Home / ARTIKEL / KEMATIAN HITAM DAN JALAN RENAISAN

KEMATIAN HITAM DAN JALAN RENAISAN

Oleh Doddi Ahmad Fauji

NARGA Eropa pernah merasa begitu sengsara pada abad pertengahan: suatu kurun kesialan yang sering mereka sebut dengan “zaman kegelapan” atau dark age.

 

Para perisalah mencatat, zaman kegelapan menyelimuti Benua Biru itu bermula dari keruntuhan imperium Yunani dan Romawi klasik sekira abad ke-5. Di lain cerita, sejak abad pertama Masehi, agama Kristiani yang lahir di Yerussalem, merasuk ke Eropa melalui Konstantinopel (Turki). Yunani – Romawi pudar, Kristiani berkibar. Sekira abad ke-6, kerajaan-kerajaan besar di Eropa telah menganut Kristiani, menjadikan sabda para agamawan mulai mendapatkan artikulasinya, lebih nyaring dari titah raja-raja.

 

Di lain tempat, di Jazirah Arabia, pada pertengahan abad ke-6, lahir agama Islam yang progresif dalam menyiarkan tauhidnya. Pada gilirannya, para pengikut dua ajaran pewaris tauhid Ibrahim itu, bertemu dan bertumbukan kepentingan, lalu berseteru, bersengketa lahan Yerussalem, akhirnya saling kucurkan darah dalam momen Perang Salib.

 

Versi Islam mengklaim, terjadi enam kali perang terbuka yang dimenangkan pihak Islam, satu kali dimenangkan Nasrani, dan satu kali rencana tanding pamungkas tak jadi meletus karena wabah kolera mendera medan laga, kedua pihak harus balik badan lalu lari dari epidemi. Mungkin kolera menyebar dari bangkai-bangkai prajurit yang tak terkuburkan.

 

Tulisan ini tidak bermaksud mendadar jelujur Perang Salib yang masih minim tafsir artefak itu. Tetapi jelas, kekalahan dalam Perang Salib telah melahirkan keeratan konsolidasi pihak gereja-geraja Eropa. Karena otoritas para agamawan lebih kuasa dari titah raja-raja lokal, maka konvensi dan konstitusi kerajaan-kerajaan di Eropa, lebih banyak dinukil dari wahyu yang bersumber pada tafsir Injil, dan para agamawan yang dogmatis-taklidis itu, mulai sering berseberangan pendapat dengan para saintis yang rasionalistik-empiristik.

 

Kabarnya, banyak saintis yang dibunuh karena dinilai merusak keimanan umat. Dampaknya, ilmu pengetahuan dan sains yang sudah dirintis oleh bangsa Eropa, mengalami stagnasi. Ilmu kedokteran modern pun jalan di tempat, sementara bibit-bibit penyakit melakoni evolusi daya sengatnya. Akibatnya, ketika wabah penyakit mematikan disebarluarkan oleh kutu pes dan tikus rumah, kedokteran modern tak mampu mengantisipasi dan menangkalnya.

 

Maka sekira abad ke-14 (1347 – 1351), virus dari kutu pes itu melahirkan pandemi yang diberi nama “wabah hitam”, atau sering juga disebut “kematian hitam” (The Black Death), yang menyerang dan membunuh hingga dua pertiga populasi Eropa.

 

Banyak kota yang tiba-tiba mati karena seluruh penduduknya terjangkit penyakit, lalu tewas. Mayat-mayat bergelimpangan tak terkuburkan. Akibat epidemik itu, peradaban Eropa mundur 20 tahun ke belakang.

 

Meski sudah dihajar The Black Death, kuasa gereja di Eropa tetap tidak tergoyahkan. Pertentangan antara sabda agamawan dengan tesis para saintis yang bersumber dari analisis-rasionalistik, terus saja terjadi.

 

Sebagai misal, saintis Galileo Galilei yang membenarkan teori Copernicus bahwa matahari adalah pusat tatasurya, mendapat sangkalan keras dari kaum gereja yang sependapat dengan Aristoteles bahwa bumilah pusat aktivitas tatasurya. Akibat pendiriannya itu, Galilei dianggap merusak iman dan diajukan ke pengadilan gereja di Italia pada 22 Juni 1633, lalu dijatuhi hukuman tahanan rumah hingga meninggal di sana.

 

Tragedi Galilei melahirkan trauma bagi para saintis. Eropa makin terpuruk dalam kelam. Harapan sepertinya kosong belaka. Matahari bagai terbit dari arah barat. Sumber di Wikipedia menyebutkan, beberapa wabah penting yang muncul menyusul “Kematin Hitam” di Eropa antara lain Wabah Italia (1629 – 1631), Wabah Besar London (1665 – 1666), Wabah Besar Wina (1679), Wabah Besar Marseille (1720 – 1722), serta wabah pada tahun 1771 di Moskwa. Itulah abad kegelapan yang terjadi pada abad pertengahan itu, yang identik pula dengan era The Black Death. Sekira 75 juta jiwa bangsa Eropa mati dalam rentang The Black Death itu.

