Home / PROSA / Firstiana Annisa (bagian tujuh) oleh: Tinov

Firstiana Annisa (bagian tujuh) oleh: Tinov

Bagian Tujuh

Semua pegawai sangat kenal baik dengan Mas Bas. Begitu kami masuk toko, kepala toko di sana langsung menyambut kedatangan kami dengan ramahnya.

“Kenapa enggak ngasih kabar dulu kalau Mas Bas mau datang? Kami kan bisa nyiapin jamuan. Masa jauh-jauh datang enggak disambut.” Ucap kepala toko dengan hormatnya sambil menunduk.

“Enggak apa-apa Pak Diman. Sehat?”

“Alhamdulillah, Mas Bas sendiri?”

“Alhamdulillah, Pak.”

“ Di belakang sudah mulai produksi kan?”

“Iya, Mas Bas sudah. Seperti biasa mulai pukul tujuh.”

“Oh iya kenalin ini Annisa teman saya. Dia mau meliput pabrik kita ini, kebetulan ada tugas dari kampus.”

“Annisa…”

“Diman, Mbak. Calonnya Mas Bas toh?” Pertanyaan Pak Diman membuat kami bersitatap dan kami hanya tersenyum.

“Doain aja Pak Diman.”

Tanpa diduga Mas Bas melontarkan kalimat itu. Aku tidak dibiarkan untuk berpikir ketika Mas Bas mengajakku ke sebuah ruangan untuk menemui manager perusahaan. Pabrik ini terlihat hanya sebagai toko bakpia biasa dari depan. Lahan parkir yang luas bisa memuat enam bis pariwisata. Tokonya cukup luas. Di belakang ada ruangan yang berfungsi sebagai kantor. Dan di belakangnya lagi adalah pabrik tempat memproduksi bakpia. Aroma dari pembakaran kue tercium menggoda hidungku. Membuatku semakin penasaran untuk melihat langsung proses pembuatannya.

“Kita ke Om Gatot dulu yuk!” Ajak Mas Bas tanpa memedulikanku yang masih bengong. Aku mengikutinya tanpa berkata apa-apa.

“Hei…Mas Bas! Om kira siapa.” Pak Gatot begitu sumringah menyambut kedatangan kami. Dipeluknya Mas Bas seperti ke anaknya.

“Monggo silahkan duduk.”

Kami pun duduk di sofa tamu yang berada di ruangan itu. Hanya ada empat meja kerja yang mengisi ruangan. Tiga meja di antaranya ada pegawainya. Ada dua orang perempuan sebagai sekretaris dan bendahara, dan Om Gatot managernya. Sementara meja yang kosong terpisah di pojok ruangan. Ah mungkin itu mejanya Mas Bas jika dia sedang ke sini. Dan betul saja dugaanku.

“Kapan Mas Bas akan menempati meja itu?”

“Ah…Om ini bikin aku malu aja. Aku akan segera menyelesaikan kuliahku Om.”

“Mudah-mudahan Gusti Allah melancarkan semua urusan Mas Bas.”

“Aaamiiin.”

Seorang OB masuk membawa minuman dan bakpia tentunya.

“Silahkan Mas, Mbak, tehnya diminum tanpa gula sesuai pesanan.” Ujarnya sambil tersenyum. Sesaat kami menikmati suguhan.

“Sebenernya Mas Bas dan Mbak ini acara liburan atau apa ya? Kok enggak ngasih kabar.”

Pria paruh baya itu mengerutkan dahinya. Rambutnya yang mulai beruban menyembul di antara peci putihnya. Penampilan yang jauh dari sebutan manager. Celana katun krem dan baju koko senada membalut tubuh tambunnya. Nafasnyasedikit terganggu jika akan berdiri dari duduknya.

“Oh iya Om, kenalin ini Annisa, dia mau meliput pabrik kita ini dari pagi sampai sore. Ada tugas dari kampus. Kalau aku sih cuma nganter aja.”

“Oh…boleh-boleh, kalau butuh informasi atau bantuanapa saja bisa tanya mereka berdua. Siap kan Lastri, Ajeng?”

“Siap, Pak…” Lastri dan Ajeng serempak menjawab.

“Tiana, Om Gatot ini teman Bapak dulu. Makanya aku dah anggap kaya ke orang tua sendiri.”

Jelasnya menjawab pertanyaanku dalam hati. Pantas dia memanggil Pak Gatot dengan sebutan Om tidak seperti ke karyawan lain. Namun begitu Mas Bas sangat sopan kepada siapapun bahkan kepada karyawan di bagian produksi atau OB. Sikap yang rendah hati disukai mereka dan itu membuat mereka betah kerja di pabrik ini.

