Home / ARTIKEL / Khasiat Tembakau Nusantara

Khasiat Tembakau Nusantara

Anda boleh saja anti rokok dan membenci para perokok, tetapi harus berpikir lain tentang tembakau, karena di dalam tembakau terdapat zat nikotin yang menjadi bahan dasar untuk berbagai jenis obat, terutama untuk pengobatan darah, jantung, dan lever. (lead)

 

TEKS Doddi Ahmad Fauji

Foto dari berbagai sumber

Aku menulis cerita semi biografi, menuturkan bahwa sejak lahir sudah terserang asma (bengek). Sampai suatu hari, aku hanyut di sungai hingga pingsan. Sanak famili dari pihak ayah dan ibu berkumpul, merapal doa, dan mencoba ikhlas. Dalam suasana sedih, tiba-tiba aku siuman. Lalu menatap pada orang-orang yang sudah merubung, dan mengucapkan dua kata: “Hayang endun”.

 

Selain gembira, orang-orang sebagian jadi tertawa. Karena kata “hayang endun,” maksudnya ingin merokok. “Karuhun dari mana ini?” demikian tanya sebagian orang yang meyakini dunia klenik. Adapun ayahku, yang sudah nyatrik di Pesantren Persatuan Islam di Bandung, telah menjadi wahabiah tulen, tentu menolak hal-hal yang berbau tahayul.

Seseorang segera melinting daun kawung (enau), menyulutnya dengan paneker, dan menyerahkan kepadaku. Bocah yang dikira akan mati itu, kini merokok dengan mata mendelik-delik, lalu batuk-batuk.

Kejadian itu, diceritakan berulang-ulang oleh ibuku. Usiaku kala itu, kira-kira 2.5 tahun. Belum lancar bicara. Badan ceking, namun perut buncit, dengan batok kepala yang besar: Ciri-ciri anak yang kurang gizi dan cacingan, ditambah asma sejak lahir.

Kenapa orang yang asma justru minta sebatang daun kawung untuk dihisap? Selalu menjadi rahasia untukku. Menurutku, itu bukan keisengan belaka. Aku menduga, itu adalah peristiwa yang dibimbing oleh naluri. Seluruh mahluk hidup diberi naluri untuk bertahan, dan cara mempertahankan hidup, termasuk mengobati dirinya saat sakit. Sebelum ada kedokteran modern seperti sekarang ini, toh semua pengobatan dilakukan secara tradisional dan naluriah.

Aku mulai menghisap rokok kretek buatan pabrik, saat kelas dua SD. Kala itu, orang tuaku tinggal di Bandung, dan aku dititipkan di Subang kepada salah seorang uwak dari pihak ayah. Jelang hari lebaran, di Subang, di kampung kami, semua anak akan merokok dari pemberian orang tuanya. Mereka akan terus merokok sampai kretek mereka habis. Karena aku punya banyak uwak dari pihak ayah dan ibu, maka aku beroleh berbungkus-bungkus hadiah rokok. Ketika anak-anak lain sudah berhenti merokok, aku masih terus merokok sampai habis semua hadiah. Sampai aku kecanduan. Sampai akhirnya uwak-ku memberikan salah satu padudan (cangklong) kepadaku. Aku pun merokok dengan padudan. Ini kejadian kelas dua SD.

Pada cerita itu kujelaskan, rokok sepertinya mengandung obat yang bisa menyembuhkan asma. Sampai sekarang, bila aku batuk-batuk di pagi hari karena kedinginan, apalagi kedinginan oleh AC seperti waktu masih berkantor di Jakarta, dengan menghisap rokok, batuk-batuk itu segera sirna.

Cerita itu aku share di media jejaring sosial, ditanggapi dari sana-sini. Ada yang pro, banyak juga yang kontra. Banyak yang mulai berpikir lain. Sampailah seseorang, namanya Tuty Yosenda, mengomentari ceritaku itu dan dengan menge-share link tulisan dari Dr. Hulda Clark, Ph.d. Clark adalah seorang dokter yang bergelar Doktor, sekaligus peneliti mumpuni untuk kesehatan jeroan. Pada link yang di-share temanku itu, Hulda menulis seperti di bawah ini.

“Pada tahun 1990, aku menemukan penyebab kanker yang sebenarnya, yaitu parasit tertentu, yang selalu terbukti ada dalam setiap kasus kanker, apapun jenis kankernya. Jadi kanker paru-paru tidak disebabkan oleh merokok, kanker usus besar tidak disebabkan oleh diet rendah serat, kanker payudara tidak disebabkan oleh diet lemak, blastoma retina tidak disebabkan oleh gen yang langka, dan kanker pankreas tidak disebabkan oleh konsumsi alkohol. Semua faktor tersebut memang memiliki kontribusi, tapi mereka BUKAN penyebab kanker. Jika penyebab sebenarnya telah ditemukan, obatnya menjadi jelas. Tapi apakah itu berhasil? Aku lalu menetapkan tujuan untuk menyembuhkan 100 kasus kanker sebelum menerbitkan temuanku. Dan angka 100 tersebut telah tercapai sepenuhnya pada Desember 1992.”