 

Di tengah stagnasi bahkan kemunduran peradaban, muncullah para seniman jenial yang seolah diutus Tuhan untuk menjawab tantangan zaman yang redup harap itu. Seperti memperoleh ilmu laduni (ilmu pengetahuan yang masuk ke dalam pikiran tanpa dicari dan dipelajari), beberapa seniman Eropa mencetuskan perlunya “gerakan mencari kembali” peradaban Eropa yang pernah berjaya di masa Yunani-Romawi klasik, yaitu era kelahiran ilmu filsafat modern yang menempatkan manusia sebagai pusat kehidupan. Era kejayaan masa silam ini terkenal dengan julukan “Humanisme Klasik”.

 

Orang Prancis membahasakan “gerakan mencari kembali” itu dengan frase “re-naissance” (kelahiran kembali). Gerakan renaisan di Eropa, kali pertama didengungkan oleh para seniman sekira abad ke-15, lalu kemudian disambut para penjelajah atau navigator, ilmuan dari berbagai disiplin, dan pada gilirannya diteruskan oleh para politisi dan penguasa.

 

Tokoh-tokoh renaisan yang termasyhur dari kalangan seniman antara lain William Shakespeare, Leonardo da Vinci, Torquato Tasso, John Sir Michael Struck, Palma il Giovane, Pieter Brueghel Tua, Pieter Brueghel Muda, Jan Brueghel Tua, Jan Brueghel Muda. Dari kalangan filsuf tercatat nama Isaac Newton, Francis Bacon, Giordano Bruno, Nicolaus Copernicus, René Descartes, Francesco Guicciardini, Niccolò Machiavelli. Dari kalangan penjelajah, nama-namanya cukup akrab dengan sejarah imperialisme Eropa,

seperti Christopher Columbus, Bartolomeu Dias, Vasco da Gama, Ferdinand Magellan.

 

Berkat gerakan renaisan itu, Eropa kembali bangkit, peradabannya melesat, dan mulai memimpin bahkan menjajah bangsa lain di muka bumi. Memang ada kesalahan besar dalam gerakan renaisan di Eropa, yaitu benar-benar menempatkan manusia sebagai egosentris, dan melupakan agama serta Tuhan yang dianggapnya sebagai candu belaka. Maka ketika gerakan renaisan yang digagas para pengkarya itu mulai direbut oleh para kleptokrasi

yang kebetulan mengidap skizofrenia akut, buahnya adalah rebutan kekuasaan yang menyeret dunia terlibat ke dalam peperangan, yakni Perang Dunia I dan II. Di muka

bumi ini, orang Eropa pernah begitu beradab, sekaligus pernah begitu gila.

 

Adapun Eropa yang sekarang, adalah Eropa yang berjalan lamban, akan tersalip oleh Asia (Jepang, China, Korea Selatan).

 

Renaisan di Eropa, kiranya dapat ditengok untuk dijadikan pola dalam meretas dan mengentaskan jalan buntu bagi negara-bangsa yang sedang lumpuh atau malah sekarat.

Ada banyak suara-suara pesimistik bahwa Indonesia sebagai negarabangsa kini tengah berada di hujung tanduk, di ambang kebinasaan, nyaris bangkrut atau menunggu runtuh.

 

Benarkah suara-suara minor itu?

 

Bukan perkara benar atau tidak, tetapi yang jelas Indonesia sebagai negara-bangsa masihlah ada. Namun kita harus membuka mata dengan jujur, bahwa kehancuran suatu negara atau bangsa bisa jadi suatu keniscayaan. Banyak sudah pusat-pusat kekuasaan di muka bumi yang gulung tikar. Mesir Kuno, Babilonia, Yunani – Romawi Klasik, Inca, Maya, Sriwijaya, Majapahit, Pajajaran, adalah beberapa contoh pusat kekuasaan di masa silam yang amblas bersama gelegak jaman. Pada dekade akhir di melenium kedua, kawasan Balkan yang pernah berhimpun dalam Negara Yugoslavia, hancur menjadi enam keping. Uni Soviet yang kokoh, juga pecah-belah dengan pedih. Chekoslowakia terbagi jadi Cheko dan Slovakia.

 

Negara Indonesia, bila kita terlena dan pura-pura tidak tahu, atau malah benar-benar tidak tahu, lamban bertindak, sangat mungkin akan berkeping-keping menjadi 300 negara. Apalagi bila melihat prilaku elite politik di pusat dan daerah yang cenderung berebut

kekuasaan dan uang, kehancuran Indonesia sebagai negara-bangsa mulai terasa denyutnya.