Data-data yang aku butuhkan untuk tulisanku sudah terkumpul sebelum asar. Mas Bas membeli bakpia untuk oleh-olehku. Meskipun tempat itu miliknya, Mas Bas tidak seenaknya membawa hasil produksinya. Itulah bisnis, jika ingin maju ya harus seperti itu. Bukannya itungan, melainkan belajar konsisten dengan bisnis. Sama halnya dengan membeli oleh-oleh tapi dari tempat sendiri. Jika membeli oleh-oleh lainnya di tempat lain, maka bakpianya dari sini. Seperti biasa sepuluh dus Mas Bas tenteng untukku.

“Om, kami pamit dulu ya, terima kasih.”

“Iya Om, makasih banyak atas bantuannya.” Ucapku.

“Lain kali kalau mau ke sini bilang bilang Mas.”

“Iya, Om.”

“Ditunggu ya Mas undangannya…”

“Tenang aja, Om. Iya kan Tiana?” Mas Bas menodongku dengan pertanyaannya.

“Apaan ah! Ngarep!”

“Memang ngarep banget.”

“Udah ah, yuk!”

“Om, semua, kami pamit dulu, semoga kita selalu diberi kesehatan oleh Allah agar usaha kita ini tetap berjalan dengan baik.”

“Amiiin.”

Mas Bas mengemudikan mobilnya dengan gesit. Sesuai rencana, kami kembali ke rumah untuk kemudian melanjutkan liputan selepas asar.

Pukul lima sore kami tiba di alun-alun. Pengunjung bertebaran di mana-mana. Dari orang tua yang mengasuh anaknya sampai muda-mudi seperti kami yang santai nongkrong. Ada beberapa orang mencoba menutup matanya dan berjalan menuju pohon beringin. Pohon beringin yang menjadi ikon alun-alun di tiap daerah. Pohon yang menjadi simbol pelindung dengan teduhnya berlindung di bawah rindang daunnya. Allah sangat Maha segalanya. Aku tidak pernah membayangkan jika pohon yang begitu besar mempunyai buah yangbesar pula. Apa jadinya jika kita sedang enak-enak berteduh kejatuhan buah beringin sebesar buah kelapa. Subhanallah.

Katanya jarang orang yang bisa mencapai pohon beringin itu dengan tepat. Mereka percaya bahwa mereka bisa langgeng dengan pasangannya. Orang-orang kita masih saja percaya dengan takhyul yang sebenarnya dapat menyesatkan kehidupan. Cerita unik ini akan menjadi satu di antara beberapa liputanku di sini.

Kami salat maghrib di mesjid agung dekat alun-alun. Suasana selepas maghrib semakin ramai. Pengunjung dan pedagang berbaur menjadi satu. Ada becak dan sepeda yang disulap menjadi kendaraan berhias lampu warna-warni oleh pemiliknya. Dari kejauhan terlihat bak lukisan hidup beterbangan.

Di pojok lapangan ada sekelompok muda-mudi yang menamakan komunitasnya night running yang sedang istirahat. Mereka biasa berkumpul di sini dua kali seminggu. Kegiatan ini mereka lakukan untuk tetap berolah raga selepas kerja. Rabu dan Jumat mereka pilih untuk jadwal larinya. Selain tidak panas, berlari di malam hari bisa dilakukan saat bulan puasa selepas tarawih tentunya. Ajang menambah teman dan bersilatuhim satu sama lain, juga memperluas peluang usaha menjadi nilai plus selanjutnya. Bahkan menemukan pasangan hidup pun bisa saja terjadi sebagai bonus dari Allah untuk hal baik yang telah kita lakukan. Seperti yang dikatakan Doni anggota komunitas ini, yang menemukan pasangan hidupnya di sini.

“Tiana, aku tunggu kamu di bangku itu ya.” Mas Bas berkata sambil menunjuk ke sebuah bangku kayu di taman.

“Iya, Mas, nanti aku ke sana kalau sudah selesai.”

“Nyantai aja enggak usah terburu-buru.”

“Siap Mas, tinggal dua data lagi yang belum lengkap.”

“Oke.”

Aku beranjak dengan penuh semangat. Dua data lagi akan melengkapi liputanku kali ini. Dua liputan sekaligus dalam sekali perjalanan Bandung – Yogyakarta. Beruntung sekali aku bisa kenal Mas Bas yang begitu baik. Yang baik ke semua orang yang dikenalnya.

