Home / PROSA / Khasiat Tembakau Nusantara (Cer-Pen-Bung) Bagian ketiga.

Khasiat Tembakau Nusantara (Cer-Pen-Bung) Bagian ketiga.

Fikta (fiksi tapi nyata) oleh Doddi Ahmad Fauji

Aku sudah memiliki ingatan ketika tubuhku tersiram air panas yang tumpah dari termos. Perihnya minta ampun. Kulit lengan dan badan melepuh. Untung tidak kena muka. Aku menjerit spontan. Lolonganku memanjang dan menembus awan. Semua penderitaan itu adalah kesalahanku, tapi tidak murni 100%. Pengasuhku menaruh termos yang baru diisi air mendidih pada meja, namun letaknya kurang tengah, sehingga bisa terjangkau olehku yang suka berjinjit-jinjit untuk menggapai apapun yang bisa kujadikan sebagai mainan. Walau sakit bengek dan masih cilik, aku butuh hiburan juga toh. Aku tidak punya mainan seperti mobil-mobilan, kapal-kapalan, atau dokar-dokaran dari kulit jeruk Bali, maka kuambil barang apapun yang bisa kujangkau. Dalam imajinasiku, benda-benda itu akan menjelma cecunguk.

Kenapa harus cecunguk? Sebetulnya malu aku menceritakannya. Ketika kau takut oleh cecunguk, aku justru riang-gembira. Waktu kecil dulu, aku dan kakakku suka berlomba menangkap cecunguk, lalu dipanggang di atas tungku perapian sampai matang dan harum. Dan: Kriukk, kriukkk, kumakan! Lezat!

Menurut uwaku yang juga bengek, cecunguk adalah obat mujarab untuk asma. Entah benar atau hanya karangannya, dengan keriangan kanak-kanak kugasak cecunguk itu. Tapi toh bengekku tak kunjung reda.

Berkali-kali aku diberi makan gule kelelawar atau sop kadal. Tentu saja dibilangnya ati-ampela. Sebetulnya dikatakan sop kadal juga pasti kusantap. Toh cecunguk saja yang kutangkap dengan tanganku sendiri, tanpa jijik kulahap. Buah takokak, kencur, jahe, kunyit, serawung, kembang kopo, pentul petai yang sepet dipadu daun papaya yang pahit, belalang, kasir, belut, laron, jadi menu makananku. Walau pahit, jamu brotowali kutenggak. Semua itu kujejalkan ke dalam lambung karena ingin sembuh. Tuhan menggerakan hatiku untuk melawan asma yang sangat menyiksa, dengan cara memakan apapun yang dikatakan obat oleh orang lain. Aku ingin sembuh. Melalui malaikat-Nya, aku percaya apa kata para ulama, Tuhan memercikan api motivasi dalam diriku untuk berjuang sembuh. Semangat. Semangat. Semangat.

Maka tak perlu heran bila hingga sekarang aku bisa makan apapun, di manapun. Lidahku tidak pernah manja, walau kadang perutku yang berontak karena lambung dan ususku mengalami gangguan dalam memamah biak. Waktu kelas 2 SD, aku minum air kelapa muda hijau sebelum sarapan. Malamnya perutku melilit. Paraji didatangkan untuk memijit perutku. Aku dipijit dan sakitnya mungkin seperti perempuan hamil akan melahirkan bayi. Tiga hari jejak sakit itu masih terasa. Aku menduga telah terjadi malapraktik yang membuat lambung dan ususku jadi rentan. Perutku mudah kembung bila dimasuki minuman yang bersoda. Karena itu aku anti Coca Cola dan varian-variannya. Perutku juga tidak bisa menerima makanan yang mengandung gas macam tape, uli, ulen, atau duren. Kau boleh mengutukku Lur, tapi maaf bagiku duren adalah makanan yang diambil dari kerak neraka.

Derita sepertinya enggan enyah dari peta hidupku. Hingga catatan harian ini kutuliskan, betapa kenyang aku diasuh oleh derita, diasah oleh nestapa. Lihatlah kelopak mataku yang menghablur seperti mata panda, adalah juga karena derita itu. Ada tiga peristiwa yang berkait dengan mataku.

Pertama, waktu masih kecil, aku menemukan botol yang lucu dan bergerigi tergeletak di lantai. Kupungut dengan hati yang riang. Ini cecunguk yang unik, harumnya menyengat dan menyegarkan peciumanku yang bengek. Ada cairan hijau di dalamnya. Karena bentuknya unik dan harumnya menyegarkan, maka kucuci botol mungil itu pada ember yang terisi seperempatnya. Tujuannya untuk memuliakan cecunguk terbaik yang pernah kutemui. Kubuka tutupnya. Owh harumnya benar-benar menyegarkan. Nafas terasa lega. Belakangan aku tahu itu botol minyak angin yang kami sebut Pepeo.

Kucuci botol mungil bergerigi, yang sudah kubuka tutupnya itu. Lalu aku mencuci muka dengan tujuan supaya bisa menghirup udara segar. Ya ampun, mataku tiba-tiba jadi perih. Benar-benar perih. Aku menjerit melolong-lolong sambil menutup kedua belah mata dengan telapak tangan. Aku berlari memanggil-manggil dan mencari ibuku, Cut Nyak Dhien-ku, untuk memintai pertolongannya. Nahas benar nasibku. Karena aku berlari dengan mata gelap dan perih, aku membentur meja, jidatku persis menumbuk ujung sudut meja, sehingga kayu meja itu terasa seperti menancap di jidat. Aku pun terpental, terpelanting, tersungkur jauh, berguling-guling kesakitan. (Bersambung)

Check Also

Firstiana Annisa (bagian dua belas) oleh: Tinov

Bagian dua belas 12.45 pesawat yang membawaku sampai di Dubai International Airport pada terminal yang …

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of

Tanya Situ Seni

)
    is typing...

    Fill in the form below to send us a message.

    Send Message Cancel