Home / Fiksi / MERAJUT MIMPI

MERAJUT MIMPI

Aku pasrah saja ketika di bawa satpam ke ruangan Pak Direktur. Mungkin ini adalah cobaan untuk melewati tahap kesuksesan. Ku yakin bahwa kebenaran akan berbicara nantinya.

 

Sepenggal kisah akhir tahun 2017 berawal dari hobi menulis di buku harian. Kebetulan aku rajin mengikuti lomba-lomba yang di adakan oleh komunitas pecinta sastra baik secara online dan offline. Walau belum pernah mendapat predikat juara tapi cita-citaku tidak pernah surut, dan tetap berkeinginan menjadi seorang penulis. Walau teman-teman banyak yang mengejek ku.

 

Mereka bahkan memandang sebelah mata kemampuan ku yang hanya jebolan Smu saja. Sebenarnya aku ingin kuliah mengambil jurusan bahasa dan sastra Indonesia. Namun apalah daya bila ekonomi Orang tuaku masih pas-pasan. Sedangkan aku mempunyai dua orang adik yang masih duduk di sekolah dasar. Terpaksa dia mengalah demi adik-adiknya. menjelang sore ketika aku pulang dari rumah saudara tanpa sengaja berpapasan dengan Irwan dan pasukannya.

 

“Ar kata teman-teman, kamu akan menuntut ilmu ke kota,” ujar Iwan penuh selidik.

 

“Inshaallah Wan, kau tahu dari mana?” tanya Arya.

 

“Ar itu bukan urusanmu, sebaiknya tidak usah deh bermimpi jadi penulis,” ejek Irwan.

 

“Apa ada yang salah Wan, bukankah memilih cita-cita itu hak semua Orang,” sahut Arya.

 

“Ar, kamukan bukan anak kampus jadi tidak pantas,” jawab Irwan ketus.

 

“Apa hubungannya Wan, menuntut ilmu itu tidak melulu kuliah,” sahut Arya.

 

“Ah bawel kamu Ar, penulis kan harus kuliah dan pintar kaya saya,” ujar Irwan.

 

“Terserah kamu deh Wan!” jawab Arya.

 

“Assalamualaikum.” Arya lalu meninggalkan Irwan dan temannya.

 

“Dasar anak kurang pendidikan,” gerutu Irwan kesal.

 

Aku memang hanya seorang pemuda lulusan Smu Negeri 1 Gombong dan berasal dari desa Lemah Duwur. Yang mempunyai cita-cita menjadi penulis terkenal. Biarlah kata-kata mereka, menjadi cambuk semangat bagiku.

 

Maka dari itu aku bertekad hijrah ke kota Bandung. Di samping mencari pekerjaan juga ada ke inginan untuk meraih cita-cita menjadi penulis hebat. Dengan mengikuti pendidikan luar sekolah yang berbasis sastra dan juga ikut seminar yang berhubungan dengan menulis. Ada kabar dari Hendrik, sahabat semasa di bangku sekolah dasar. Tentang lowongan kerja di garmen dekat tempat dia bekerja.

 

Setelah di rasa cukup dan tidak ada barang ketinggalan termasuk berkas untuk lamaran kerja. Aku lalu pamit pada orang tua untuk merantau.

 

“Pak … Bu, aku pamit mau pergi ke kota dulu.” Sambil mencium tangan kedua orang tuanya Arya lalu pergi.

 

“Iya nak….”

 

“Ar, Bapak dan Ibu cuma bisa berdoa semoga tercapai cita-citamu.”

 

“Aminn,” jawab Arya.

 

“Assalamualaikum … Pak, Bu.”

 

“Waalaikum salam, hati-hati ya Nak.”

 

Aku segera bergegas naik motor menuju terminal bus. Setelah tiba di terminal aku segera membeli tiket. Kemudian segera masuk kedalam bus jurusan Bandung.Sekitar tujuh jam akhirnya sampai di Bandung. Setelah istirah sejenak kemudian mencari alamat Hendrik sesuai dengan petunjuk dari sms yang aku terima. Kebetulan pada waktu itu temannya masuk shift dua jadi tidak bisa menjemputku di terminal. Setelah tanya sana sini akhirnya ketemu juga alamatnya. Hendrik ngontrak di jalan Hj. Alpi No.39 Sampai di gerbang aku bertanya sama peghuni kontrakan tersebut.

