Home / ARTIKEL / VIBRASI: Catatan untuk antologi puisi Dedi Tarhedi

VIBRASI: Catatan untuk antologi puisi Dedi Tarhedi

SAYA ikut membidani kelahiran tiga buku antologi puisi karya Dedi Tarhedi secara berturut-turut, dalam rentang waktu yang berdekatan. Meskipun temanya berbeda-beda, namun pada ketiga buku tersebut, terdapat kedekatan unsur ‘undak-usuk’ bahasa serta stilistika sintaksis yang digunakannya, dengan kata lain, ketiga antologi itu tidak terlalu variatif secara wadak bahasa, dan tidak ditemukan satu atu lebih judul puisi, yang melakukan loncatan-loncatan elemen estetik.

Pada antologi keempat, saya tidak ikut terlibat dalam proses penyusunannya, bahkan hingga sekarang, belum membacanya. Era marketing ‘door to door’ melalui jejaring sosial dan telekomunikasi virtual, juga permudahan penerbitan buku, membuat buku antologi puisi terbit begitu subur. Di satu sisi, tentulah itu sangat bagus. Namun di sisi yang lain, saya kehabisan waktu untuk mengamati perpuisian, juga mengikut perkembangan kepenyairan seseorang secara intensif. Tapi penerbitan antologi tunggal kelima ini, kembali saya dipercaya untuk membidaninya. Saya menemukan pergeseran-pergeseran yang lebih inklusif pada Dedi Tarhedi dalam menyikapi persoalan hidup. Ia kini tampak lebih merenung dan melakukan autokritik, tentu guna perbaikan diri, ketimbang ikut hiruk-pikuk mengomentari orang lain.

Saya ambilkan contoh puisi yang bisa mewakili penjelasan di atas, yang diberi juluk ‘Kapan Bisa Sepertimu’.

Kapan bisa sepertimu, memilih
tersenyum walau jalan berdebu.

Memilih menolak diberi
walau tak punya.
Memilih memberi ketimbang
meminta.

Kapan bisa sepertimu, memilih
diam dibanding ngawur bicara.

Memilih membaca dibanding
memaki
Memilih puisi dibanding
orasi

Kapan bisa sepertimu, selalu
memilih cinta.
Walau panas di mana-mana….

Sedangkan pada antologi sebelumnya, puisi-puisi Dedi Tarhedi merepresentasikan vitalitas dan egosentris yang cukup kental, sehingga amanat-amanat dalam puisinya lebih banyak berupa kritik atau nasihat kepada yang lain. Simak saja puisi di bawah, yang dinukil dari antologi ‘Kebun Cinta yang Terjaga’, berjudul ‘Terimalah dan Syukuri’.

Sudah kukatakan padamu bahwa semua yang
terjadi ada takaran dan timbangannya
Dan itulah takdir yang harus diterima
Kita tak bisa merubah yang sudah
tergurat dalam kitab tua
Kelahiran, kematian, dan pasangan
hidup adalah garis nasib kita
Kita tak bisa memilih dari perut ibu
siapa dilahirkan
Kita tak bisa memilih dimana dan
kapan kita dimatikan
Begitu pun kita tak bisa seenaknya
memilih dengan siapa kita dinikahkan
Dan itulah takdir kita
Batas-batas yang tak bisa kita
tembus semau kita
Oleh karena itu ikhlaskanlah
Terimalah dan nikmati saja
apa yang ada, walaupun tampak
kecil dan sederhana

Memang ada saatnya, para penyair gerah membaca keadaan, sehingga ia menggerutu, atau berteriak lantang. Tapi ada masanya juga, penyair melakukan autokritik, dan lebih banyak membaca diri, lalu bergumam. Namun baik isinya menyampaikan kritikan atau autokritik, tentulah kata-kata yang disajikannya merupakan hasil inkubasi kognitif atau permenungan spiritual.

Para penyair, saya menyakini, pada dasarnya adalah seorang filsuf, yang terus mencari kebenaran esensial secara radikal. Sekalipun berbicara tentang cinta, tentulah cinta dalam persepsi yang tulus dan lurus, yang manusiawi, yang benar menurut etika manapun, dan bukan cinta hanya untuk mengumbar syahwat duniawi. Karena itu, kata-kata yang ditulis para penyair, bisa dijadikan sebagai falsafah hidup, atau kata-kata mutiara, yang suka dikutip oleh orang lain. Dedi Tarhedi, pada antologi tunggal yang kelima ini, memperlihatkan tengah ‘hijrah batin’ menuju ke aras yang ‘suwung’ itu.

Para penyair pada dasarnya adalah mahluk yang tersesat, yang suka memerintahkan sesuatu kepada orang lain, tapi ia sendiri tidak suka mengerjakannya. Artinya, ia hanya mengeritik, padahal ia sendiri belum tentu ‘becus’ melakukannya. Tapi seiring dengan waktu, setelah berjibaku dengan warna-warni kehidupan, mungkin setelah mengalami jatuh-bangun, diterpa oleh sengat kehidupan, ia akan tiba pada alam kesadaran spirituanya. Kita lihat bagaimana puisi-pusi Rendra begitu lantang menyampaikan kritikan. Namun puisi terakhir yang ia gubah, terasa benar tengah berdialog dengan diri sendiri, dengan Tuhan-nya.

Kesadaran spritual setelah manusia memasuki usia berkepala lima, memang kerap terjadi, termasuk di kalangan penyair. Aura yang dikedepankannya kemudian lebih terasa sebagai vibrasi, sebagai getar yang menggelitik sukma.

Bandung, Juli 2018,

Doddi Ahmad Fauji

Check Also

MENGAKRABI GELO

Oleh Sarabunis Mubarok   Ada ngalogat sastra di Lesbumi Kota Tasikmalaya pada hari sabtu 28 …

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of

Tanya Situ Seni

)
    is typing...

    Fill in the form below to send us a message.

    Send Message Cancel