Home / ARTIKEL / PUISI, PANTUN, LUKISAN ABSTRAK

PUISI, PANTUN, LUKISAN ABSTRAK

Bila terus-menerus diskusi dan debat soal pantun, lama-lama semua orang jadi cakap dan cendekia dalam menulis pantun. Bagi saya, menulis pantun menjadi modal dasar untuk menulis puisi. Jangan ada anggapan, bahwa menulis puisi yang bebas itu, seakan lebih mudah dari menulis pantun yang cukup ketat dengan aturan. Menurut saya, menulis pantun bisa lebih sulit seandainya tidak terbiasa. Benar kata pepatah, bisa karena biasa.

Menulis pantun, akan memaksa seseorang harus kaya dengan kosakata, juga dengan pandangan-pandangan filosofis tentang kehidupan. Kenapa? Sebab pantun menuntunt seorang penulisnya memiliki kosakata yang kaya, dan mengerti makna kehidupan. Berpantun adalah berfilsafat, dan bukan sekedar menyusun empat baris yang terikat oleh pola rima dan ritma.

Jika ada anggapan bahwa menulis puisi kontemporer yang tidak terikat oleh berbagai aturan adalah mudah, sungguh itu pandangan dari seseorang yang berpikiran menggampangkan. Bisa jadi benar bahwa ‘asal’ berpuisi memang gampang. Namun, berpuisi yang mengandung kekuatan pesan, serta sarat dengan jalinan estetika, adalah tidak mudah. Lagi pula, cukup banyak orang yang tidak paham seperti apa, atau apa saja yang menjadi persyaratan sesuatu bisa disebut puisi.

Ada banyak konvensi (aturan) perpuisian, sekalipun puisi tesebut dinyatakan sebagai puisi kontemporer. Konvensi itu, dibesut oleh para pakar perpuisian, macam TS Elliot, Rahmat Djoko Pradopo, Herman J. Waluyo, Kris Budiman, Hasta Indrayana, dan lain-lain. Saya sendiri, membingkai konvensi puisi dengan sebutan ‘Jiwa’ dan ‘Raga’ puisi.

Ketika saya mengkaji puisi-puisi yang sekarang ini bertebaran di berbagai sarana dan media, sungguh banyak puisi yang masuk ke dalam kategori kurang berkualitas, menurut konvensi Jiwa dan Raga puisi itu.

Tapi kenapa justru makin banyak orang yang berpuisi? Jawabnya, adalah berkat adanya facebook yang memungkinkan seseorang menjadi terbiasa menulis, walaupun awalnya hanya menulis status. Sekali lagi, seperti kata pepatah, bisa karena biasa.

Karena itu, jalan yang cukup aman adalah membuat puisi yang bila disetarakan ke dallam lukisan, a akan tampak seperti lukisan abstrak. Sebab lukisan abstrak, sulit dilacak kesalahan teoretisnya: Kesalaan dalam membuat komposisi bidang, ruang, chaya, dan warna. Tapi bila seseorang diminta melukis gambar bentuk, melukis wajah orang, akan segera ketahuan seseorang itu bisa melukis atau tidak. Namun ketika diminta melukis abstrak, sangat mungkin seseorang itu tidak ketahuan bahwa ia ternyata bisa melukis.

Pada saat reformasi bergulir, dan krisis moneter menghantam, ada banyak perusahaan yang bangkrut, sekian pengusaha gulung tikar, dan PHK besar-besaran terjadi. Guna menekn rasa stres, sebagian orang menjadi penulis, sebagai sarana terapi untuk menenangkan pikiran, dan sebagian lagi menjadi pelukis.

Pada saat krisis moneter itu, harga lukisan-lukisan karya para pelukis maestro Indonesia, justru malah laris-manis, terutama lukisan karya pelukisnya yang sudah meninggal, macam Affandi atau Hendra Gunawan. Hukum pasar bicara, bila permintaan meningkat, sementara barang terbatas, maka harga barang akan naik perlahan, merangkak, lalu melambung. Lukisan karya para maetro Indonesia makin melambung ketika harga dolar mencapai Rp16.000.

Pemicu kenaikan harga lukisan adalah kaum ekspatriat, atau tenaga kerja Eropa yang digaji dengan dolar. Saat harga dolar Rp 2.000, lukisan Affandi harganya kisaran 100juta, atau setara dengan USD 50.000. Tiba-tiba harga dolar merangkap, mencapai Rp10.000. Maka dengan USD50.000 : 10.000 = USD 5.000. Maka, jika semua ekspatriat bisa membeli 1 lukisan Affandi bila punya 50.000 dolar, kini dengan jumlah yang tersebut, dapat membeli 10 lukisan Affandi yang seharga Rp100juta per lukisan.

Pada saar krisis moneter di tahun 1997 – 1999 itu, orang-orang tidak terpikir jual-beli lukisan yang harganya mencapi seratus juga itu. Orang berpikir, beli beras saja banyak yang susah. Namun tidak dengan kondisi di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, di mana banyak ekspatriat dan tenaga kerja Eropa yang dibayar dengan dolar, pada tinggal di sana.

Ketika harga lukisan maetro meningkat, ternyata ikut mendongkrak naiknya harga-harga lukisan yang lain. Kondisi lukisan yang harganya menggila itu, justru di saat krisis moneter terjadi, membuat beberapa penguasa stres, berlari jadi pelukis. Tapi mereka tidak bisa melukis, dan tidak tahu dasar-dasar melukis realis. Jalan paling aman adalah melukis aliran abstrak, supaya tidak ketahuan tidak bisa melukisnya.

Begitu juga dalam dunia perpuisian. Menulis pantun atau haiku, itu bisa diibaratkan dengan melukis bentuk, menggambar wajah manusia, sehingga menulis pantun, bisa diibaratkan dengan salah satu pintuk untuk memasuki keterampilan dasar berpuisi.

 

Check Also

MENGAKRABI GELO

Oleh Sarabunis Mubarok   Ada ngalogat sastra di Lesbumi Kota Tasikmalaya pada hari sabtu 28 …

2
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
1 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
2 Comment authors
adminSusilowati (Suzi/Sz) Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Susilowati (Suzi/Sz)
Guest
Susilowati (Suzi/Sz)

Menambah wawasan saya tentang bagaimana menulis puisi. Namun saya ingin mengetahui lebih dalam apakah arti jiwa raga puisi tersebut sama dengan unsur fisik dan batin dalam.puisi?

Tanya Situ Seni

)
    is typing...

    Fill in the form below to send us a message.

    Send Message Cancel