan tetap sama. Saya tetap harus sungguh-sungguh menjalaninya.”

“Bagus Annisa, saya suka dengan anak muda sepertimu. Ada pertanyaan mungkin?”

“Untuk sekarang belum, Pak.”

“Oh iya untuk urusan salary saya yakin Annisa sudah setuju dengan yang kami tawarkan sebelumnya lewat telepon yang disampaikan oleh bagian keuangan kami sebelumnya.”

“Betul , Pak.” Jawabku sambil mengangguk. Ah aku tidak mempermasalahkan jumlah gaji yang akan aku terima. Jika dibandingkan dengan yang dulu, di sini hanya sepertiganya.

“Baik, kalau memang belum ada yang mau ditanyakan, kamu temui Dewa di lantai dua dan beliau akan menunjukkan ruang kerja dan jobdesknya.”

“Baik, Pak. Kalau begitu saya pamit.”

“Selamat bergabung dengan kami semoga kita bisa bekerjasama dengan baik.”

“Iya, Pak. Assalamualaikum.”

“Waalaikumussalam.”

Aku bergegas menuju lantai dua seperti instruksi Pak Yusuf tadi. Aku mencari ruangan yang dimaksud. Di ruangan ketiga aku melihat papan nama terpampang di pintunya. Dewa Baskara, Eksekutif Produser. Seorang perempuan menghampiriku ketika aku hampir mengetuk pintu sang Eksprod.

“Anda mbak…”

“Annisa.”

“Ini Mbak Annisa, saya dititipi pesen sama Mas Dewa Eksprod di acara Annisa ini untuk menunjukkan tempat kerja Mbak. Tadi beliau nelpon saya, katanya beliau tidak bisa masuk kerja soalnya sakit. Mbak bisa langsung menempati tempat kerja Mbak. Oh iya, kenalin aku Ghaitsa, aku reporter, masih junior sih.” Katanya dengan senyum malu-malu.

“Aku Annisa. Ghaitsa anaknya Aa dong?” Candaku, kami pun sama-sama tersenyum.

“Waaah malu saya Mbak kalau harus disamakan dengan anaknya Aa, da aku mah apa atuh? Hehehe…Nah ini Mbak tempatnya .. Lho kok ada bunga ya Mbak? Subhanallah, baru dateng udah ada fansnya nih. Aku juga mau dong ada yang ngirim kembang, sekuntum juga ga pa palah.”Aku hanya bisa tersenyum mendengar komentar Ghaitsa dengan seikat lily yang ada di meja kerjaku. Padahal aku sangat penasaran dengan itu. Siapa ya kira-kira orang yang sudah mengirimiku bunga tepat di hari pertamaku bekerja. Aaah biarlah siapapun itu tidak penting.
“Komputernya dah bisa digunakan langsung ko Mbak, hari ini ada note dari Mas Dewa buat Mbak. Kalau Mbak perlu sesuatu tinggal tanya aku aja. Eh ga pa pa kan aku panggil Mbak? Ih aku nyerocos terus dari tadi. Hehe maaf Mbak, bawaan orok kalo cerewet mah. Habis aku seneng banget dapet teman baru, tepatnya atasan yang waktu itu harus resign karena ikut suaminya dinas di luar Jawa. Makanya pas denger ada penggantinya aku excited banget.” Gaitsa tersipu malu, mukanya memerah.

“Ga pa pa Ghaitsa, baru masuk kerja dah dapet temen kaya Ghaitsa, rame, asik. Makasih ya atas bantuannya.”

“Sip sip Mbak, aku kenalin nih Mbak rekan setim kita. Ada Teh Hana reporter, Kang Fajar kameraman, Kang Ali editor, dan Teh Salwa reporter, dan aku reporter junior. Temans, ini Mbak Annisa Produser kita yang baru. Dah kaya Mas Dewa aja nih Ghaitsa. Biasanya yang ngenalin karyawan baru beliau, berhubung Mas Dewa sakit jadi dititipin aku deh.” Semua tersenyum menyambutku dengan sedikit membungkukkan badan.

“ Oh hai assalamualaikum semua.”

“Waalaikumussalam”

“Senang bisa bertemu kalian. Mulai hari ini saya bergabung di divisi ini. Mudah-mudahan kita bisa bekerjasama dengan baik. Selalu bismillah untuk memulai pekerjaan. Bekerja sungguh-sungguh adalah modal kita untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Meskipun saya jadi produser di sini tapi saya mau tidak ada jarak antara kita ya. Semoga kita bisa solid. Saya pun akan bertanya kalau memang saya tidak tahu dan meminta bantuan kalian semua. Oke, kita bisa mulai bekerja sekarang?”

“Siap Mbak…”

“Silahkan ke tempat masing-masing.” Timku bergegas duduk melingkar di depanku. Penempatan tempat kerja seperti ini memudahkan kami berkoordinasi.

“Ghaitsa, aku ngiri ah dipanggil Mbak sama kamu, Teteh aja kaya yang lain.”

“Hehe boleh deh aku samain aja jadi Teteh Annisa yang cantik.”

“Btw, makasih ya atas bantuannya.”
“Sip sip Mbak, eh Teh. Aku mau ngerjain kerjaanku dulu nih ada yang belum selesai. Aduuuh kebelet pipis dulu…” Ghaitsa pun berlalu setengah berlari menuju toilet. Lucu dan rame makhluk yang satu ini. Tubuhnya agak pendek sedikit berisi, matanya sipit, dan pipinya chuby.

Kuletakkan tasku di atas meja, kupindahkan bunga lily itu ke sebelah komputer. Ada kartu ucapan di atasnya.

“Selamat datang Tiana,
Semoga kamu suka dengan bunganya.”

Oke, siapapun kamu, aku terima saja dulu seikat lily ini. Note yang katanya dari Mas Dewa pun kukerjakan satu per satu. Tidak terasa semuanya selesai tepat waktu. Salwa dan yang lain masih asyik dengan tugasnya. Salwa ini orangnya tinggi kurus, hitam manis, ada lesung pipit di pipi kirinya. Orangnya ramah, pintar, dan cepat tanggap. Kalau Hana sepantarlah denganku, mungkin dia keturunan Cina karena matanya sipit bukan karena chuby. Dia cenderung pendiam.

Alhamdulillah hari berlalu begitu ringan seringan langkahku memasuki kosan dengan semangat yang tersisa. Sepertinya aku harus langsung mengisi perut dulu yang tiba-tiba bertabuh silih berganti minta semangkuk zupa soup dan segelas air putih yang kubeli di depan pesantren. Tak ada yang lebih bahagia dari nikmat sehat yang Allah berikan kepada umatnya. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Ayat Alquran Surat Arrahman yang berulang-ulang muncul itulah yang harus selalu diingat olehku. Bersyukur kepadaNya adalah cara yang tepat untuk berterima kasih atas segala yang Allah curahlimpahkan.

Check Also

Firstiana Annisa (bagian dua belas) oleh: Tinov

Bagian dua belas 12.45 pesawat yang membawaku sampai di Dubai International Airport pada terminal yang …

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of

Tanya Situ Seni

)
    is typing...

    Fill in the form below to send us a message.

    Send Message Cancel