Home / PROSA / Khasiat Tembakau Nusantara (Cer-Pen-Bung), Bagian 1

Khasiat Tembakau Nusantara (Cer-Pen-Bung), Bagian 1

Cerita Pendek Bersambung Doddi Ahmad Fauji

Alias Fiknyan (Fiksi Kenyataan)

Sejak orok, aku sudah mulai disinggahi oleh sejumlah bibit penyakit. Badanku ceking tinggal tulang seperti rorongkong  dengan perut yang buncit. Memang aku tumbuh dengan nutrisi yang kurang bergizi, sehingga nampak seperti cacingan dan penyakitan. Tetapi causa prima yang membuatku jadi anak pesakitan adalah karena serangan asma yang diwariskan secara genetis sejak dalam rahim. Ada uwakku dari ayah dan ibu yang mengidap asma dari bayi hingga nenek-nenek. Keduanya almarhumah dalam keadaan asma.

Bila asma sudah menyapa, deritanya tiada terkira. Napas tersengal-sengal, sesaknya bukan main. Nafsu makan lindap, otomatis badan kurus drastis. Pikiran melayang, tenaga berkurang. Diam tidak enak, banyak gerak apalagi. Bila pasrah, serasa ajal sudah mendekat. Tidak pasrah, terasa capek karena badan lemas. Serba salah. Kemudian yang terjadi, emosi melonjak-lonjak tak terkendali. Untuk mengusir rasa sesak yang menyakitkan rongga dada itu, aku berontak melawan. Aku berontak untuk menyembuhkan sesak nafas yang sangat menyiksa. Tetapi seperti sudah keceritakan di depan, ayahku galak, maka aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku takut dimarahi. Maka kupendam dalam-dalam kemurunganku. Aku diam sebagai bentuk pemberontakan. Hingga saat ini, sering aku berdiam memendam segala rusuh yang bergemuruh di dada bila aku sudah tidak mampu melawan.

Sekarang aku memahami kenapa sedari kecil orang-orang melemparkan stigma kepadaku sebagai anak yang bengal, baong, badung, atraktif, cengos , dan porenges , adalah akibat asma yang begitu sering menghardikku. Kata ibuku, dalam seminggu, sehat empat hari, asma tiga hari. Aku sudah memiliki ingatan ketika penderitaan lebih kejam kemudian datang menyusul. Bila asma mendera, mantri Fahir, juru suntik di desa kami, segera dipanggil oleh keluarga kami untuk menyiksaku. Aku diberdirikan di meja, dan dipaksa nungging. Kedua lengan dipegang seperti pencuri sandal mushola yang tertangkap basah. Jarum suntik segera menusuk pantatku, sakitnya terasa sampai tulang, sedang aku belum mengerti bahwa itu adalah bagian dari pengobatan. Yang kutahu, kejam benar ini kakek berbaju putih. Sering aku menendang mukanya bila berhasil lepas dari genggaman setelah berjuang meronta-ronta.

Usai disuntik, dengan nafas yang masih tersengal-sengal menyiksa, dan pantat terasa lumpuh sebelah, aku berontak pada penderitaan yang tidak kupahami. Tangisku akan sangat melolong-lolong tanpa bisa dirajuk siapapun. Biasanya aku akan melemparkan benda apapun sebagai bentuk dari berontak. Berikutnya, aku akan dimasukkan oleh ayahku ke dalam kamar khusus, kosong-melompong, dan pintu ditulak dari luar. Tujuannya agar amukkanku tidak sampai merusak benda-benda. Tapi tentu aku belum paham semua itu. Yang kurasakan, aku sangat tersiksa, betapa menderita. Tetapi lolonganku akan terhenti dengan sendirinya karena kecapean dan kehabisan tenaga, sampai akhirnya aku tertidur.

Saat terbangun, sesak nafas itu memang menghilang. Tetapi perutku terasa lapar menggigit kulit perut, mata perih dan pandangan berkunang-kunang. Kebalikan dari tersengal-sengal, kini dadaku terasa berdegup kencang. Nafasku jadi cepat dan seolah sedang berpacu. Jelas itu efek domino dari obat yang disuntikkan ke dalam pantat. Ini juga siksaan. Baru terasa reda nafas yang memburu itu bila aku bergerak-gerak, atau meloncat-loncat. Pokoknya jangan sampai berdiam diri bila tidak ingin serasa diajak lari sprint.

Tak seorang pun memahami penderitaanku itu. Sedang aku, mungkin kala itu usiaku antara 2-3 tahun dan belum lancar ngomong, tak bisa mengungkapkan penderitaan itu. Yang kutahu, aku ingin meredakan nafas yang memburu dengan cara bergerak motah  seperti banjir bandang. Tentu saja aku tidak peduli disebut bengal, nakal, bahkan dituding setan cilik sekalipun. Yang kutahu, aku harus sembuh. Aku harus sembuh. Aku harus sembuh!

Mengertikah engkau kenapa aku jadi anak yang beringas, agresif, dan cenderung berontak?

(Bersambung)  

 

1. Rorongkong (Sunda = kerangka tulang-belulang yang masih utuh membentuk tubuh).

2. Cengos (Sunda = hiperaktif).

3.  Porenges (Sunda = gemar mengolok-olok).

Check Also

Firstiana Annisa (bagian dua belas) oleh: Tinov

Bagian dua belas 12.45 pesawat yang membawaku sampai di Dubai International Airport pada terminal yang …

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of

Tanya Situ Seni

)
    is typing...

    Fill in the form below to send us a message.

    Send Message Cancel