 

“Permisi mas, apa benar ini kontrakan Haji Allin?” tanya Arya.

 

“Ya bener dek.”

 

“Adek mau cari siapa?” Tanya si Mas.

 

“Namaku Arya, mau cari Hendrik.”

 

“Oh Arya yang dari Gombong,” sahut si Mas.

 

“Benar mas,” jawab Arya.

 

“Ini dek kuncinya, tadi sebelum berangkat hendrik berpesan kalau ada tamu yang bernama Arya dari Gombong suruh memberikan kunci ini.”

 

“Oh kalau begitu terima kasih ya mas,” ucap Arya.

 

“Iya sama-sama dek,” jawabnya.

 

Aku membuka pintu lalu masuk sambil membawa tas dan dus. Terus menuju kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi. Arya rebahan di karpet sambil dengerin musik di telpon selulernya tidak berapa lama Hendrik pulang sambil membawa nasi Padang.

 

“Assalamualaikum Arya.”

 

“Waalaikumsalam Hendrik,” Arya bergegas membuka pintu.

 

“Ar gimana kabar di kampung?” Ujar Hendrik.

 

“Alhamdulillah semua baik.”

 

“Syukur kalau begitu!” Jawab hendrik.

 

“Ar … ayo kita makan dulu?” Ajak Hendrik.

 

“Iya hen.”

 

Sesudah makan, mereka bercerita waktu dulu ketika mereka masih SD.”

 

“Ar apa kau masih ingin jadi penulis?” tanya Hendrik.

 

“Iya, makanya aku akan berjuang mewujudkan cita-citaku.” Walau kutahu semua itu tak semudah membalikan telapak tangan.

 

Fajar menyingsing teriring nyanyian burung menyambut pagi. Hidup terasa indah bila nikmat selalu di syukuri. Ini adalah hari pertama kerja di pabrik garmen. Masa percobaan tiga bulan dan selanjutnya kontrak enam bulan.

 

Sementara untuk mimpi menjadi penulis harus di kesampingkan dulu. Tapi dia tetap semangat terbukti dengan seabrek lomba yang dia ikuti. Pada suatu malam saat Aku sibuk mengetik di laptop tiba-tiba Hendrik datang mengagetkan.

 

“Ar, serius banget lihat laptopnya,” ucap Hendrik menggoda.

 

“Iya Hen lagi nulis inspirasi, takut nanti lupa,” sahut Arya.

 

“Silahkan Ar di lanjut lagi ngetiknya.” Lalu Hendrik pergi ke depan meninggalkan Arya sendirian.

 

“Siap, Hendrik.”

 

Keesokan harinya aku bangun jam empat tiga puluh pagi, langsung mandi terus wudlu dan menunaikan salat subuh. Tidak lupa melanjutkan ngetik naskah yang tertunda semalam.

 

Aku mengikuti lomba menulis novel yang di adakan oleh Kemendikbud. Setelah itu sarapan lalu pergi ketempat kerja. Sesudah sampai di PT. Masterindo Jaya Abadi aku langsung absen kemudian menuju gudang. Dan ketika mengecek data administrasi ada yang ganjil, sejumlah barang tidak sesuai dengan yang tertulis dalam data ada barang yang hilang. Aku segera melapor ke satpam dan pengawas.

 

“Pak satpam, tolong di cek kamera cctv apa ada yang ganjil?” Tanya Arya

 

“Sebentar Bapak cek Ar, itu di cctv cuma ada kamu,” ujar pk satpam

 

“Ah yang benar…. “

 

“Betul Ar,” mari ikut Bapak ke kantor untuk di mintai keterangan.

 

Aku pasrah saja ketika di bawa satpam ke ruangan Pak Direktur. Mungkin ini adalah cobaan untuk melewati tahap kesuksesan. Ku yakin bahwa kebenaran akan berbicara nantinya.

 

“Ar … baru dua bulan kerja Kamu kok sudah bikin masalah,” ujar Pak Direktur

 

“Pak Dirut itu bukan aku yang melakukan,” sahut Arya

 

“Ar, kamu jelasin di kantor polisi saja.”

