Home / ARTIKEL / MENGAKRABI GELO

MENGAKRABI GELO

Oleh Sarabunis Mubarok

 

Ada ngalogat sastra di Lesbumi Kota Tasikmalaya pada hari sabtu 28 Mei 2016 jam 20.00 WIB. Sebuah kegiatan budaya digelar di Gedung PC NU Kota Tasikmalaya, Jl. Dr Soekardjo Tasikmalaya. Gratis dan terbuka untuk umum, menghadirkan peluncuran buku antologi puisi berjudul ‘Mending Gelo daripada Korupsi’ karya Gusjur Mahesa. Acara yang dibuka oleh Ketua PC NU Kota Tasikmalaya, KH. Didi Hudaya ini diisi dengan pentas baca puisi, bedah antologi dan bajigur party. Berikut catatan apresisasi saya.

 

Kalau orang gila banyak ngoceh dengan ekspresi nyeleneh, tentu saja itu tidak aneh.  Tapi kalau orang gila banyak nulis puisi, apalagi sampai terkumpul dalam antologi, bisa jadi dia adalah seorang sufi. Demikian terbersit di pikiran saya setelah mem-baca buku puisi Mending Gelo Daripada Korupsi karya Gusjur Mahesa.

Di dalamnya ada banyak yang ingin disampaikan, berpindah-pindah channel, bising sekali. Saya merasa seperti menonton televisi dan mendengarkan radio sekaligus, karena bukunya memang benar-benar gila.

Gusjur (Agus Jurig) benar-benar sedang ngajung-jurigan. Kebisingannya bukan tanpa alasan. Gelonya bukan anyar dan tanpa pengalaman. Sebagai Presiden NKRG (Negara Kesatuan Republik Gelo) yang lebih dikenal dengan Republik Gelo, tentu saja Gusjur bukan lagi nu gelo amatiran, tapi sudah naik maqam menjadi nu gelo profesional.

 

Gus,

kenapa kau selalu menyuruhku

aku bukan anak kecil

…………….

Demikian Gusjur memulai puisinya. Sederhana, unik, nyeleneh sekaligus religius-sufistik. Sebuah kegeli-sahan di akhir usia 40-an menyoal kedewasaan dan kematangan dalam bergusti. Pernyataan bahwa diri bukan lagi anak-anak dan bentuk penyadaran akan masa muda yang telah kadaluwarsa.

Lewat puisi ini sebenarnya Gusjur secara intuitif tengah memahami firman Gusti tentang usia 40 tahun (QS Al-Ahqaf ayat 15). Ada pengakuan pertobatan, cara beristigfar seorang seniman, dinyatakan dengan baris terakhir puisi ini: maaf aku, Gusti yang Agung.

Ada banyak diksi “Tuhan” dalam antologi ini dengan aneka makna. Gusjur seolah sedang mengigau dalam keadaan trans, membiarkan diri menjadi gelo karena terus-terusan berusaha mengenali Tuhan tanpa henti. Hingga pada puisi “Maaf Ya Allah”, Gusjur mengakhiri puisinya dengan kalimat: Ya Allah / sungguh / aku mencintainmu.

Pada puisi-puisi lainya Gusjur banyak menyoal dirinya sendiri. Pada puisi “Siapakah Aku”, misalnya, Gusjur seolah mempertanyakan diri sendiri. Pertanyaan tentang siapa aku, siapa kamu dan siapa dia merupakan isyarat bahwa manusia adalah bagian tak terpisahkan dari alam semesta dan sebaliknya.

Dari banyak puisinya, meski larik-lariknya jeprut dan bodor, ada upaya yang sungguh-sungguh untuk mengenali diri sendiri. Sebanding dengan puisi-puisinya  yang penuh upaya dalam mengenali Tuhan. Sebuah mahfudzat populer menyebutkan:  “Man arofa nafsahu, faqad arafa rabbahu” (Siapa yang mengenal dirinya, maka akan mengenal tuhannya).

Dengan pengucapan yang nyeleneh, lewat puisiya Gusjur juga banyak menyoal realitas sosial. Puisi-puisi tentang gelo dan orang gila termasuk juga puisi yang dijadikan judul antologi ini, berisi kritik khas orang gila yang bising, jeprut, nyinyir dan bahkan sarkas.

Puisi berjudul “Demontrasi Pohon-pohon” secara bentuk dan gaya pengucapan agak berbeda dari kebanya-kan puisi Gusjur dalam antologi ini. Ada banyak repetisi dengan rima yang teratur, rancang bangun puisinya pun lebih runut.

Meskipun puisi yang ditulis tahun 2010 ini kadar kegeloan pada bentuk penulisannya setingkat GPRS /EDGE, namun berisi kritik yang dalam terhadap realitas sosial. Gusjur dengan sangat serius mengajak pembaca untuk membuka mata lebar-lebar terhadap kerusakan lingkungan akibat keserakahan manusia. Mengajak kita untuk menyaksikan pohon-pohon dari segala arah berde-monstrasi kepada segala bentuk kewarasan.

“Mending Gelo Dari Pada Korupsi”, puisi ini benar-benar sangat emosional, berisi kejengkelan berte-gangan tinggi, seolah menyetrum syaraf-syaraf kesadaran manusia. Ditulis secara deskriprif dan repetitif, panjang dan penuh diksi umpatan berbahasa Sunda Gusjur seolah sedang mencapai klimaks dari kegeloannya.

 

Otakmu bolong hatimu kosong

Otakmu bolong hatimu kosong

Nol nol nol nol nol nooooooooooool..!!!!

 

Demikian menurut Gusjur, koruptor selain tak punya otak, juga tak punya hati, korupsi benar-benar sudah kronis di negri ini. Dan Gusjur menolaknya dengan memilih gila. Sebuah kritik keras terhadap keserakahan manusia.

Mending gelo daripada korupsi. Ungkapan perta-ruhan-perbandingan macam ini memang sudah banyak. Mending ngamen dari pada maling, kajeun kempreng tibatan maok, kajeun balangsak tinimbang babadog, dan lain-lain. Dan Gusjur memilih gila, sebuah cara membandingkan kewarasan orang gila dan orang yang mengaku waras.

Perlu keberanian besar untuk mengaku gila, hal itu hanya bisa diperoleh setelah memahami apa itu waras. Dan Gusjur menyatakan mending gelo, yang penting bahagia.

Meskipun demikian, tokh para koruptor juga lebih gila, dan kegilaanya lebih parah. Karena para koruptor umumnya selain gila harta, juga gila pangkat, gila jabatan, gila pujian, gila wanita, dan gila-gila lainnya. Kalau begitu, apakah ini berarti Gusjur memilih gila daripada lebih gila?

Gusjur tetaplah  Agus Jurig, dengan kegeloannya akan terus ngajungjurigan kita semua, sebuah upaya agar selalu bisa ngajungjurigan diri sendiri. ***

 

 

Sarabunis Mubnarok

Penyair, aktivis Sanggar Sastra Tasik (SST)

dan Komunita Azan Cipasung

Tinggal di Singaparna.

Check Also

NADA YANG MENYENDIRI

Oleh Doddi Ahmad Fauji   Membaca biodata Dedi Tarhedi, imajinasiku berke-lana ke suatu dayeuh yang …

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of

Tanya Situ Seni

)
    is typing...

    Fill in the form below to send us a message.

    Send Message Cancel