Semakin malam suasana semakin ramai. Aku pikir setiap malam Minggu pasti akan seperti ini di alun-alun di kota mana pun. Hanya orang-orang dan jajanannya yang berbeda. Jika di sini ada wedang jahe, di Bandung kan ada bajigur atau bandrek untuk minuman tradisional. Yang tentunya tetap harus bersaing dengan makanan dan minuman yang lebih modern dan bervariasi. Alhamdulillah selesai sudah tugasku. Kuhampiri Mas Bas dan duduk di sebelahnya.

“Dah kelar Tiana?”

Tanyanya sambil menghembuskan isapan rokok terakhirnya. Disodorkanya segelas wedang jahe kepadaku. Hangatnya jahe menjalari kerongkonganku sampai ke perut.

“Alhamdulillah, makasih Mas.”

“Nih, pake! Udara makin dingin.”

Mas Bas membuka jaket kanvas beigenya dan memakaikannya di punggungku. Masyaallah, begitu baiknya laki-laki ini. Begitu banyak pengorbanannya buatku. Ya Allah, sekiranya aku bisa memilih, aku pasti akan memilih laki-laki yang sedang berada di sampingku ini. Tidak hanya dia yang baik tapi Ibu dan orang-orang di sekitarnya pun sangat baik kepadaku. Kuteliti wajahnya dengan sudut mataku. Wedang jahe di tangannya sudah habis. Mas Bas membetulkan letak duduknya menjadi lebih tegak.

“May I say something with you, Tiana?”

“Ya, sure!”

“Dari awal pertemuan kita di kampus, aku sudah merasakan hal yang berbeda darimu, buatku tentunya. Semakin lama semakin berkembang dan itu membuatku menyukaimu. Aku memberanikan diri saat ini karena aku yakin tidak ada laki-laki lain di kehidupanmu selama aku mengenalmu. Kalau boleh aku memintamu untuk menerima apa yang aku punya sebagai rasa sayangku sama kamu. Mau enggak kamu jadi pendampingku?”

Darahku mendesir dan tiba-tiba berhenti mengalir. Tenggorokanku mendadak kering, tatapanku menjadi membulat. Ini yang aku duga, ini yang aku bayangkan, dan ini yang aku takutkan. Aku takut dengan perasaan yang sama dengannya dan aku takut mengecewakannya. Betapa tidak, aku harus menghindari mencintai laki-laki lain.

“Mas Bas, makasih untuk semua perhatianmu dari waktu ke waktu. Pengorbanan Mas tak pernah tergantikan oleh siapa pun. Rasa sayangmu, sangat kurasakan. Makasih buat itu. Maaf sebelumnya, aku hanya bisa menyimpanmu di hatiku sebagai orang yang lebih dari sekedar pacar atau apalah namanya. Biarlah kita tetap seperti ini, seperti kakak dengan adiknya atau seperti sepasang sahabat yang saling memperhatikan.”

Kuhembuskan napasku perlahan menahan butiran tangis yang hampir pecah. Kugenggam gelasku erat-erat dan kuteguk wedang jahe yang tersisa sampai habis. Kubiarkan menyatu dengan perasaanku yang bercampur dan sulit untuk kulukiskan dengan kata-kata. Dinginnya malam semakin membuatku membeku.

“Oke, aku menerima apapun jawabanmu. Aku tak akan menanyakan alasannya. Cukup kamu simpan sendiri saja mengapa kita hanya layak menjadi teman. Tapi biarkan aku tetap mengaharapkanmu.”

Samar kulihat kecewa yang berusaha disembunyikannya. Senyum getirnya seolah tertahan hembusan angin malam yang semakin menusuk jemari.

“Mau pulang sekarang?” Tanyanya sambil berdiri menatapku. Aku pun berdiri dengan kekuatan yang kukumpulkan di kakiku.

“Aku laper…” Rengekku.

“Hahaha… aku pikir kamu kenapa, ternyata laper. Kita ke angkringan atau lesehan di Malioboro?”

“Aku kangen sama nasi kucing dan kawan-kawannya.”

“Bisa aja kamu ini.”

Berhasil juga aku menguasai keadaan yang kutakutkan menjadi kaku setelah pengakuan perasaannya. Kami tinggalkan alun-alun yang sudah menjadikan saksi kegalauan rasa. Angkringan pinggir jalan pun menjadi pilihan kami selanjutnya.

Check Also

Firstiana Annisa (bagian dua belas) oleh: Tinov

Bagian dua belas 12.45 pesawat yang membawaku sampai di Dubai International Airport pada terminal yang …

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of

Tanya Situ Seni

)
    is typing...

    Fill in the form below to send us a message.

    Send Message Cancel