Home / ARTIKEL / GHANDI dan GARAM

GHANDI dan GARAM

Inggris hengkang dari India, bukan karena kalah perang, melainkan karena kalah dalam memainkan politik garam. Garam bisa dianggap spele. Tapi berkat Garam, Mahatma Ghandi berhasil membawa Asia Kecil, ke pintu gerbang kemerdekaan. Setelah merdeka, negeri acha acha itu, membuktikan kembali, bahwa mereka penganut paham Swadeshi yang akut. Sehingga mereka mampu menciptakan pakaian, teh celup, mobil bemo, bajaj, truk merk Tata, hingga reaktor nuklir.

Swadeshi, yang kurang lebih artinya adalah: berdiri dengan kekuatan sendiri, dicetuskan Mahatma Gandhi untuk mengusir Inggris, yang telah memiliki bedil mesiu, serta mesin jahit. Sedang bangsa India kala itu, belum bisa membuat bedil dan mesin jahit. Tapi Gandhi bangkit melawan imprealis dengan memainkan garam dan kain. Gandhi berujar, “orang India hanya membeli garam buatan orang India sendiri. Mereka yang membeli garam kepada pabrik Inggris, adalah penghianat bangsa”.

Lalu orang India membangun pabrik garam, dan menyediakan suplai garam secukup-cukupnya untuk seluruh bangsa India. Gerakan tersebut, memang tampak sederhana, namun berhasil membuat pabrik-pabrik garam milik Inggris di India, menjadi gulung tikar. Dampaknya, sempat terjadi huru-hara, di mana orang Inggris mempentungi orang-orang India. Tapi orang India mendengar apa yang dikatakan Gandhi: Ahimsa!

Dipentungi kepala itu sungguh menyakitkan, tapi dengan tidak dilawan, membuat Inggris makin kalangkabut, dan seperti kesurupan. Hal itupun menjadi sorotan dunia, bahwa Inggris adalah bangsa uang bar-bar. Hal tersebut membuat Ratu merasa malu, dan sedih, dan mengumpulkan seluruh elemen bangsa, dan bertanya kepada para anggota parlemen, “Lebih baik kita kehilangan India, atau kehilangan Shakespeare?”

Hadirin diam, tak tahu harus menjawab apa. Ratu meneruskan, “Bila kita tidak mau kehilangan India, artinya kita harus perang. Biaya cukup besar, dan akan lahir korban dari kedua belah pihak. Hasilnya, kita akan kehilangan nama besar William Shakespeare. Tapi bila kita tinggalkan India, maka tak butuh biaya, dan tak ada korban, dan tidak akan kehilangan Shakespeare. Kita lupakan India, dan mari kita pelihara Shakespeare.”

Dengan meninggalkan India, lalu fokus dalam membesarkan nama Shakespeare, Inggris memperoleh keuntungan yang besar. Setidaknya terdapat dua keuntungan. Pertama, tidak jatuh marrabat menjadi bangsa bar-bar. Kedua, semua bangsa yang ingin mencetak buku William Shakespeare, dan atau menggubahnya menjadi film, harus membayar royalti ke Inggris. Dan berkat menyebarnnya karya-karya Shakespeare, membuat bahasa Inggris makin kokoh, dan menjadi bahasa pergaulan internasional. Dan, setelah PBB menyatakan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional nomor wahid, semua orang yang ikut test TOEFL, harus merogoh uang. Fulus pun mengalir ke Inggris dari seluruh penjuru dunia. Sekalipun orang Inggris hanya tidur-tiduran, mereka tetap punya penghasilan dari royalti penerbitan Shakespeare dan biaya TOEFL.

Di lain pihak, India yang berhasil merdeka dari penjajahan Inggris, telah memberi contoh kepada Bung Karno, bagaimana negara yang wilayahnya terpencar-pencar itu harus dipersatukan, harus dimerdekakan. Bung Karno menyebut dalam buku biografinya yang ditulis oleh Cindy Adam, dua tokoh pergerakan yang ia kagumi adalah Muhammad SWA, dan Mahatma Gandhi.

Sungguh aku tak menyangka, bahwa India merdeka, ternyata karena memandang garam sebagai sebagai pemersatu bangsa. Setelah mamainkan garam, Gandhi kemudian memainkan kain, lalu sekarang India, kalau saja penduduknya tidak terlalu banyak, saya kira bisa menjadi negara sejahtera.

Lalu bagaimana orang Indonesia, baik pengusahanya maupun penguasanya, dalam memandang garam?

Jika di India, garam berhasil membuat India lebih mandiri, di Indonesia yang dikelilingi oleh lautan ini, ternyata garam menjadi musibah. Kenapa bisa jadi demikian? Karena di India, Gandhi berhasil memasang stigma, “Orang India hanya membeli garam buatan orang India,”. Sedang di Indonesia, terutama penguasa dan pengusahanya, justru berbelanja keluar, minimal ke Singapura. Jadi sebenarnya siapa yang merusak negara dan bangsa ini?

Check Also

Khasiat Tembakau Nusantara

Anda boleh saja anti rokok dan membenci para perokok, tetapi harus berpikir lain tentang tembakau, …

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of

Tanya Situ Seni

)
    is typing...

    Fill in the form below to send us a message.

    Send Message Cancel