Pada 1993, Dr. Hulda Clark , Ph.D. menulis buku yang luar biasa “The Cure for All Cancers”,  dan pada 1995, dia menulis sebuah buku yang sama menakjubkannya: “The Cure for All Diseases”.

Nama Hulda Clark dapat dijelajah di Wikipedia: Hulda Regehr Clark (1928-2009), dan salah satu situs yang bicara soal hasil-hasil risetnya dapat ditemui di www.drclark.net.

Dari tulisan Hulda Clark itu, dapat ditarik asumsi, salah satu sumber penyakit secara internal bagi tubuh manusia adalah parasit, yang tiada lain adalah binatang ordo invertebrate vermes, alias cacing. Pernyataan Clark berikutnya juga cukup mengagumkan:

“Saya telah melihat bahwa eksim disebabkan oleh cacing gelang, begitu pula kejang-kejang. Ascaris suka masuk ke otak; bahkan skizofrenia dan depresi pun disebabkan oleh parasit di otak. Ascaris yang menetap di paru-paru menyebabkan asma. Diabetes disebabkan oleh Eurytrema,  parasit yang ada di pankreas sapi. Migrain disebabkan oleh cacing Strongyloides. Jerawat rosacea disebabkan oleh Leishmaina. Penyakit jantung manusia banyak disebabkan oleh Dirofilaria, atau cacing hati anjing. Dan daftar ini masih sangat panjang.”

Selain virus dan bakteri, cacing adalah musuh manusia yang berada dalam tubuh yang masuk lewat berbagai cara dan perantara. Selama ini, kedokteran sering menyebutkan jenis-jenis cacing dalam tubuh antara lain cacing gelang (ascaris lumbricoides), cacing kremi (oxyuris vermicularis), cacing tambang (ankylostomiasis), cacing cambung (trichinella spiralis), cacing pita sapi (taenia saginata), cacing pita babi (taenia solium). Bila mencerna tulisan Hulda Clark, nampaknya jenis cacing yang hidup di mahluk-mahluk lain, dapat pula bermigrasi ke dalam tubuh manusia. Berarti, bisa jadi dalam tubuh manusia ini terdapat belasan bahkan puluhan jenis cacing. Mengerikan!

Selanjutnya Clark menuturkan, menyingkirkan semua parasit (cacing) dengan obat-obatan klinis –yang hanya dapat membunuh 1-2 jenis parasit – benar-benar sangat mustahil. Obat-obatan tersebut cenderung membuat kita sangat sakit. FlagylTM digunakan untuk amuba dan Giardia, tapi menimbulkan mual dan muntah yang ekstrim. Kina untuk malaria juga cukup beracun. Bayangkan kita menggunakan 10 macam obat untuk membunuh selusin parasit. Ini memang kabar baik, tapi untuk pabrik obat, dan bukan untuk kita.

Clark menambahkan, ada tiga herbal yang dapat menyingkirkan lebih dari 100 jenis parasit, tanpa banyak sakit kepala, dan tanpa mual, juga tanpa perlu campur tangan obat-obatan lain. Herbal itu adalah: Black Walnut Hulls (dari pohon walnut hitam), Apsintus (dari semak Artemesia), dan cengkeh. Ketiga herbal tersebut harus digunakan bersama-sama. Dua yang pertama membunuh parasit dewasa, yang terakhir membunuh telur-telurnya.

Selain tiga herbal tadi, Clark tidak alpa menyebut tembakau sebagai zat yang mampu membunuh hewan-hewan invertebrate (tidak bertulang belakang) macam cacing, bekicot, lintah, limus sakeureut (siput telanjang) atau Vaginula Sp, lipan, dan hewan-hewan melata lainnya. Silakan Anda cari cacing tanah, atau cacing kremi, lalu taburi dengan tembakau, Insya Allah tewas.

Jadi, penyebab sakit lever, jantung, kanker, tumor, bahkan gangguan otak, itu karena parasit atau cacing-cacing yang bermigrasi ke dalam tubuh manusia. Pembunuh cacing itu, bila menggunakan obat kimia buatan pabrik, selain mahal harganya, juga melahirkan efek samping yang sama bahayanya. Obat yang paling aman adalah dengan tiga jenis herbal yang disebutkan Clark tadi, dan aku ingin menambahkan, juga dengan racun tembakau atau yang disebut nikotin (nicotine), yang dapat dikonversi menjadi nikotinamida (nicotinamide) atau vitamin B3.

Jika nikotin dapat digunakan untuk membunuh parasit di dalam tubuh manusia, pertanyaan berikutnya adalah: Bagaimana nikotin bisa masuk ke dalam tubuh tanpa harus merokok?

Merokok memang diyakini dapat mengganggu paru-paru yang bertugas mengelola oksigen di dalam tubuh. Asap dari rokok, selain mengandung unsur nikotin, juga mengandung unsur karbon monooksida dari hasil bakaran kertas rokok dan sampah tembakaunya. Karbon monooksida dari kertas rokok inilah yang berbahaya.

