Home / ARTIKEL / RESONANSI PUISI PASTORAL

RESONANSI PUISI PASTORAL

Oleh Doddi Ahmad Fauji

Puisi ditulis karena ada sesuatu yang ingin dikomunikasikan oleh penulis kepada pembacanya. Sesuatu itulah yang disebut pesan. Hakikat atau inti puisi memang terletak pada message atau amanatnya.

Penyair yang bijak, bagi saya, akan memperjelas dan mempertegas pesan yang ingin disampaikannya, dan berusaha menuntun apresiator melalui pelbagai piranti bahasa yang dapat dilacak dan dicerap pembaca. Pilihan diksi, metafor atau permajasan (gaya bahasa), termasuk simbol-simbol dan tanda baca, akan ia pilih mengacu pada konvensi linguitik yang berlaku, sehingga pembaca tidak tersesat di hutan kata yang obscure.

Banyak puisi yang sulit dipahami karena penulis tak mengetahui konvensi bahasa atau tak paham esensi linguistik. Ia asal mendedahkan kata, yang terkadang sintaksisnya saja belepotan. Alhasil, puisinya itu tampak ambigu dan sulit dipahami. Bisa dikatakan, itulah puisi yang gagal secara metodis. Si penulis tersebut harus belajar ilmu linguistik yang benar supaya dapat menulis puisi dengan bernas. Apa dikata, puisi telah meminjam bahasa sebagai media ekspresi. Mereka yang berpuisi, sebaiknya mempelajari ilmu linguistik.

Heri Isnaini adalah guru sekaligus dosen bahasa dan sastra Indonesia. Ia khatam berkomunikasi tertulis dengan kaidah linguistik, dalam hal ini berpuisi. Karena itu, 106 puisi yang ia himpun dalam antologi ini, sudah sohih tatanan linguistiknya, membuat puisi-puisinya dapat diresepsi alur semantiknya, serta dinikmati pesan-pesan yang ingin disampaikannya tanpa harus berkerut kening. Guru memang selaiknya berjiwa pedagogik dan edukatif, juga ketika ia berpuisi.

Secara keseluruhan, pola perpuisian Heri Isnaini dalam antologi ini menjadi varian dari puisi modern yang kali pertama dibakukan oleh Chairil Anwar. Namun dari dua puisinya yang didedikasikan untuk penyair Sapardi Djoko Damono, serta sembilan judul puisinya yang memakai diksi “hujan”, menjadi sinyalemen bahwa Heri sedang berada pada atmosfer epigonistik terhadap penyair “Hujan Bulan Juni” dan “Sihir Hujan” itu.

Dalam dunia penciptaan, keterpengaruhan oleh pengkarya lain menjadi lajim adanya. Nirwan Dewanto pernah berujar, seseorang menjadi penyair karena ada penyair pendahulu yang dijadikan guru secara langsung maupun hanya sebagai rujukan melalui karya-karyanya yang telah menginspirasi si penyair. Namun pengkarya yang baik akan terus menjauhi keterpengaruhan yang ia sadari, dan berjuang mencari karakteristik sendiri, walau pada saat ini amat sulit mencari kebaruan, dan toh pepatah telah mengingatkan jauh-jauh hari: nothing new under sun.

Saya menangkap keterpengaruhan Heri Isnaini dari Sapardi bukan pada diksi-diksi yang digunakannya, meskipun memang terdapat banyak diksi ‘hujan’ atau diksi-diksi lain yang amat lekat dengan hujan, macam ‘gerimis’, atau ‘kabut’, ‘lebat’, ‘tempias’, dll. Keterpengaruhan utama terdapat pada gagasan ucap yang simbolik dan imajinatif. Ia hendak mengatakan “sesuatu” tapi tidak secara verbal, apalagi vulgar. Sapardi sendiri pernah berujar, terkadang sastrawan mengatakan A tapi maksudnya B, dan mari tengok puisi “Aku Ingin” yang ditulis Sapardi.

<!––nextpage––>

Aku Ingin

aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

ekilas sajak di atas bertemakan amour antara manusia berbeda jenis. Namun, dalam hemat saya, puisi di atas masuk ke dalam kategori himne, yaitu puisi persembahan terhadap sesuatu yang “asali”. Puisi ini hendak mengatakan betapa sang “hamba” mencintai “Majikan” dengan begitu mendalam, seperti kayu bakar yang menyediakan diri untuk dibakar oleh api. Majikan bagi seorang “abdul” atau hamba tiada lain adalah Sang Hyang Maha.

Nah, dalam banyak puisi, Heri juga menyatakan cinta kepada Sang Hyang Maha melalui puisi-puisi pastoral dengan meminjam lansekap dan insidensi sebagai personifikasinya, sebagai misal mari tengok puisi di bawah ini.

Osmosis

aliran itu merambah ke seluruh
darah dan sel-sel tubuh
menjelma anak sungai.

Kau di sana
sangat dekat.

2015

Kau dalam puisi di atas, mengacu kepada Prima Kausa, yaitu yang mengalirkan darah dalam seluruh sel di tubuh. Ia begitu dekat, karena memang, Ia berada dalam keseluruhan kita ketika kita berada di puncak kesadaran spiritual. Kita mendekat, Ia pun begitu dekat.

Pada puisi Sapardi dan Heri Isnaini yang dikutip-kan di atas tampaklah bahwa penyair bermaksud meng-utarakan cinta dengan bisikan dalam suasana meditatif, sebagaimana anjuran berdoa yang dipanjatkan dalam nuansa keheningan, tidak ingar-bingar apalagi berteriak-teriak sambil mencaci orang lain. Dari kesamaan itulah intertekstualitas puisi-puisi Heri Isnaini terhadap puisi-puisi Sapardi makin menemukan argumentasinya.

Gagasan ucap yang simbolik antara Sapardi dan Heri juga dapat ditemui dalam penggunaan referensi untuk memperkaya teks mereka. Misalnya memasukkan tokoh-tokoh historis atau tokoh mitologi. Pada beberapa puisi Sapardi dapat ditemui tokoh pewayangan atau kisah Nabi Nuh, Sinbad, Adam dan Hawa, dan lain-lain. Sedang pada puisi-puisi Heri dalam antologi ini disebut secara letterleg nama-nama seperti Adam, Hawa, Attar, Rumi, Khayam, burung Simurgh, dan lain-lain.

Ritus Hujan adalah kumpulan puisi pertama Heri yang diterbitkan saat usianya menginjak 32 tahun. Ada yang meyakini, usia keemasan daya jelajah kreativitas manusia pada kisaran 35 – 40 tahun. Berarti ia masih memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi stilistika perpuisiannya hingga sampai pada ciri khas Heri. Untuk sampai pada ke-khas-an puisinya itu, Heri memiliki modal akademis dan modal pergaulan intelektual. Tentu saya akan menunggu gebrakan pada buku puisi berikutnya. Semoga Heri tidak mengalami stagnasi, suatu penyakit yang sering menimpa para pengkarya.

Saya ucapkan selamat untuk Heri Isnaini atas terbitnya buku ini, dan selamat berapresiasi bagi para pembaca.

Doddi Ahmad Fauji, sastrawan Angkatan 2000 versi Korrie Layun Rampan. Mendirikan Sekolah Kewajaran Bersikap sejak 2005, dan merintis penerbitan dengan bendera SituSeni.

Check Also

Khasiat Tembakau Nusantara

Anda boleh saja anti rokok dan membenci para perokok, tetapi harus berpikir lain tentang tembakau, …

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of

Tanya Situ Seni

)
    is typing...

    Fill in the form below to send us a message.

    Send Message Cancel