 

“Baik Pak Direktur!” jawab Arya pasrah.

 

***

 

Aku di bawa ke kantor polisi setempat. Setelah di intogerasi terus langsung di masukan dalam sel tahanan sementara. Aku segera menghubungi hendrik lewat pesan singkat tentang masalah itu.

 

“Assalamualaikum Hendrik,tolong kirim file naskah saya ke alamat E-mail yang tertera di situ.”

 

“Hen,setelah itu kamu ke kantor polisi,” ucap Arya.

 

“Iya Ar,” jawab Hendrik.

 

Hendrik bergegas ke kantor polisi untuk menjenguk. Setelah izin sama polisi yang berjaga Hendrik di perbolehkan ketemu sama Arya.

 

“Hen, aku di tuduh menggelapkan barang di gudang pabrik.”

 

“Oh begitu.”

 

“Ar,untuk sementara kamu tenang dulu.”

 

“Terima kasih … Hen.”

 

Setelah beberapa minggu kemudian Hendrik memberi tahu kalau aku mendapat juara 1 menulis novel tingkat nasional.

 

“Ar bagaimana perasaanmu saat ini?” tanya Hendrik.

 

“Aku bahagia bercampur sedih,” jawab Arya.

 

“Hendrik, apa sudah ada kabar tentang berkas perkara ini?” tanya Arya

 

“Tenang Ar, sepertinya mulai ada titik pencerahan.”

 

“Hendrik, terima kasih atas segala bantuanya?” ucap Arya.

 

“Ar, nggak usah di pikirin,” sahut Hendrik.

 

Beberapa minggu kemudian setelah mencoba bersabar dan berserah diri pada-Nya. Akhirnya Pt. Masterindo Jaya Abadi mencabut tuntutannya dan minta maaf yang sebesar-besarnya kepadaku. Ternyata aku tidak bersalah dan pelakunya telah di temukan. Pak direktur berkunjung langsung ke kantor polisi sengaja untuk bertemu denganku.

 

“Ar, kami atas nama Pt. Masterindo Jaya Abadi meminta maaf atas kesalah pahaman ini.” dan kami bersedia mengganti rugi dalam bentuk finansial.

 

“Pak Direktur, aku sudah memaafkan kok,” jawab Arya.

 

“Arya, Pt. Masterindo Jaya Abadi masih sangat mengharapkanmu,” ujar Pak Direktur.

 

“Pak Direktur terima kasih atas kesempatannya, bukannya menolak tapi aku punya cita-cita lain yang harus ku perjuangkan!” jawab Arya.

 

Dan semenjak itu kumemutuskan mengundurkan diri dari Pt. Masterindo Jaya Abadi. Aku ingin serius menekuni dunia kepenulisan. dengan modal niat dan tekad yang kuat aku akan belajar. Baik dengan mengikuti seminar-seminar dan sharing antar penulis. Aku rajin membaca buku untuk meningkatkan daya kreatifitas dan menguasai banyak kosa kata. Agar nanti karyanya lebih bermutu dan berbobot. Walau sudah sering mendapat penghargaan dan juara. Aku tetap belajar dan bersemangat menulis untuk kemanfaatan.

 

Beberapa tahun kemudian akhirnya Mimpiku jadi kenyataan. Menjadi seorang penulis sekaligus mempunyai penerbitan sendiri. Aku sangat bersyukur atas semua karunia-Nya. Walau tidak bisa mengikuti pendidikan formal tapi aku mampu berprestasi lewat pendidikan luar sekolah.

 

Selama cita-cita itu baik maka perjuangkanlah, pendidikan bisa di serap darimana saja asal kita bersungguh-sungguh. Hinaan dan cacian, jadikan lah cambuk penyemangat diri. Bila kelak engkau di atas janganlah sombong bantulah orang yang memerlukan. Bersyukurlah atas semua rahmat-Nya. Mari saling berbagi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua.

 

Tamat

 

By : Slamet Riyanto (Arya)

1
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
Slamet Riyanto Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of

Tanya Situ Seni

)
    is typing...

    Fill in the form below to send us a message.

    Send Message Cancel