Paru-paru ini dapat diibaratkan dengan karburator dalam mesin. Bila karburator kotor akibat debu apalagi terkena air saat banjir, mesin akan batuk-batuk dan malah mati. Kalau sudah begitu, karbutor yang basah atau terlalu kotor, bengkel akan membersihkannya, dan mesin nyala lagi. Nah, paru-paru yang kotor bisa menyebabkan kanker paru-paru dan berdampak pada kematian. Tetapi aku ingin berkata, monooksida akibat polusi asap knalpot yang berimisi tinggi, jauh lebih berbahaya dari karbon monooksida kertas rokok.

Orang yang menetap di daerah-daerah dingin, rentan terkena gangguan paru-paru basah, dan bila tidak diobati, juga berdampak pada kematian. Bagaimanakah membersihkan paru-paru yang kotor atau mengeringkan paru-paru yang basah? Masyarakat adat di kampung Ciptagelar, Desa Sukaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa barat, menyebutkan asap daun kawung (enau) dapat menghangatkan paru-paru yang basah, dan air kelapa hijau muda dapat membersihkan paru-paru. Benarkah? Perlu diuji secara klinis dengan jujur.

Tetapi aku yakin, keinginanku untuk menghisap rokok daun kawung, begitu siuman dari pingsan akibat tilem di sungai, adalah bimbingan naluriah manusia untuk melawan rasa sesak nafas.

Tembakau, aku yakin, mengandung unsur penyakit, tetapi juga mengandung unsur obat. Untuk itu, dunia medicine modern pun telah berlaku jujur, bahwa di dalam sebuah obat terdapat efek samping yang bisa menjadi sumber penyakit, dan kebalikannya, di dalam racun, terdapat unsur yang bisa menjadi bahan dasar untuk pengobatan. Tengoklah lambang apotek: ular yang tengah melilit gelas untuk minum anggur, bukan?

Dalam ular itu terdapat bisa yang mematikan, sekaligus bisa ular itu dapat digunakan untuk bahan imunisasi. Gelas yang dililit ular itu amat ambivalen, apakah berisi madu dan anggur yang menyehatkan, atau justru berisi racun yang mematikan?

Gelas yang dililit ular itu berbentuk gelas untuk mereguk anggur atau wine. Bila overdosis minum wine, manusia akan mabuk. Tetapi bila benar takarannya, red wine maupun white wine, telah banyak ditulis orang, dapat menyehatkan tubuh, bukan?

Aku ingat, uyut (ibunya nenek) meninggal pada usia 114 tahun. Pada usia yang ke-seabad, ia masih gesit, dan masih doyan “nyisig” (menyesap tembakau) bergantian dengan “nyeupah” (mengunyah daun sirih dicampur biji pinang muda, gambir, apu, daun saga). Jalannya memang sudah bungkuk, tapi giginya tetap kuat, dan daya ingatnya masih tajam. Aku pernah bertanya kepadanya, apa enaknya makan tembakau, dan untuk apa? Jawaban yang didapat, tidak memuaskan.

Kini di hadapanku, tembakau menjadi problematis dan dilematis. Ketika digubah menjadi rokok dan dihisap, banyak orang yang terganggu oleh asapnya, membuat mereka anti kepada para aktivis penghisap candu itu. Tetapi, sekian obat-obatan terutama yang berkait dengan darah, jantung, anemia, hipertensi, dalam ingredient-nya selalu terdapat unsur “nikotinamide” yang tiada lain adalah zat yang dikonversi dari nikotin atau racun tembakau. Kalau tak percaya, silakan periksa obat-obatan macam Sakatonik Lever, Tonikum Bayer, Sangobion.

Aku bercuriga, iklan yang mengatakan “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin” yang tertera pada bungkus rokok, adalah iklan yang disponsori oleh produsen obat jantung, kanker, dan sejenisnya, supaya orang-orang Indonesia terjauh dari tembakau. Sebab bila dekat dengan tembakau seperti uyut aku, mereka cenderung sehat, sebab parasit-parasit di dalam tubuh, terbunuh oleh racun tembakau.

Sehingga di kampung-kampung ada adagium yang berbunyi, “orang yang merokok itu rentan terkena sakit paru-paru, dan orang yang tidak merokok rentan terkena penyakit rupa-rupa”.

Majalah SituSeni pada edisi-edisi ke depan, akan berusaha menurunkan laporan-laporan, atau tulisan-tulisan hasil penelitian yang sohih, yang berkisah tentang betapa rempah-rempah Nusantara macam tembakau, cengkeh, pinang, sirih, dan lain-lain, sangat berkhasiat untuk memelihara kesehatan tubuh. {}

Check Also

MENGAKRABI GELO

Oleh Sarabunis Mubarok   Ada ngalogat sastra di Lesbumi Kota Tasikmalaya pada hari sabtu 28 …

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of

Tanya Situ Seni

)
    is typing...

    Fill in the form below to send us a message.

    Send Message Cancel