Home / PUISI / KEPADA TUAN (Kumpulan Sajak Ayu K. Ardi)

KEPADA TUAN (Kumpulan Sajak Ayu K. Ardi)

CHERIE

(Ayu K. Ardi)

 

Masih kuingat,

pada sebuah pagi

ketika kau nikahi puisi.

Rona matahari menghangat di pipimu

biasnya pendar masai singgah pada matamu.

 

Aku hanya penyaksi

ketika kau maharkan sunyi dan bergelas kopi

pun, ketika kau bersanggama dengan baris-baris kata yang likat

dalam sajak

pada malam-malam basah

mengusung cungkup-cungkup rindu dan

berjejak doa yang kian unggun setiap tahun

 

Bersama puisi, aku bukanlah pungguk merindukan bulan,

katamu

sebab puisi mengandung segala kenangan

melahirkan harapan

 

Kemudian

pada suatu waktu

masih terbubuh sepi

kureguk lenguh sajakmu

dalam dahaga yang gempar oleh

denyut Allahu Akbar

 

Ya, Rie

aku masih candu pada sunyi

dan cumbu basah puisi!

(Payakumbuh)

 

LELAKI PECINTA RUMI

(Ayu K. Ardi)

Pernah kupahat namamu pada suatu waktu ketika kuncup

Bunga kopi mekar setiap pagi

Yang kemudian memagut kabut

Serupa siluet senja di puncak cemara

 

Musim apa yang menyemi pada matamu

Hingga rupa tahun adalah serinai riak sungai

Yang mengalirkan fatamorgana

 

Sedang pada guguran rambutmu adalah

Segenggam cemas yang pulang

Selepas dimandikan Tuhan dalam pecahan hujan

 

Belum kupahami gelisahmu,

Umpama sufi yang mabuk pada sepi memburu pagi

Sebelum pendar cahaya lampu

Kembali mengganti matahari

 

Barangkali takkan pernah kumengerti

Sebab jejakmu tak berjejak

Sebagaimana ucap Rumi

 

Dan

Demikianlah

Cintaku,

Pada siluet senja di pucuk cemara

Sekisar waktu menanti temu.

(Payakumbuh)

 

PENGEJA SEPI:

Kelana Timur Matahari

(Ayu K. Ardi)

Telah kucatat riwayatmu

pada tepi batubatu

yang mengulir sepanjang pematang berakar jelatang

hingga kau yang kelana pada sepi

menjejak mimpi tentang ceracau matahari

pada musim-musim yang lesi

menerjemah takdir yang belum dapat kau maknai

 

Entah sudah berapa ribu pagi

kau telingkahi nyeri

pada gelisahmu sendiri

 

Sedang pada matamu pasi

mewadahi bergaram tragedi

dari selaut janji yang lupa mendampar kembali

 

Masih menyandang ransel sunyi

pada malam-malam yang wingit

kau sepahi purnama dari kantong celana

sebelum singgah di tubir belantaraku

menanda kisah pada silsilah

yang kemudian akan kita petakan

di akhir pertemuan.

(Payakumbuh)

 

RERAMA

(Ayu K. Ardi)

Ada yang tak mampu kumaknai tentang langit

senja itu ketika sesayup angin

parau mendesaukan sebuah nama

dari jeda ke jeda

pada setiap patahan hujan

 

Ada yang begitu pandai menganyam sepi

dan meninabobokan luka di tepi jendela

hingga kumeraba keberadaanmu

pada perguliran musim yang memboncengi sejarah

ada dan ketiadaan

 

Aku melihat dirimu yang lain

ketika kutemukan fajar di sejejak senyummu

yang sebentar melintas

umpama semak putri malu yang pandai

menyembunyikan rahasia

 

Adalah sejumlah ingatan yang acap kulewatkan

namun tersimpan di sini

dalam setiap titis hujan

lindap

mengemas cemas yang pulang

setiap kali musim berganti

 

Suatu saat,

di dadamu adalah sepucuk kenang

merupa rerama

merawat waktu

serupa purnama tua.

(Payakumbuh)

 

NUN

(Ayu K. Ardi)

Tentangmu,

adalah puisi di beranda Juni

sebuah dahaga panjang akan sunyi

serupa menunggu sebuah kepulangan yang entah

atau perbincangan yang tak sudah

 

Tentangmu,

adalah sekembang kisah

yang menggurit pada pohon

kesiur angin

dan reranting lepas

menggumamkan cemas

 

Seperti halnya musim gugur,

dedaun luruh satusatu

meninggalkan berbatang angan-angan

sebagai penyaksi

bagi setiap luka yang mencari sirr-Nya sendiri

 

Kau dan aku

semisal debur menjemput pantai,

tak pernah selesai

 

Pada setiap debar yang kau sisakan

untuk kugenapkan menjadi kenangan

adalah sejumlah ingatan

yang gagal kumakamkan.

(Payakumbuh, 2017)

 

 

HAMIM

(Ayu K. Ardi)

Di bawah rindang yang pernah kuceritakan,

bunga-bunga dandelion terbang mengikuti tarian Rumi

sedangkan tubuh-tubuh dari ingatan purba

menyatu jiwa pada senyap

menyesap setiap helaan musim

 

“Inilah HaMim: jiwa dan kedamaian,” katamu

seraya menyelipkan setangkai rindu

pada jurai rambutku

 

Tak ada yang lebih teduh dari naung serumpun bambu

dan senandung daun-daun yang merapalkan doa-doa

 

Tetapi kau tak dapat memaku sunyi,

tersebab ia berasal dari tiada

juga rindu yang kau semat di rambutku

bukanlah keniscayaan

Maka biar kutinggalkan jejak

di sudut sajak ini

agar ia mendekap isi dadamu

 

Kemudian,

akan kutuliskan lagi kisah

tentang sepasang tangan yang tengadah.

(Payakumbuh, 2017)

Check Also

MEMBUNUH WAKTU 2

Sebagai pejalan, aku merasa baik-baik saja perbekalan memang belum sepenuhnya kusiapkan tapi aku terlatih menghadapi …

6
Leave a Reply

avatar
3 Comment threads
3 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
4 Comment authors
Engku syntalTinovAyu K. ArdiTinovYudarmi Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Yudarmi
Guest
Yudarmi

Mantap permainan kata2nya anandaku

Tinov
Editor

Suka bangeddd… Kata-katamu wow…
Jika Teteh pemuja hujan, maka Neng Ayu penyuka senandung sunyi…hehe

Ayu K. Ardi
Guest
Ayu K. Ardi

hahahaha…Tetehku mah bisa wae… “Teteh Rinai..”

Tinov
Guest

Bagus tuh jadi nick name. “Tinov Rinai” hehe…

Ayu K. Ardi
Guest
Ayu K. Ardi

trims, Bundo… hehe

Engku syntal
Guest
Engku syntal

Hmmm..

Tanya Situ Seni

)
    is typing...

    Fill in the form below to send us a message.

    Send Message Cancel