 

Kita lihat, kehancuran Unisoviet, Yoguslavia, Chekoslovakia, dimulai oleh ulah para politikus busuk yang syahwat kekuasaannya sulit diredam. Di Indonesia, syahwat berkuasa segolongan kecil elite politik itu sangat terasa.

 

Perpecahan di partai politik, bisa meningkat eskalasinya bila tidak segera diantisipasi. Indonesia bisa luluh-lantak bila suara-suara dari segelintir elite politik itu terus saja

diamini dan diikuti!

 

Sebagaimana renaisan di Eropa yang dipelopori para seniman, cendekiawan, dan para pengkarya, maka seniman-seniman Indonesia, cendekiawan, dan para pengkarya, harus tampil ke permukaan untuk memberi inspirasi kepada rakyat.

 

Agamawan yang terlalu dogmatistaklidis, adalah golongan yang patut diwaspadai, sebab sebagaimana di Eropa dan di Jazirah Arabia, para agamawan yang dogmatis dan taklid

membabi buta, juga cenderung melahirkan perpecahan, malah mereka justru sering kali menjadi pelopor dari prilaku amok yang justru bertentangan dengan ajaran agama, baik Islam, Kristiani, Yahudi maupun penganut Shobiin (Hindu, Budha, Tao, Majusi, penghayat aliran kepercayaan, dll).

 

Majalah SituSeni diterbitkan untuk menawarkan sekaligus mengajak para seniman, cendekiawan, dan pengkarya, agar melakukan renaisan peradaban Nusantara. Kami mengadopsi kata “renaissance” menjadi “renaisan”, dan bukan “renaisans” supaya lebih pas dengan lidah bangsa Nusantara.

 

Bagaimana pun, leluhur kita pernah berjaya. Mereka berani dan berhasil menembus keganasan Samudra Hindia hanya dengan perahu bercadik, ketika bangsa Eropa sedang merana dalam kegelapan.

 

Leluhur kita adalah bangsa yang berhasil menciptakan monumen cum perpustakaan Borobudur yang menjadi warisan dunia, yang tercatat sebagai satu dari tujuh keajaiban dunia buatan manusia versi UNESCO.

 

Batik buatan leluhur kita, tercatat sejak 2 Oktober 2010, sebagai batik terbaik di dunia. Keris adalah senjata tradisional paling filosofis di muka bumi, dan sudah mendapatkan sertifikat dari UNESCO sebagai warisan dunia. Begitupun dengan instrumen musik Sasando, Angklung, dan tarian Saman merupakan artefak yang telah diakui sebagai mahakarya umat manusia, dan dicatat sebagai warisan peradaban bagi dunia oleh UNESCO. Lalu Wayang Nusantara mendapatkan gelar dari UNESCO sejak 2004 sebagai “The Masterpiece of orallity for humanity in the world.”

 

Renaisan di Eropa terjadi ketika sekian rentetan bencana menimpa mereka. Di Indonesia, sejak Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Presiden, terjadi serentetan bencana yang menelan korban hingga ratusan ribu jiwa, diikuti oleh sekian laku dekandensi moral.

 

Enam bulan sebelum dilantik sebagai Presiden, distrik Naerobi di Papua, disapa gempa bumi dengan menelan ratusan korban jiwa. Lalu tiga bulan setelah dilantik menjadi Presiden,

bencana tsunami menerjang kawasan Aceh pada 26 Desember 2004. Tidak kurang dari 250 ribu nyawa melayang. Setelah itu, gempa bergoyang di Nias, Padang, Pangandaran, dan di

Yogyakarta (2006) yang menewaskan tidak kurang dari 5.000 jiwa.

 

Eropa mengalami bencana “Kematian Hitam”, sedang negeri ini dilanda “Kematian Nurani” yang membuat alam ikut protes. Kita saksikan, gunung-gunung meletus, laut membuncah, banjir membandang, kereta api bertabrakan, anak menghamili ibu, ayah memperkosa putri kandungnya, korupsi merajalela di seputar kekuasaan. Sekian aset negara terpaksa dilego kepada asing untuk menutup defisit anggaran negara, sementara hutang luar negeri makin menggunung, partai-partai politik yang besar, malah pecah-belah.

 

Ada kesamaan “Kematian Hitam” di Eropa, dengan “Kematian Nurani” di Indonesia. Maka sudah sewajarnya bila kita melakukan renaisan peradaban Nusantara.

***

Ilustrasi gambar: Michael Palilingan – As the sun greeted at night

Check Also

MENGAKRABI GELO

Oleh Sarabunis Mubarok   Ada ngalogat sastra di Lesbumi Kota Tasikmalaya pada hari sabtu 28 …

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of

Tanya Situ Seni

)
    is typing...

    Fill in the form below to send us a message.

    Send Message Cancel